 |
| Sedang Membaca Fordisastra |
There are currently, 13 guest(s) and 1 member(s) that are online.
You are Anonymous user. You can register for free by clicking here |
|
 |
|
|
 |
SELAMAT DATANG DI JAGAD SASTRA CYBER
Selamat datang kawan.
Fordisastra.com online di dunia maya. 22 November 2005 didirikan situs fordisastra.com, yang bercita-cita menjadi
ajang kreasi para penggiat sastra di seluruh nusantara. Ayo kita teruskan perjuangan!
Redaksi Fordisastra.com |
BAGI TEMAN YANG KIRIM PUISI ANTOLOGI FORDISASTRA
Puisi-puisi masih dikompilasi. Tunggu kabar berikutnya.
Salam,
Redaksi Fordisastra |

Reads: 958 |
DUA SAJAK AMAL BAYU RAMDHANA Posted by redaksi-4 on Saturday, June 25 @ 18:44:50 PDT
LELAKI KUPU-KUPU
/1/ Dia memang selalu nomor satu kalau sudah menyuratkan duka: lelaki kupu-kupu tanpa peluh, tanpa bercak darah di pelepah jubahnya. Apakah itu sebab asmara, penantian yang terkulai, maupun rindu si tukang jagal; lelaki kupu-kupu tanpa peluh tanpa bercak darah tanpa ikat kepala itu selalu siap menangkap, “Kalau kau tidak bisa berharap, biar aku yang menjadikannya genap.”
Dan ketika mengantarkan duka, selalu saja hatinya tidak pernah bercabang: lelaki kupu-kupu bernasib belang yang sebenarnya sangat ingin pulang kepada ilalang. Karena hantu sekelit waktu, rasa asin masa lalu, ataupun jadwal-jadwal yang dipaku; lelaki kupu-kupu itu hanya tahu melaju. Tanpa lampu, tanpa nama jalan. “Tidak akan kusengaja sebuah nama jalan yang justru menjadikanku ketakutan.”
: Dulu dia sebiji kepompong yang terjuntai (antara khawatir dan percaya) di siang bolong. Tidak suka meributkan apakah lahir atau tergelincir di suatu pagi yang hampir. Tidak mengenal sapa matahari atau suara manja anak-anak bunga. Dulu dia hanya seselip benda dalam selongsong antara mirip dan niscaya; antara bohong dan gosongnya suatu peristiwa. Di depan biji matanya.
/2/ Jika hari ini dilewatinya sebuah roman, telah diingkarinya judul atau nama pengeran. Dia juga tidak tergesa-gesa hanya karena merasa telah terpental dari sebuah interval yang mereka kenal; berkhayal tentang kekal. Dia tahu ajal, tahu gelepar. Dan mengental. Dia lelaki kupu-kupu di luar jendela yang tidak pernah singgah karena godaan selembar kalender meja bergambar wanita berbusana nyala. “Aku lebih pandai dari permulaan.”
Dan kepadanya ada yang lebih diperkenankan, tetapi selalu saja bukan yang taman: lelaki kupu-kupu berwarna perawan yang sebenarnya letih mengharamkan semua bagian. Karena terjebak sebuah babak, ihwal yang pelan menguak, ataupun amisnya akhir sajak; lelaki kupu-kupu itu tetap harus terus berkelebat. Tampak bisu, tampak hampir sekarat. “Selembar kabar jauh ini kubawa utuh untuk kedua matamu, dan aku mendekapnya erat.”
: Dari yang dulu dia sungguh sangat mau menjadi lagu. Lalu masuk di buku beludru. Tidak perlu ada yang susah menyanyikannya. Tidak usah ada lidah yang patah ketika menghapalnya. Tidak ada datang dan pergi tetapi membenci ketika kembali. Dari yang dulu dia hanya ingin mengintip dan berkedip di antara yang lindap dan yang sirap; di antara lolong dan kosong sisa suaranya. Di dalam kutuk nisbi biji dadunya.
(Aku hanya mampu menatap ketika sepasang sayapnya menancap di atap.)
Bekasi, April-Mei, 2009 Amal Bayu Ramdhana
(Read More... Puisi | 5023 bytes more | Score: 4.5) |

Reads: 718 |
Panggung Posted by redaksi-4 on Wednesday, June 22 @ 17:01:15 PDT
janoary writes "
Aku bertanya padamu. Aku ingin tahu darimu. Menurutmu, untuk apa
kau melakukan semua ini? Untuk apa kita melakukan semua ini? Akan kukatakan
padamu apa yang baru saja datang padaku. Kita melakukan semua ini karena dunia
ini menyedihkan, penuh penderitaan. Kita melakukan semua ini karena kita tahu.
Dan, semua orang pun tahu, entah sampai menyakini yang mereka ketahui atau
sekadar hanya mengetahui. Tapi, bagaimanapun juga, dunia ini menyedihkan. Itu
menurutku, mengapa kita melakukan semua ini.
Ada beberapa hal, walau mungkin terkesan sangat dangkal dan
terjadi dalam waktu yang sangat singkat, yang membuat manusia itu sejenak
keluar dari dunia yang menyedihkan ini. Salah satunya adalah kekaguman. Ya,
kekaguman pada mimpi. Tidakkah kau lihat tatapan mereka tadi, sesaat setelah
kau mengeluarkan kelinci dari topi? Itu tipuan lama tapi tetap mereka suka.
"
(Read More... Cerpen | 10102 bytes more | Score: 0) |

Reads: 984 |
DUA SAJAK RANGGA UMARA Posted by redaksi-4 on Thursday, June 16 @ 05:44:52 PDT
Pulanglah... Aku Tak Ingin Kau Terluka Pulanglah Tempat ini terlalu kejam untuk kau singgahi kamar ini terlalu suram untuk kau rebahi Pulanglah Biar kurawat luka ini sendiri Aku tak ingin kau terluka percayalah Aku takkan lelah membawa wajahmu Pada ujung kematian sekali pun Biarkan aku pergi Dengan tajam tangismu yang menusuk jantungku hingga luka Kutuklah aku biar mati lebih cepat dari tawa yang akan kau lahirkan Aku ingin melihat kau menangis untukku sekali lagi, di saat kau taburkan bunga-bunga di batang nisanku Setelah itu, tak kan lagi ada tawa yang kau sangsikan. Kekasihku, Mengapa kau tak datang lebih cepat Dari tangis yang kau pendam diam-diam di sudut matamu? Demi cinta, terlalu banyak airmata akan tercipta Aku hanya ingin kau tertawa Aku tak ingin kau terluka Pulanglah
30 Nov 2010
(Read More... Puisi | 2000 bytes more | Score: 0) |

Reads: 774 |
EMPAT SAJAK NANOQ DA KANSAS Posted by redaksi-4 on Saturday, June 04 @ 19:53:39 PDT
berjalan-jalan di ibukota kabupaten
di bawah monumen adipura kencana ada yang memotret kita dan dengan gembira menertawai mata dusunku
berapa harga keindahan ini? – aku terkesima segera engkau kisahkan perumahan kumuh got-got berbau masam dan trotoar kusam yang pernah menjadi denyut cinta masa lalu kita. Juga gardu-gardu tua kampus pengamen dan penyair malam tempat menuang lagu sumbang dan sajak-sajak sakit jiwanya kejujuran yang kini dibayar dengan miniatur taman-taman berlampu merkuri ah, betapa singkatnya waktu berdandan
di depan wajah gemerlap swalayan itu seharusnya aku tak terperanjat : kehilangan seorang penjual dawet tidaklah lebih penting dari perkenalan dengan jalan 4-6 jalur atau eksotis jajaran kafe
tapi aku haus! - ah, betapa romantisnya engkau! – pekikmu sambil memeluk dan melumatku dalam ciuman yang memerihkan seluruh pori-pori
(Read More... Puisi | 6247 bytes more | Score: 4.75) |

Reads: 800 |
Sadang Posted by redaksi-4 on Friday, June 03 @ 18:15:01 PDT
Oleh A. Musyafak
MUSTINYA pagi ini Tabil dan rombongannya berangkat berburu. Masih banyak hutan yang belum mereka taklukkan. Tapi kabar duka lebih dulu berangkat menuju telinga mereka. Istri Lurah Sasmita meninggal setelah didera sakit aneh beberapa bulan belakangan.
Jadilah Tabil dan rombongannya melayat. Mencurahkan perasaan berkabung kepada Lurah Sasmita. Mereka saling diam. Seorang dan yang lainnya tampak tidak berselera untuk bercakap-cakap. Kecuali menyelami pikirannya masing-masing, serta membiarkan dirinya dicekam rasa waswas. Bahkan ketegangan di raut Tabil tak berkurang sejak mendengar kabar kematian pagi tadi.
***
(Read More... Cerpen | 10367 bytes more | Score: 4) |

Reads: 868 |
Dalam Rindu Posted by redaksi-4 on Thursday, May 26 @ 04:27:06 PDT
abimardha writes "dia memang tak melihatmu sekarang dalam rindu, tetap ia seekor kijang berlompatan dari ceruk telaga, menuju kepundan kawah menganga
dia memang tak mendengarmu sekarang dalam rindu, tetap ia menjadi seekor kucing jelata melata, meredam suara kertap kaki di lantai dingin demi sekerat masin serat daging ikan asin
dia memang tak bicara apapun sekarang dalam rindu, tetap ia seekor murai batu di sangkar tembaga walau nyaring kicau yang terdengar seperti nyanyi sungguh, itu hanya pedih berlarat meracuni bunyi...
27 maret 2011 "
(Read More... Puisi | Score: 0) |

Reads: 1017 |
TIGA SAJAK TERJEMAHAN* Posted by redaksi-4 on Saturday, May 07 @ 18:30:19 PDT
KOMPOSER
Akankah kau tahu untuk sekedar mendengar beberapa musik yang tak pernah aku tulis?
Dengarlah!
Kau memandang seolah-olah itu adalah sebuah hal mudah untuk tidak menulis musik.
Musim semi, 1964
Carter England Seorang penyair Inggris di abad 20.
(Read More... Puisi | 1727 bytes more | Score: 5) |

Reads: 1060 |
SAJAK LINA KELANA Posted by redaksi-4 on Friday, May 06 @ 06:47:20 PDT
TUJUH TIRAI MENGAPA RINDU TAK MENEMU TITIK
1/KITA, MELEMPARKAN TATAP MENJAUH DARI RATAP
Tatkala fajar lahir, kita menanak angan pada tungku harapan Senyum mengepul mencipta hunian Di atasnya rumah cinta, kita Merahim masa depan
Namun, ketika tungku mulai panas kita menjatuhkan bara Pelanpelan melunturkan keringat Yang kita cecap semalam tadi Kusadari, kita makin menenggelamkan pikir Mengabaikan hening yang lamatlamat jenuh Bualan kita terlalu lengur, hingga kayu hanya setengah saja terbakar kita harus menghindar, karena kau dibesarkan malam, sedang aku menimang siang sementara siang dan malam tak akan bersatu dalam satu ramuan
(Read More... Puisi | 6760 bytes more | Score: 5) |

Reads: 1030 |
Sajak Untuk Tuan Pembantu Posted by redaksi-4 on Friday, May 06 @ 04:03:58 PDT
herdoni writes "Bulan masuk terciprat ke dalam kopi
air menggenang di kelopak runcing matahari
tuan ceritakan sebuah kisah tentang negeri
yang katanya punai berlimpah materi
kita lupakan malam jemput siangku
kita bagi gula putih untuk tanah air
kita tipu anak-anak sendiri
biar kita terlihat peduli
bila malam kita iris bulan
untuk anak cucu darahku
agar kaum kita tertawa
kita habiskan uang Negara
tak peduli kata orang lain,
jawabannya: selagi bisa !!
"
(Read More... Puisi | 1056 bytes more | Score: 0) |

Reads: 1131 |
Khatulistiwa Literary Award 2011 Posted by redaksi-4 on Monday, April 18 @ 04:32:19 PDT
Tahun ini Khatulistiwa Literary Award kembali diselenggarakan. Hadir dengan dua kategori, yaitu Fiksi dan Puisi, KLA 2011 akan menganugerahkan penghargaan untuk karya-karya terbaik yang terbit antara periode Juli 2010-Juni 2011. Masing-masing pemenang akan mendapatkan hadiah sebesar Rp50.000.000.
Di bawah ini adalah syarat-syarat karya yang berhak masuk ke proses penjurian:
(Read More... Sayembara | 1298 bytes more | Score: 0) |
| | |
|
| Download Terbanyak |
| There isn't content right now for this block. |
| Kategori Artikel |
| There isn't content right now for this block. |
| Login |
| Don't have an account yet? You can create one. As a registered user you have some advantages like theme manager, comments configuration and post comments with your name. |
| Artikel Terhangat |
| There isn't a Biggest Story for Today, yet. |
|
|