Menu Fordisastra
· Home
· Account Anda
· Arsip Naskah
· AvantGo
· Beritahu Teman
· Content
· Downloads
· Ensiklopedi
· Kirim Naskah
· Saran Anda
· Topics
· Yang Terbanyak

Sedang Membaca Fordisastra
There are currently, 4 guest(s) and 0 member(s) that are online.

You are Anonymous user. You can register for free by clicking here

Cari!



3 TAHUN FORDISASTRA

Selamat datang kawan.

Tak terasa 3 tahun sudah fordisastra.com online di dunia maya. 22 November 2005 didirikan situs fordisastra.com, yang bercita-cita menjadi ajang kreasi para penggiat sastra di seluruh nusantara. Ayo kita teruskan perjuangan!

Redaksi Fordisastra.com

Puisi
Reads: 133

Ketika Hendak Berguru


Posted by redaksi on Wednesday, January 13 @ 01:48:40 EST
harsandinugraha writes ": murid, guru, dan pemilik buku.

Ketika hendak berguru
banyak ajar diburu
sudah semua bisa kusimpan
agar tereja setiap nama-nama ternama
di sampul kitab.

namun ajar menyaru di berbagai bentuk :

1/
Rupa ajar di sebentuk pesan.
pada ketakziman tersampaikan
tersangkut tatap ketidaktahuan
lalu terbaca mata yang dibutakan

pesan tersampaikan
urung terindahkan
teronggok ditimpa kitab


2/
Ilmu juga menyerupai sapa
terbit dari niat berkawan
terbenam setelah kefasihan memilah prasangka

Peu haba ?
begitu kata kutakar
(berharap satu harga kudapat )
tapi ia *****a jadi sapa belaka
lalu tak dikitabkan

3/
kulihat pula rupa ajar lainnya :
mengikhlaskan waktu
ia seperti lukisan dua kepala
seorang tersenyum rela, seorang tersenyum remeh,
satu tak bernama, satu orang ternama.
warnanya hampir sama.

Kutaraja, 3 Agustus 2009

"




(Read More... Puisi | Score: 5)
Puisi
Reads: 122

Serba Salah


Posted by redaksi on Wednesday, January 13 @ 01:46:57 EST
frozenvanjava writes "

kanan di-cap fundamentalis, kiri dituduh liberal, tidak memilih antara keduanya dianggap tak punya pendirian

[]

Parijs van Java
29 Januari 2008 | 05.22 Ba'da Shubuh"




(Read More... Puisi | Score: 0)
Cerpen
Reads: 111

EYANG JARWO


Posted by redaksi on Wednesday, January 13 @ 01:46:03 EST
kajitow writes " Sorot tajam mata pemuda itu menggambarkan keruh yang penuh sesak menghuni hatinya, nafas memburu layaknya kuda perang tercipta dari ledakan emosi yang tak mungkin terbendung lagi. Sebilah parang berkilat digenggamnya erat dalam langkah tergesa menuju gerombolan yang ramai berpesta minuman. 

Seketika itu juga tawa riuh pesta tersekap kedalam barisan gemetar ketakutan tubuh mereka. Tampak jelas seorang lelaki berkalung emas pucat pasi wajahnya, saat melihat pemuda garang tersebut telah berdiri tak jauh dari hadapannya. 

Tak satupun dari mereka yang berani sedikit saja menggeser posisi dari tempatnya berada, semuanya menahan detak jantung dan hela nafas yang kali ini terasa sangat berat untuk dilakukan. Termasuk lelaki berkalung emas itu, orang yang sebelumnya menabur angin dibelakang  pemuda kokoh yang kini ada di depan matanya. 

Bukan hanya pemuda pemegang parang itu saja yang membuat tubuh mereka terasa lunglai tak bertenaga, tapi puluhan pemuda lain yang tiba-tiba menyusul dibelakangnya dengan wajah yang tak kalah buas. Akhir perjalanan hidup mereka telah tergambar jelas di pelupuk mata, semua yang hadir disitu mengenal  keberingasan lelaki ganas yang tak seorangpun pernah berani mengusiknya. Tidak ada kata damai apalagi surut mundur kebelakang bagi lelaki tangguh itu apabila tangannya telah menggenggam senjata. 

***************************             

Di dalam masjid, tampak seorang kakek tua sedang berdiri tegak layaknya tiang kokoh. Pandangan matanya menunduk kearah tempat sujud yang telah melapuk terlindas dahi tebalnya. Di tengah lelapnya manusia lain terbuai mimpi, dia tak bosan membisikkan bacaan lirih yang terucap pelan hampir tak terdengar jelas. Punggung yang mulai bungkuk itu masih sanggup berdiam dengan tenang di malam dingin menusuk tulang, meski telah cukup uzur, tak sedikitpun dia merasa lelah melakukannya. 

Hanya suara kesiur angin menerpa dedaunan dan bunyi jengkerik yang terdengar setia menemani sunyi-kudus milik kakek tua itu. Seolah dawai alam yang membawa selaksa damai bagi insan yang rindu bahasa dekat Sang Pencipta jagat raya. 

Sesekali dia terbatuk, nafas tak lagi ber-irama sebagaimana mestinya, maka setiap kali dia menghelanya sebagian udara dingin itu tersekat di kerongkongan lalu berdesakan keluar tak terkendali. Meskipun begitu tetap saja dia berdiri kokoh tak tergoyahkan, sendiri menyatukan diri dengan kehakikian. 

Malam telah bergeser beberapa jam dari angka dua belas. Detak jam dinding berpadu mesra dengan degup jantung yang entah sampai kapan mampu terus berpacu mengejar sisa-sisa hari yang dimilikinya. Buliran-buliran air bening perlahan mulai terlinang seiring gulir detik berat mendekati subuh, serupa embun sejuk diluar sana yang membasuh segala yang terserak. Isak tangis semakin terdengar keras ketika segala gambar pekat masa lalu datang membayangi, timbunan dosa hadir menghantui dan perjalanan hidup tak lagi mampu lebih lama dimiliki.                                                 ******************************             

“Kau tidak mencintaiku Rena?” Tanya Beny, sambil menyelinap kedalam pandangan penuh takut Renata. 

Malam itu langit terasa lebih sunyi dari biasanya, ruang kosong asing terbentang luas diantara mereka berdua, yang membagi jarak jelas antara cinta dan misteri keruh didalamnya. 

Gadis itu hampir-hampir tak sanggup menggerakkan bibir terkatupnya, siapa yang mampu menatap mata beringas lelaki perkasa yang belum pernah ada seorang jagoanpun yang sanggup mengalahkannya, manusia berwatak batu yang tak kenal takut. Tapi diam tidak akan menyelesaikan segalanya, harus dia ucapkan sesuatu meski itu dengan menanggung makian kotor atau tamparan keras tangan kekar Beny, seperti yang kerap kali didapatkan-nya dari puluhan lelaki kasar diluar sana. 
Dengan mencoba untuk tampak tenang semampunya akhirnya Renata berkata. 
“Sejak kapan pelacur punya cinta?” Tukasnya sambil menahan degup jantung yang kian tak terkendali. 

Dia mencoba meredamnya dengan menjauhi tatap mata Beny yang menyala dan berpaling kearah lain seolah sedang mencari tempat yang kokoh untuk berlindung. 

Seketika itu juga hening datang menyekap dari segala penjuru, gadis itu perlahan mendongakkan kepala tertunduknya kearah wajah Beny sambil berharap-harap cemas. 

Namun sesuatu yang sebelumnya tak pernah terlintas di pikiran Renata hari ini terjadi. Terlihat jelas liar mata Beny berubah menjadi redup dan berkaca-kaca, perlahan-lahan buliran-buliran bening terurai keluar dari dalamnya. Lelaki keras itu menitikkan air mata, satu hal lumrah yang hampir mustahil pernah dilakukannya. Sebongkah batu sombong tersedu menahan tangis, tidak ada keangkuhan Beny hari itu, seluruhnya kandas melebur kedalam gejolak yang jauh melampaui keperkasaan-nya. 

Serta-merta penyesalan tak terhingga menghimpit dada Renata, seharusnya dari dulu dia memahami getar tulus milik Beny, meskipun lelaki angkuh itu tak pernah mampu mengucapkan-nya. 

Tapi orang lain tetap saja tak mengerti bahwa seorang pelacur sekalipun berhak memiliki cinta, bahkan sepertinya mereka tak sedikitpun perduli dirinya dekat dengan siapa. Apa yang bisa dilakukannya ketika tangan kasar mereka memaksanya melakukan sesuatu yang sama sekali tidak disukainya, pekik merdekanya telah dibeli semenjak dia terjurumus kedalam lumpur hitam itu bertahun-tahun lamanya. 

Renata tak kuasa lagi menahan pilu yang hadir tiba-tiba memenuhi ruang hatinya, air mata mulai berlinang membasahi pipinya mewakili segenap pedih sama yang di rasakan oleh Beny saat ini. Segalanya telah terjadi tanpa sedikitpun mampu untuk dia hindari. 

Sunyipun kembali hinggap dan menyelimuti hati dua insan yang kini terlarut dalam samudera pilu tak bertepi. Kemudian sesudah senyap itu memasung kata-kata bermenit-menit lamanya, dengan nyala dendam Beny berkata. 

“Bajingan itu harus membayarnya!!!”

***********************             

Ada yang hilang bersama gelap malam ini, hangat senyum seseorang yang dulu pernah menyalakan degup liar milik kakek tua itu. Perjalanan hidup yang tak termengerti olehnya telah memapah jiwanya ke-satu jalan yang dulu sangat sulit ditempuhnya. 

Terus saja dia mengembara kemasa silam dimana sisi lain telah berakhir atau justru hari itu segalanya baru saja dimulai. Masih segar tertanam dalam dalam ingatannya, gambaran duka seorang gadis yang terbaring lunglai tak berdaya, wajah cantiknya terlihat sayu pucat pasi. Peperangan panjang tak berbuah apa-apa saat degup jantung menunggu hitungan jari, ketika nafas terbatuk tak kuasa terhela kuat lagi. 
“Sampai kapan kau akan terus begini?” Ucap gadis itu, suaranya terdengar parau tanpa tenaga. Tatap matanya yang keruh seolah belati tajam menghujam dengan keras kedalam dada siapapun yang menyaksikannya. 

“Kembalilah selagi masih sempat, demi aku." Tambahnya, 
penuh rintihan memelas diselingi nafas terbatuk miliknya. 

Hari yang menguras air mata itu telah membekaskan pedih yang teramat dalam menyayat hati. Sebuah akhiran pilu yang tak pernah diinginkan oleh pasangan manapun di seluruh jagat ini benar-benar telah terjadi. Serupa duri-duri menyengat yang menyisakan pedih tak berkesudahan dan terus menikam seiring setiap detik yang terlewati. 

Tapi cinta yang terus bergejolak di dalam hati tetap takkan mampu terpisahkan oleh apapun, bahkan dengan kematian sekalipun. Terlalu banyak liku perjalanan hidup yang telah dilalui, akan sangat per*****a bila cinta yang sudah diperjuangkan dengan bertaruhkan nyawa itu lenyap hanya karena berpisah jasad. 

Kakek tua itu kembali membuka seluruh lembaran ingatan masa lalu, mengulang segala peristiwa yang terjadi dalam imaji. Satu persatu bayangan gadis itu berkelebat, seolah benar-benar hidup dan berucap. Sehingga masih terngiang ucapan itu sampai kini, terasa baru saja didengarnya, padahal puluhan musim telah berganti, ribuan hari telah berlari, jutaan kenangan purna terlewati.                                                 **************************

Beny masih sibuk membaca teka-teki dari ucapan seseorang yang kemarin malam menemuinya. 

“Kau tidak tahu semalam Rena bersama siapa?” ucap lelaki kurus itu, sambil menempatkan setumpuk resah yang cukup kedalam hati Beny melalui tatapan mata cekungnya. 

“Singa lain di rimba kita.” Tambahnya dengan penuh rasa benci. 

Malam itu nama besar seorang Beny terserak layaknya sampah kotor tak berharga, diamnya selama ini telah diartikan sebagai tanda-tanda kelemahan oleh pihak lain yang membenci dirinya. Padahal telah sampai Beny pada batas bosan bertindak dengan kekerasan, bergumul dengan darah, menyerang dan menerjang seterunya di medan laga. 

Tapi anehnya keadaan terus saja memaksa dirinya untuk tetap mempertahankan kekuasaan yang telah bertahun-tahun lamanya diperoleh dengan penuh bertabur luka. Kali ini sudah cukup rasanya dia membiarkan polah jawara lain menginjak harga dirinya, tiba saatnya untuk kembali bangkit dan membuktikan kepada mereka gelegar keperkasaan-nya yang masih tetap menyala. 

Semakin lama Beny semakin membatu dalam diam-renungnya, hatinya terus bergejolak memaknai kata-kata panas tersebut. Merajam kelaki-lakian luhur yang belum pernah ada seorangpun yang dengan terang-terangan menghinanya. 

“Ternyata masih ada orang yang berani menabur angin di belakangku, menyentuh Renata berarti menantang diriku.” 

“Tapi apakah pantas seluruh perjalanan semu bersama Renata harus ditebus dengan peperangan besar? Bukankah selama ini memang tidak ada ikatan yang jelas antara aku dan Rena? Harus ada penjelasan untuk segala yang terlewati dari bibir Rena sendiri, akan terlihat sangat bodoh apabila aku memperjuangkan sesuatu yang tak pernah kumiliki.” 

“Ah, kenapa Rena tak juga mengerti, ada getar lain di dasar hati ini, gejolak aneh yang terus saja memaksaku untuk takluk pada pesonanya. Haruskah semuanya diwakili dengan kata-kata? Padahal setiap kali tatapan mata bertemu, segala bahasa lenyap tersapu kegugupan asing yang serta-merta hadir di lubuk hati. “ 

“Jikalaupun memang benar tidak ada gejolak yang sama di hati Rena, seharusnya anjing itu mengerti kedekatan Renata denganku telah cukup menjadi garis jelas untuk menjauhinya.” 

“Tampaknya dia memang sengaja membuat keruh, sudah tidak ada jalan lain lagi, dia harus menuai badai dari angin yang ditaburnya!” Bisik Beny dalam hati, diiringi bunyi gemeretak giginya yang beradu.                                                 ****************************             

Terus saja dia bersujud sampai basah sajadah usang itu dengan air mata tuanya. Kidung sunyi syahdu meresap begitu kuat kedalam hati di kedalaman pekatnya malam. Orang-orang mengenali lelaki lanjut usia yang penyantun tersebut sebagai penjaga masjid. Setiap orang akan selalu disapanya ramah bila bertemu dengan dirinya tanpa sedikitpun mempersoalkan jumlah usia. 

Kakek yang selalu murah senyum itu kemudian terduduk seusai sembahyang malam yang biasa dia tunaikan. Doa-doa panjang yang menguras air mata siapa saja yang mendengarnya-pun telah selesai dipanjatkan kepada Sang Halik dengan penuh rintihan. 

Terlihat jelas belang bekas tattoo di kaki dan tangannya, sewaktu tersingkap kain panjang penutup aurat itu oleh gerakan duduk bersilanya. Masyarakat setempat memanggil lelaki tua ahli ibadah itu eyang Jarwo, nama lengkapnya Benyamin Sujarwo. 

Kini sesal menggunung menghimpit dada rentanya, setiap detik yang berlalu adalah sebuah kesempatan emas untuk menebus dosa. Demi cinta Renata yang telah membuatnya kembali kejalan lurus ini, tidak boleh ada kata lelah untuk mensucikan diri.
"




(Read More... Cerpen | Score: 0)
Puisi
Reads: 96

Negeri Es


Posted by redaksi on Wednesday, January 13 @ 01:44:51 EST
dreamchaser writes "Alaskan kakimu
Jangan sampai dinginnya menusuk pembuluh darah
Ikut aku menuju suatu daerah
Yang hanya putih sejauh pandangan matamu

Kristal es berjatuhan mengusik telinga
Bak dentingan piano mengalunkan
Menarik otot tubuh untuk berdansa
Menggelitik memori tidak untuk melupakan

Jangan bangunkan aku dari mimpi
Kabut terlalu tebal menghalangi
Menenggelamkan dalam tidur
Menghipnotis bagai bayangan kabur

Terpenjara dalam negeri es
Inspirasi menggoda untuk bermain aksara
Kehidupan tak lagi beres
Dan di sana hanya ada aku dan sang pena "




(Read More... Puisi | Score: 0)
Puisi
Reads: 95

Tak Juga Jera


Posted by redaksi on Wednesday, January 13 @ 01:37:26 EST
NazrulMuncak writes "Huruf huruf kembali berguguran.
Seperti kematian yang tak dikehendaki.

i A
i A
i A
i

Andai saja dia kembali,
ku ingin dia terlahir sebagai sajak. atau,
gelombang cinta yang tumbuh dihalaman rumahku.

Lalu gerimis bermuara disetiap helai kelopak matanya.
Membentuk lagi kata kata yang pernah luruh.
Melahirkan kembali puisi yang lebih tajam dari bibirnya.
Sebuah grafiti tentang 139 hari yang telah berlalu

O, mencincang rindu seperti tak kan habis.
Hujan yang tak kunjung reda memahat luka lewat gemericik.
entah sudah liang keberapa ditikamnya.
Tapi aku tak juga jera.

Indragiri, 23032009. "




(Read More... Puisi | Score: 5)
Puisi
Reads: 106

dialog


Posted by redaksi on Wednesday, January 13 @ 01:37:00 EST
dusone writes "1.
"aku lelah", katamu. atau mungkin deru
ombak telah mengaburkan suaramu,
ditelingaku?

2.
kubaca pesanmu, pagi tadi
menempel di pintu lemari pendingin
"aku di pantai. sedang membakar diri.
membuang sisasisa sesal, kesal dan sial.
tak usah mencariku"

3.
maaf tuhan, kalau malam ini
langit menjadi tak berbintang atau bulan
sebab,
aku sedang menggambar wajah kekasihku di situ"




(Read More... Puisi | Score: 4)
Cerpen
Reads: 129

MOMENTUM


Posted by redaksi on Wednesday, January 13 @ 01:36:38 EST
pradipta writes "     Jika murid yang lain sedang mencatat penjelasan guru, berbeda denganku. Berdiri didepan kelas seorang diri, dipenuhi malu yang bertumpuk-tumpuk, tiap menit ingin segera kuakhiri. Seperti sapi jantan yang memamahbiak, menunduk sambil cengengesan tak jelas. Posisi yang asing bagiku karena ini yang pertama kali, sebuah kehormatan yang sekaligus menjengkelkan. Ya, berdiri didepan kelas.
     Ketika teman sekelas asyik dan santai mendengarkan penjelasan, menyimak pelajaran hingga bel usai berbunyi. Aku malah terlempar didepan kelas. Disini, didepan kelas aku sedang berdiri. Hal yang memalukan karena teman sekelas dapat leluasa memandang ketololanku yang tak dapat menyelesaikan soal fisika. Semua berawal dari undian yang siapapun tak dapat menebak. Kocokan nasib setiap nama murid, lebih tepatnya 40 murid, belakangan aku tau ternyata spesial tersedia 10 nama bagi seorang siswa dalam kaleng undian yang akan diuji kemapuannya setiap rabu pagi.
***
     Pukul 7.30 bel masuk berbunyi. Pemandangan siswa-siswi berjejal menuju pintu kelas hal lumrah disetiap sekolah. Hal yang membedakan adalah suasana ruang kelas IPA 1. Kelas strategis, karena bersebelahan dengan wc dan kantin bahkan berdampingan dengan tempat parkir. Keunikan kelas ini tercermin didinding belakang kelas yang menghadap papan tulis, gabus berbentuk siswa berkepala bom berdasi ujungnya berstrip 2 dan menunjukan dua jari, ”peace” kira-kira begitu maksudnya.
     Karya unik nan inspiratif itu adalah ikon kelas kami, kami menyebut kelas kami explosif, singkatan yang pendek kata mewakili tiap elemen siswa kelas IPA 1. Siapapun masuk kekelas kami dia akan disambut sang ikon explosif. Setahuku, guru-guru yang mengajar dikelas atau yang sempat melewati pintu akan memberi komentar untuk sang ikon. Dan komentar-komentar berujung pada seorang siswa ungasan, namanya Mei, sang seniman imajinatif kebanggaan kelas. Awal mengajar, guru-guru selalu tertarik mengulasnya sejenak dan siapa pembuatnya tentu selalu ada yang menyaut dengan kompak ”Meibe”. Meibe dialah Mei teman sekelas kami, sang seniman kreatif. Julukan yang makin melambungkan namanya dikelas, didapatnya saat mos, masa orientasi siswa semacam perkenalan lingkungan sekolah bagi siswa baru.
***
     Dikelas ini tepat hari Rabu jam pelajaran fisika. Aku gugup, tanganku bergetar. Keringat menyembul di punggung membasahi singlet putih yang kukenakan. Tiap detik tubuhku semakin menjadi-jadi. Tiba-tiba ”kriiiiiiiiiiiiiing . . .”, suara weker menghantam gendang telingaku disusul desahan kecewa teman-teman sekelas. Tanganku yang telah sepuluh menit mengobrak-abrik satu soal fisika menemukan ajalnya, sang empunya tak bisa menyelesaikan pertanyaan bermodalkan 10 menit. 

     Tanpa berkutik sedikit pun, aku tetap berdiri tegap masih menghadap whiteboard. Tangan kanan memegang spidol dengan ujung yang menitik dipapan putih ini. Seolah merenungi 10 menit yang telah berlalu. Begitu cepat, mungkin aku yang terlalu lamban mengerjakan soal dan walau sehari penuh pun diberi kesempatan, soal fisika yang membuatku berpikir keras tentang gelombang, kini seperti gelombang  ombak siap menelan tubuh mungilku.
     Kupaksakan menoleh kekanan, pak Anam Zakaria tersenyum menggoda. Dari balik senyum diwajahnya, jauh didalam pekat hitam dibola matanya bisa kurasakan bahwa dia kecewa. ”Kenapa soal semudah ini tak dapat kau kerjakan?” senyum bisunya kurasakan berkata demikian. Jauh disela kerutan yang bergelombang didahinya, dia berhasil memberi pelajaran seorang siswa yang tak acuh pada penganut pahan Einstein ini. Bagaimana bisa kuselesaikan sementara deman panggung telah menciutkan nyaliku berada didepan kelas. Sehari sebelumnya, aku hanya berbekal kemungkinan tak akan berada pada situasi ini. Nyatanya hari ini, sial bagiku. Sisa jam pelajaran fisika harus kulalui dengan berdiri didepan kelas persis torso di lab biologi yang menarik perhatian.
***
     Pak Anam adalah sosok guru pada umumnya, beliau ramah dan rajin. Jarang beliau absen mengajar dikelas kami dan memasuki kelas tepat waktu. Guru fisika ini sangat flamboyan dimata anak-anak Foursma, Foursma sendiri nama populer SMA kami yang tak asing lagi di seluruh penjuru pulau dewata ini dan kaum pelajar smp sangat antusias ingin melanjutkan jenjang pendidikannya di sekolah ini, apalagi label SMA kami bertaraf international. Gaya berpakaian Pak Anam yang rapi, memakai kaca mata bening. Mencerminkan sosok intelektualitas dalam dirinya sebagai pengajar disekolah favorit. Selain juga beliau pembimbing klub fisika, salah satu klub yang tak pernah absen mengikuti serta menyabet berbagai juara disetiap ajang lomba. Beliau juga murah senyum, senyummannya sungguh meneduhkan saat pelajaran  memasuki tahap mumet, dimana ada beberapa soal yang tak sanggup dipecahkan. Beliau akan menjelaskan dengan sangat jelas, bagi yang tak acuh pun akan terpana dan langsung mencatatnya. Rata-rata kesan positif jika pak Anam sedang mengajar. Yang khas dari beliau dan membedakannya dari guru lainnya ialah sebuah weker hijau dan undian. Kedua benda itu menjadi momok setiap Rabu pagi.
     Jam weker hijau yang berdering melengking nyaring menginterpretasikan  kesan lain nan kreatif dibalik sosok Pak Anam. Bagaimana dedikasi seorang guru yang berpuluh tahun mengajar, mengenal berbagai karakter anak didiknya, berbekal pengalaman mendidiknya, kini memunculkan metode yang lekat dengan sosok beliau. Weker, sisi lain dari ketegasan disiplin dalam sistem pengajaran fisika yang diterapkannya. Lalu undian berisikan 40 nama siswa sekelas memenuhi unsur keadilan tak berpihak. Peluang seperempat puluh kami kantongi jelang pelajaran fisika di Rabu pagi.
     Dua perkakas keramat Pak Anam mampu menghadirkan stimulus baru. Stimulus yang memacu gairah mempelajari fisika. Sukses besar itu jawaban nyata atas lestarinya metode weker hijau. Jika banyaknya siswa belajar serentak dikelas menyambut Pak Anam, sebanding jumlah kecemasan siswa menanti selembar gulungan undian dibacakan. Drama weker dimulai, korden hijau yang tertutup rapat menghalangi keinginan bagi siswa yang melintasi kelas kami untuk menengok siapa yang berdiri hari ini.
***
     Ini puncak penderitaan dan penyesalan bagi siswa yang mematung didepan kelas. Kepala dengan berat jenis kian bertambah sangat sulit kuangkat wajahku. Berjam-jam harus kulalui dengan memalukan. Terdengar jelas suara pak Anam yang tegas berbobot silih berganti menghibur dahaga 39 fisikawan muda yang duduk menatap kedepan kusaksikan sangat antusias menerima pelajaran pagi ini. Sesekali kucuri pandang, melirik keadaan kelas dan kembali menunduk. Aku ingin siksaan ini berakhir dan berlalu secepatnya.

     Setengah jam lewat, aku tetap tegar semampuku. Posisiku semakin merangsek kedekat pintu. Siapa yang peduli nasib anak yang semalam sibuk memikirkan kemungkinan dia tak akan maju hari ini. Malah berharap tak pernah mendapat giliran sama sekali, semua terjawab sudah. Seluruh teman sekelas, wajah mereka sangat tidak bersahabat. Menjadikanku kebalikan titik pusat dari perhatian mereka. Teman-teman sekelas layaknya melihat penjahat yang baru diketahui selama ini berada dikelas. Satu pun tak ada yang menyapaku dengan senyumannya. Mereka terlalu sibuk mencatat dan mengerjakan latihan soal. Kecuali sang ikon kelas, jari telunjuk dan tengah membentuk tanda peace sedikit meredam gemuruh penat didalam kepalaku.
     Siksaan fisik menunjukkan sinyal berdenyut di sekujur tubuh. Degup-degup jantung bergerak lurus tak beraturan berfungsi jadi pompa, menjalarkan morse lelah mengikuti pembuluh nadi. Kaki mulai pegal menopang berat tubuh. Apa boleh buat, jam istirahat masih lama. Pilihan alternatif *****a berusaha menyerap suara komat-kamit teori fisika yang terdengar makin luntur, sesekali menggetar-getarkan lutut sembari  menekukkan satu lutut 10-15 º secara bergantian.
     Makin sering kupikirkan bel istirahat berbunyi disela kebosanan berdiri, pertanyaan aneh muncul semiotomatis, apakah begini terus-terusan? Berkali-kali sudah meregangkan tubuh dengan menghela nafas, menekuk-nekuk siku dibelakang pinggang, mengepalkan telapak tangan, berkedip-kedip tak wajar, menggoyangkan pundak, meliuk pelan kekanan dan kekiri, tetap belum membunuh kebosanan. Malah sulur kebosanan merambat, tanpa ampun menggulung kepercayaan diriku yang sudah hangus tersiksa api kesabaran.
     Memang berada didepan kelas memposisikan kejengkelan berlebih bagiku, membuat paham anyar sekaligus usang bermekaran dibalik tubuh setengah basahku. Bagaimana nanti jam pelajaran usai, apa yang akan kulakukan untuk kembali ketempat duduk. Bisakah ku berjalan dengan menganggap aku memang lalai hari ini. Lalai memecahkan soal fisika sehingga aku salah menjawab atau berkilah bahwa sebenarnya aku hampir benar menjawab hanya saja rumus gelombang yang kupakai terbalik seharusnya tranversal tapi...ah kacau aku benar-benar kacau didepan,begitukah? Beban pikiran berhasil melemahkanku.
***
     Ketidaksengajaan merupakan setetes kemujuran berdiri di depan kelas, rasa malu yang menjinakkan wajah sehingga menunduk menuntun mata menemukan sebuah meja. Kusorot meja, mataku tertuju pada sesosok gadis, dia sibuk menghadap kearah catatannya, telinganya terpasang siaga menangkap hal penting yang harus dicatatnya. Terkadang hal penting yang mestinya dicatat berlalu cepat melewati daun telinganya, dia menoleh kebelakang memutar tubuhnya mendekati 180º. Berusaha mempertegas kerancuannya, dia mengusik konsentrasi Yuli, gadis yang duduk sebaris dibelakangnya. Sekali-dua kali mungkin bisa ditoleril oleh Yuli, yang terjadi malahan terasa mengganggu juga konsentrasinya. Iseng akhirnya ku bersuara datar mengulang irama pak Anam dan tanpa memerhatikan guruku itu, aku tertular ikut komat-kamit bak backing vokal. Manik, nama gadis yang menoleh kebelakang jika tak jelas mendengar, detik itu menyimak pengulangan gratis tanpa pamrihku.
     Kejadian serba kebetulan ini membantuku tetap bertahan dari endapan perasaan bodoh semenjak namaku terbaca dari nomor absen yang tergulung di kaleng undian. Paling tidak aku sebisa mungkin tidak membisu hingga akhir pelajaran fisika. Selanjutnya, aku membantu Manik mempertegas suara-suara berbau fisika yang silih berganti disalin kebuku catatannya, walau raut wajah gadis ini menampakakn kesan bahwa dia tak membutuhkan bantuan siswa yang berdiri didepan kelas, kebodohanku ditelanjangi beberapa baris soal fisika didepan kelas.
     ”Teett...teeeeettt......teett”, aku terkejut.
     Tubuhku mendesing, seumpama telah terlelap dan dibangunkan paksa. Riak-riak kecil perlahan bergema menjelma suara gaduh diselingi suara kaki meja menggesek tehel putih seperti yang kuinjak selama 2 jam pelajaran. Derap langkah siswa tumpah disekitar ruang kelas kami.

     ”Momentum yang kutunggu datang juga”, bisikku dalam hati. "




(Read More... Cerpen | 11926 bytes more | Score: 0)
Puisi
Reads: 150

Bulan Sisik Ikan


Posted by redaksi on Wednesday, January 13 @ 01:34:48 EST
abimardha writes "

mengentara jauh di timur balkon sunyi,
terpencil di busur malam
sepotong sisik ikan—yang ternyata bulan
mengumandangkan shalawat diam
menyusuri para-para kelam



Surakarta, 2006
"




(Read More... Puisi | Score: 4)
Puisi
Reads: 98

Rihlah Imani I


Posted by redaksi on Wednesday, January 13 @ 01:34:24 EST
herisuanto writes "
Rihlah Imani I

Rihlah ini segera akan kumulai
tak bisa ditunda lagi
penyakit dalam hatiku semakin akut
air mata sudah lama mengering
tangis tak tersisa walau hanya isak
maka aku rindu berlinang air mata
sungguh aku kangen menangis dalam hening

Malam ini aku pandangi rembulan
Menjelang fajar kubasuh wajah dan tangan
sedikit do'a dan harapan menyeruak dalam sujud
esok pagi
bila perjalanan ini segera kumulai
aku ingin melihat Tuhan
dalam iman
dalam ihsan

Cairo, Senin 14 Juli 2008
Pukul 00.46 "




(Read More... Puisi | Score: 0)
Cerpen
Reads: 104

Izukalizu


Posted by redaksi on Wednesday, January 13 @ 01:34:03 EST
bayu200687 writes "Apa saja yang aku kabarkan padamu, lewat puisi, lewati cahaya kunang-kunang, maka itu mungkin adalah sebuah frasa yg hanyalah frasa. Atau bisa jadi kau yang memberinya makna. Hanya saja, aku berpikir, tak ada yang perlu memaknai tiaptiap huruf, kata, ataupun sepenggal resah. Meski kadang aku ingin.  

Tapi tiap imaji yang tercipta, menyeruak tibatiba, hanyalah sesaat yang mungkin saja abadi, namun kelak tetap saja akan retak. Seperti ketika aku bermain begitu riang dengan menghamburkan katakata pada berlembarlembar kertas, menghabiskan waktu yang semakin tak terasa melewatiku begitu saja. Atau seperti ketika aku terpaksa terpekur, merenungi makna dari tiap kata yang hampir saja tercipta namun tak pernah ada kecuali sekedar bermain saja dalam labirin yang sengaja kuciptakan.
 

seperti anak kecil kehilangan ibunya. Seperti negeri ini kehilangan hijaunya. Seperti daun kuning mencium bumi. Seperti aku merindukan bumi juga. Bumi yang mana…
 

Waktu pun menjalani kehidupannya seperti tergesa. Agar tak ada yang terlambat sampai ke sekolah, kantor, dan tempat sampah. Aku, engkau, dan juga seisi bumi,kadang, lupa. Atau melupakan. Atau purapura lupa. Atau tak peduli. ah…
 

Ada hujan bulan agustus, ada pohon kelapa di pesawat garuda, ada laron kasmaran pada mati, ada pula anjing yg meratapi gerimis logam dan bulan sabit di atas kuburan. Apa yang kau tangkap dari frasafrasa itu? Tak ada. Kecuali engkau merasa terlalu jenius hingga meski mencaricari misteri di balik itu semua. Seperti main petak umpet atau menyusun puzzle. Bisa saja itu hanyalah potongan yg tercecer dari ribuan bahkan jutaan imajinasi. Bisa saja itu anakanak kata yg tersesat dan sengaja tak ingin pulang. Bisa saja itu mantra untuk membuat orang yang mendengar dan membacanya sakit jiwa. Ya…bahkan tiap huruf menyimpan misterinya sendiri. izukalizu.
 

Bisa saja ilham tak datang kali ini. Maka yang kuserahkan pada guru sastra tentu saja selembar kertas bertuliskan nama dan nomor absent saja. Atau untuk menghindari kekacauan yang bukan pada tempatnya, bisa saja ku tulis ‘ilham sakit, ia tak bisa datang’. Biar saja senja memerah, biar saja gugur mahoni tiap kemarau, biar saja kayukayu hutan menjadi alas makan, biar saja setiap orang datang dan pergi, biar saja revolusi terjadi tiap hari. Biar aku mencintai…
 

Gelas bekas teh aku tuang air putih. Warnanya jadi kekuningan. Seperti warna logam, seperti gerimis. Dan hujan menulis haikunya sendiri.
 

Aku ingat aroma gerimis, tanah, dan sawah. Lalu aku juga ingat aroma sampah tiap kali berangkat kerja. Tapi yg paling kurindukan tentunya aroma senja di lapangan. Entah kenapa. Aroma yang sangat akrab, meski tiap kali datang tak pernah ku kenal. Kadang aroma tawa bocahbocah desa, aroma petir dan kilat yang menyapa mata, aroma asap jerami dan ubi kayu, aroma rumput, bola, dan tanah becek. Saat itu, saat aku kadang tak ingin melewatkan senja. Bersama mereka. Bersama aromaaroma itu. Bersama aroma rindu…


Uh…senja memang senantiasa menakjubkan… namun tetap saja aku, dan engkau tak bisa berharap setiap detik adalah senja. Setiap saat adalah remangremang.

http://rumahdanmimpi.blogspot.com/2009/07/rumah-impian-izukalizu.html
"




(Read More... Cerpen | Score: 0)
Download Terbanyak
· 1: Antologi Puisi Fordisastra

Tajuk Serta Merta

Esai Sastra
[ Esai Sastra ]

·Panderman Hill
·Alamat media Cetak
·Fakta Manfaat- Mudharat Pilkada Langsung
·Metafora Birahi Laut Dino Umahuk*
·Teolog- Seniman, Aktor Pencerahan Budaya
·Komunitas dan Blog Sastra dalam Ruang Imajiner
·Peta Bahasa-Budaya Lampung ~ Esai Udo Z. Karzi
·Kembali Ke Titah (Pengantar Buku: Dino Umahuk, Metafora Birahi Laut)
·SASTRA PEMBEBAS MASYARAKAT

Kategori Artikel
There isn't content right now for this block.

Login
Nickname

Password

Don't have an account yet? You can create one. As a registered user you have some advantages like theme manager, comments configuration and post comments with your name.

Artikel Terhangat
There isn't a Biggest Story for Today, yet.

Artikel Terdahulu
Monday, October 05
· Panderman Hill
· matinya sang penyair
· kebahagiaan seorang pengangguran
· Tuhan di Ujung Telunjuk
· Ode Merak
Saturday, August 01
· Memoar 27 Desember 2008
· Silsilah kesalahan
· Perindu
· KEMANA RINDU DIALAMATKAN ?
· Batu Pun Bisa Berlubang

Older Articles

Ensiklopedia
· Sastrawan Indonesia



Hak Cipta pada Penulis, jika anda akan mengutip silakan hubungi penulisnya dan menyebutkan sumber: fordisastra.com
PHP-Nuke Copyright © 2005 by Francisco Burzi. This is free software, and you may redistribute it under the GPL. PHP-Nuke comes with absolutely no warranty, for details, see the license.
Page Generation: 0.53 Seconds