kajitow writes " Sorot
tajam mata pemuda itu menggambarkan keruh yang penuh sesak menghuni hatinya,
nafas memburu layaknya kuda perang tercipta dari ledakan emosi yang tak mungkin
terbendung lagi. Sebilah parang berkilat digenggamnya erat dalam langkah tergesa
menuju gerombolan yang ramai berpesta minuman.
Seketika itu juga tawa riuh
pesta tersekap kedalam barisan gemetar ketakutan tubuh mereka. Tampak jelas
seorang lelaki berkalung emas pucat pasi wajahnya, saat melihat pemuda garang
tersebut telah berdiri tak jauh dari hadapannya.
Tak
satupun dari mereka yang berani sedikit saja menggeser posisi dari tempatnya
berada, semuanya menahan detak jantung dan hela nafas yang kali ini terasa
sangat berat untuk dilakukan. Termasuk lelaki berkalung emas itu, orang yang
sebelumnya menabur angin dibelakang
pemuda kokoh yang kini ada di depan matanya.
Bukan hanya pemuda pemegang
parang itu saja yang membuat tubuh mereka terasa lunglai tak bertenaga, tapi
puluhan pemuda lain yang tiba-tiba menyusul dibelakangnya dengan wajah yang tak
kalah buas. Akhir perjalanan hidup mereka telah tergambar jelas di pelupuk
mata, semua yang hadir disitu mengenal
keberingasan lelaki ganas yang tak seorangpun pernah berani mengusiknya.
Tidak ada kata damai apalagi surut mundur kebelakang bagi lelaki tangguh itu
apabila tangannya telah menggenggam senjata.
***************************
Di dalam masjid, tampak seorang kakek tua sedang berdiri
tegak layaknya tiang kokoh. Pandangan matanya menunduk kearah tempat sujud yang
telah melapuk terlindas dahi tebalnya. Di tengah lelapnya manusia lain terbuai
mimpi, dia tak bosan membisikkan bacaan lirih yang terucap pelan hampir tak
terdengar jelas. Punggung yang mulai bungkuk itu masih sanggup berdiam dengan
tenang di malam dingin menusuk tulang, meski telah cukup uzur, tak sedikitpun
dia merasa lelah melakukannya.
Hanya suara kesiur angin menerpa dedaunan dan
bunyi jengkerik yang terdengar setia menemani sunyi-kudus milik kakek tua itu.
Seolah dawai alam yang membawa selaksa damai bagi insan yang rindu bahasa dekat
Sang Pencipta jagat raya.
Sesekali
dia terbatuk, nafas tak lagi ber-irama sebagaimana mestinya, maka setiap kali
dia menghelanya sebagian udara dingin itu tersekat di kerongkongan lalu
berdesakan keluar tak terkendali. Meskipun begitu tetap saja dia berdiri kokoh
tak tergoyahkan, sendiri menyatukan diri dengan kehakikian.
Malam telah
bergeser beberapa jam dari angka dua belas. Detak jam dinding berpadu mesra
dengan degup jantung yang entah sampai kapan mampu terus berpacu mengejar
sisa-sisa hari yang dimilikinya. Buliran-buliran air bening perlahan mulai
terlinang seiring gulir detik berat mendekati subuh, serupa embun sejuk diluar
sana yang membasuh segala yang terserak. Isak tangis semakin terdengar keras
ketika segala gambar pekat masa lalu datang membayangi, timbunan dosa hadir
menghantui dan perjalanan hidup tak lagi mampu lebih lama dimiliki.
******************************
“Kau tidak mencintaiku Rena?” Tanya Beny, sambil
menyelinap kedalam pandangan penuh takut Renata.
Malam
itu langit terasa lebih sunyi dari biasanya, ruang kosong asing terbentang luas
diantara mereka berdua, yang membagi jarak jelas antara cinta dan misteri keruh
didalamnya.
Gadis itu hampir-hampir tak sanggup menggerakkan bibir terkatupnya,
siapa yang mampu menatap mata beringas lelaki perkasa yang belum pernah ada
seorang jagoanpun yang sanggup mengalahkannya, manusia berwatak batu yang tak
kenal takut. Tapi diam tidak akan menyelesaikan segalanya, harus dia ucapkan
sesuatu meski itu dengan menanggung makian kotor atau tamparan keras tangan
kekar Beny, seperti yang kerap kali didapatkan-nya dari puluhan lelaki kasar
diluar sana.
Dengan
mencoba untuk tampak tenang semampunya akhirnya Renata berkata.
“Sejak
kapan pelacur punya cinta?” Tukasnya sambil menahan degup jantung yang kian tak
terkendali.
Dia
mencoba meredamnya dengan menjauhi tatap mata Beny yang menyala dan berpaling
kearah lain seolah sedang mencari tempat yang kokoh untuk berlindung.
Seketika
itu juga hening datang menyekap dari segala penjuru, gadis itu perlahan
mendongakkan kepala tertunduknya kearah wajah Beny sambil berharap-harap cemas.
Namun
sesuatu yang sebelumnya tak pernah terlintas di pikiran Renata hari ini
terjadi. Terlihat jelas liar mata Beny berubah menjadi redup dan berkaca-kaca,
perlahan-lahan buliran-buliran bening terurai keluar dari dalamnya. Lelaki
keras itu menitikkan air mata, satu hal lumrah yang hampir mustahil pernah
dilakukannya. Sebongkah batu sombong tersedu menahan tangis, tidak ada keangkuhan
Beny hari itu, seluruhnya kandas melebur kedalam gejolak yang jauh melampaui
keperkasaan-nya.
Serta-merta
penyesalan tak terhingga menghimpit dada Renata, seharusnya dari dulu dia
memahami getar tulus milik Beny, meskipun lelaki angkuh itu tak pernah mampu mengucapkan-nya.
Tapi orang lain tetap saja tak mengerti bahwa seorang pelacur sekalipun berhak
memiliki cinta, bahkan sepertinya mereka tak sedikitpun perduli dirinya dekat
dengan siapa. Apa yang bisa dilakukannya ketika tangan kasar mereka memaksanya
melakukan sesuatu yang sama sekali tidak disukainya, pekik merdekanya telah
dibeli semenjak dia terjurumus kedalam lumpur hitam itu bertahun-tahun lamanya.
Renata tak kuasa lagi menahan pilu yang hadir tiba-tiba memenuhi ruang hatinya,
air mata mulai berlinang membasahi pipinya mewakili segenap pedih sama yang di
rasakan oleh Beny saat ini. Segalanya telah terjadi tanpa sedikitpun mampu
untuk dia hindari.
Sunyipun
kembali hinggap dan menyelimuti hati dua insan yang kini terlarut dalam samudera
pilu tak bertepi. Kemudian sesudah senyap itu memasung kata-kata bermenit-menit
lamanya, dengan nyala dendam Beny berkata.
“Bajingan
itu harus membayarnya!!!”
***********************
Ada yang hilang bersama gelap malam ini, hangat senyum
seseorang yang dulu pernah menyalakan degup liar milik kakek tua itu.
Perjalanan hidup yang tak termengerti olehnya telah memapah jiwanya ke-satu
jalan yang dulu sangat sulit ditempuhnya.
Terus
saja dia mengembara kemasa silam dimana sisi lain telah berakhir atau justru hari
itu segalanya baru saja dimulai. Masih segar tertanam dalam dalam ingatannya,
gambaran duka seorang gadis yang terbaring lunglai tak berdaya, wajah cantiknya
terlihat sayu pucat pasi. Peperangan panjang tak berbuah apa-apa saat degup
jantung menunggu hitungan jari, ketika nafas terbatuk tak kuasa terhela kuat
lagi.
“Sampai
kapan kau akan terus begini?” Ucap gadis itu, suaranya terdengar parau tanpa
tenaga. Tatap matanya yang keruh seolah belati tajam menghujam dengan keras
kedalam dada siapapun yang menyaksikannya.
“Kembalilah
selagi masih sempat, demi aku." Tambahnya,
penuh rintihan memelas diselingi
nafas terbatuk miliknya.
Hari
yang menguras air mata itu telah membekaskan pedih yang teramat dalam menyayat
hati. Sebuah akhiran pilu yang tak pernah diinginkan oleh pasangan manapun di
seluruh jagat ini benar-benar telah terjadi. Serupa duri-duri menyengat yang
menyisakan pedih tak berkesudahan dan terus menikam seiring setiap detik yang
terlewati.
Tapi cinta yang terus bergejolak di dalam hati tetap takkan mampu
terpisahkan oleh apapun, bahkan dengan kematian sekalipun. Terlalu banyak liku
perjalanan hidup yang telah dilalui, akan sangat per*****a bila cinta yang sudah
diperjuangkan dengan bertaruhkan nyawa itu lenyap hanya karena berpisah jasad.
Kakek
tua itu kembali membuka seluruh lembaran ingatan masa lalu, mengulang segala
peristiwa yang terjadi dalam imaji. Satu persatu bayangan gadis itu berkelebat,
seolah benar-benar hidup dan berucap. Sehingga masih terngiang ucapan itu
sampai kini, terasa baru saja didengarnya, padahal puluhan musim telah
berganti, ribuan hari telah berlari, jutaan kenangan purna terlewati.
**************************
Beny masih sibuk membaca teka-teki dari ucapan seseorang
yang kemarin malam menemuinya.
“Kau
tidak tahu semalam Rena bersama siapa?” ucap lelaki kurus itu, sambil
menempatkan setumpuk resah yang cukup kedalam hati Beny melalui tatapan mata
cekungnya.
“Singa
lain di rimba kita.” Tambahnya dengan penuh rasa benci.
Malam
itu nama besar seorang Beny terserak layaknya sampah kotor tak berharga,
diamnya selama ini telah diartikan sebagai tanda-tanda kelemahan oleh pihak
lain yang membenci dirinya. Padahal telah sampai Beny pada batas bosan
bertindak dengan kekerasan, bergumul dengan darah, menyerang dan menerjang
seterunya di medan laga.
Tapi anehnya keadaan terus saja memaksa dirinya untuk
tetap mempertahankan kekuasaan yang telah bertahun-tahun lamanya diperoleh
dengan penuh bertabur luka. Kali ini sudah cukup rasanya dia membiarkan polah
jawara lain menginjak harga dirinya, tiba saatnya untuk kembali bangkit dan
membuktikan kepada mereka gelegar keperkasaan-nya yang masih tetap menyala.
Semakin
lama Beny semakin membatu dalam diam-renungnya, hatinya terus bergejolak
memaknai kata-kata panas tersebut. Merajam kelaki-lakian luhur yang belum
pernah ada seorangpun yang dengan terang-terangan menghinanya.
“Ternyata
masih ada orang yang berani menabur angin di belakangku, menyentuh Renata
berarti menantang diriku.”
“Tapi
apakah pantas seluruh perjalanan semu bersama Renata harus ditebus dengan
peperangan besar? Bukankah selama ini memang tidak ada ikatan yang jelas antara
aku dan Rena? Harus ada penjelasan untuk segala yang terlewati dari bibir Rena
sendiri, akan terlihat sangat bodoh apabila aku memperjuangkan sesuatu yang tak
pernah kumiliki.”
“Ah,
kenapa Rena tak juga mengerti, ada getar lain di dasar hati ini, gejolak aneh
yang terus saja memaksaku untuk takluk pada pesonanya. Haruskah semuanya
diwakili dengan kata-kata? Padahal setiap kali tatapan mata bertemu, segala
bahasa lenyap tersapu kegugupan asing yang serta-merta hadir di lubuk hati. “
“Jikalaupun
memang benar tidak ada gejolak yang sama di hati Rena, seharusnya anjing itu
mengerti kedekatan Renata denganku telah cukup menjadi garis jelas untuk
menjauhinya.”
“Tampaknya
dia memang sengaja membuat keruh, sudah tidak ada jalan lain lagi, dia harus
menuai badai dari angin yang ditaburnya!”
Bisik
Beny dalam hati, diiringi bunyi gemeretak giginya yang beradu.
****************************
Terus saja dia bersujud sampai basah sajadah usang itu
dengan air mata tuanya. Kidung sunyi syahdu meresap begitu kuat kedalam hati di
kedalaman pekatnya malam. Orang-orang mengenali lelaki lanjut usia yang
penyantun tersebut sebagai penjaga masjid. Setiap orang akan selalu disapanya
ramah bila bertemu dengan dirinya tanpa sedikitpun mempersoalkan jumlah usia.
Kakek
yang selalu murah senyum itu kemudian terduduk seusai sembahyang malam yang
biasa dia tunaikan. Doa-doa panjang yang menguras air mata siapa saja yang
mendengarnya-pun telah selesai dipanjatkan kepada Sang Halik dengan penuh
rintihan.
Terlihat jelas belang bekas tattoo di kaki dan tangannya, sewaktu
tersingkap kain panjang penutup aurat itu oleh gerakan duduk bersilanya.
Masyarakat setempat memanggil lelaki tua ahli ibadah itu eyang Jarwo, nama
lengkapnya Benyamin Sujarwo.
Kini sesal menggunung
menghimpit dada rentanya, setiap detik yang berlalu adalah sebuah kesempatan
emas untuk menebus dosa. Demi cinta Renata yang telah membuatnya kembali
kejalan lurus ini, tidak boleh ada kata lelah untuk mensucikan diri.
"