AKU BUKAN PECUNDANG (Cerpen: Kunthi Hastorini)

Aku tahu ini adalah momen terpenting dalam hidupku. Ini lebih dari sekedar keinginan untuk menang. Ini pertaruhan harga diri. Sebuah pembuktian bahwa aku pun mampu berbuat sesuatu yang lebih. Sesuatu yang bisa membuat mama bangga dan bahagia telah melahirkan seorang aku ke dunia.

Setapak demi setapak perjuangan telah kulewati. Cucuran keringat pun telah leleh membanjiri sekujur tubuhku. Sampai ke puncak adalah tujuanku. Tinggal selangkah lagi aku kan sampai. Namun, mengapa galau begitu kuat menghantam nyaliku?

Elang, andai kau datang siang ini, tentu aku tak kan segentar ini. Aku merasa sendiri dalam perjuangan ini, Lang. Aku tahu semua ini salahku. Aku yang mengusirmu pergi dari hidupku. Tapi, aku tak  berharap kau tak datang. Bagaimanapun kehadiranmu sungguh aku butuhkan. Terlebih aku tahu, orangtuaku pun tak kan datang mendukungku. Bukankah mereka tengah menunggui kak Pita di rumah sakit, dan lagi-lagi itu pun salahku.

Sebuah tepukan mendarat di pundakku menghalau semua lamunku. Aku terperangah menatap senyum pak Tio mampir di mataku.

“Sudah waktunya!” ujarnya.

Ah, aku tak percaya aku akan melewati saat-saat berat tanpa kau di sampingku. Dengan berat aku beranjak bangun dan berjalan menuju tepi lapangan. Tempat dimana pelari lainnya bersiap untuk menang. Pemanasan pun dilakukan.

***

Dua tahun lalu

“Lagi-lagi kamu ndak diterima di sekolah unggulan. Mau jadi apa kamu Manda?” terdengar jelas nada kekecewaan dari suara mama. Aku bungkam, seperti biasa.

”Mama sedih Manda. Mama ingin kamu seperti kakakmu Puspita, selalu masuk sekolah favorit udah itu rangking satu lagi. Lah kamu udah masuk sekolah ga mutu rangking sepuluh lagi….”

“Tak tahu mama mesti ngomong apalagi. Okelah kamu masuk sekolah ga mutu itu tapi please setidaknya rangking tiga,” mama menyentuh pundakku,”oke?!”

Pelan aku menganggukkan kepalaku tanda setuju (meski aku tak yakin aku akan bisa memenuhi tuntutan mama itu).

Antara aku dan kak Puspita memang jauh berbeda. Dari kecil kak Pita selalu menonjol hampir dalam semua bidang dan kesempatan. Bukan hanya di akademik tapi juga non akademik. Kak pita seorang model dan pemusik yang hebat. Berjajar rapi piala tanda kemenangannya di rak ruang keluarga. Piala-piala itu bersinar sekemilau mata yang kerap kulihat di mata mama dan papa kala melihatnya. Aku selalu berandai-andai bisa mempersembahkan satu saja piala untuk keduanya. Tapi aku tak punya apa-apa untuk dibanggakan. Dalam bidang akademik jelas aku mengecewakan. Apalagi keterampilan, aku tak punya. Aku hanya tahu, aku suka berlari. Aku tak pernah menganggap itu sebuah kelebihan sampai akhirnya aku jumpa dengan pak Tio, guru olah ragaku.

Mata pak Tio selalu kemilau tiap kali melihatku berlari. Terangnya mampu meyakinkan aku pada sebuah kegemilangan. Dengan tekun, pak Tio melatihku. Tujuan utamanya, aku menang dalam PORSENI. Sudah saatnya SMA13 juara, begitu ia selalu berkata. Telah lama SMA13 tak mempunyai rasa bangga pada almamaternya. Pelajarnya bodoh-bodoh dan suka membuat keributan. Ngedruks, mbolos, kelahi adalah sarapan hampir tiap pagi yang harus dihadapi oleh para guru. Dan pak Tio yakin kehadiranku disekolah ini adalah momentum tepat untuk sebuah kebangkitan. Keyakinan pak Tio perlahan tapi pasti menular padaku. Aku giat berlatih.

***

Setahun silam,

Aku menang. Pak Tio sangat bahagia. Matanya kian kemilau menatapku. Sebuah piala tergenggam manis ditanganku. Tertulis disitu JUARA SATU LOMBA LARI TK KABUPATEN. Ingin rasanya ku bawa pulang dan ku parkir manis di rak ruang keluarga. Tapi aku tahu itu tak mungkin. Rak ruang kepala sekolahku lebih membutuhkannya. Namun seolah mengerti apa yang tengah kupikirkan, pak Tio mengijinkanku membawa pulang piala itu meski hanya untuk sehari. Aku pun pulang dengan hati riang.

Rumah sunyi, tak kutemui sesiapa disana. Kutanya bi Warsih, pembantuku. Katanya mama pergi bersama kak Pita sedari pagi. Kak Pita ikut lomba model di sebuah mall ternama. Ah…tiba-tiba rasa bahagia yang membuncah didada terasa meredup dan sirna. Ku pandangi piala itu. Ini tak kan berarti apa-apa! pikirku.

Kupajang piala itu didalam kamarku. Pun, saat mama dan kak Pita pulang. Wajah keduanya terlihat sumringah. Kak Pita juara lagi. Piala itu terparkir manis di rak ruang keluarga. Aku ragu untuk sekedar bercerita aku pun punya piala. Keraguan itu menyesakkan dadaku. Aku memutuskan untuk pergi…berlari…

Aku berlari dan terus berlari. Keringat berceceran di sekujur tubuhku. Aku tak peduli meski puluhan mata memandangku. Apa bedanya toh aku bukan siapa-siapa. Di mata mama aku akan selalu menjadi si kalah!

Diatas bukit itu, aku menangis. Aku menjerit meneriakkan amarah yang menggumpal didadaku. Aku lelah. Sangat lelah…

Diatas rumput aku berbaring. Mataku terpejam. Serpihan-serpihan peristiwa terasa perih mengiris hatiku. Perlahan airmatapun menetes tak bisa kubendung. Ya, aku tetaplah pecundang sempurna!

Tak kusadari kala itu sepasang mata elang menatapku diam-diam.

***

Suara merdu kak Pita terdengar dari dalam kamar. Beberapa hari belakangan aku kerap mendengar ia berdendang. Ada matahari di wajah cantiknya. Aku tahu pertanda apa itu. Kak Pita jatuh cinta.

“Namanya Elang, Manda. Ia akan datang sore ini,” ujarnya bahagia. Aku tak pernah melihat ia sebahagia ini. Sungguh! Elang pasti lelaki sempurna.

Ting tong ting tong. Kulihat kak Pita bergegas membuka pintu. Tampak seraut wajah tampan berkharisma tersenyum lembut. Itu pasti Elang. Lelaki itu masuk dan duduk tepat di depanku. Aku mengintipnya dari balik kelambu kamar. Posisi strategis ini tak kulewatkan aku terus mengintipnya. Ia memang perfect!

Meski matanya terkesan tajam tapi auranya pancarkan kelembutan. Hidungnya kokoh menjulang. Bibirnya tipis segaris. Dan rahangnya angkuh menantang. Rambutnya cepak disisir rapi. Dan badannya tinggi besar. Dibanding Si wolf taylor (film newmoon)  so pasti Elang lebih keren! pantas kak Pita naksir berat padanya. Saking asyiknya ngintip dan mengkhayal aku sampai tak sadar kalau lelaki bernama Elang itu tengah menatapku diam-diam.

Sejak itu, si ganteng Elang kerap hadir di ruang tamu rumahku. Tiap kali itu pula kak Pita menyambutnya bahagia. Dan aku… mengintipnya diam-diam.

***

6 bulan yang lalu,

Sekali lagi aku menangis diatas bukit itu. Hatiku ngilu, mama lagi-lagi marah padaku. Aku tahu aku salah. Tapi aku juga tahu kesalahanku tak sepenuhnya.

Hal itu bermula dari sepatu olahragaku yang sudah tua. Masa pensiunya telah tiba. Pak Tio bilang sudah saatnya aku membeli sepatu olah raga baru. Aku tak yakin, mama akan menyisihkan uangnya untuk sepasang sepatu baru. Maka, dengan sadar kupakai uang spp bulananku utuk membeli sepatu baru itu. Dengan harapan, aku bisa mengganti uang itu dengan uang jajanku pelan-pelan. Tapi sial, sebelum aku menuntaskan inginku mengganti pembayaran SPP yang nunggak, pihak sekolah telah melapor terlebih dulu pada mama. Mama marah besar padaku. Seribusatu serapah terlontar hampir tanpa kendali.

Maka, disinilah aku kini. Terbaring sambil menangis dalam diam. Semilir angin dingin menyapa wajahku, tak ku hiraukan. Bahkan saat perlahan rintik hujan mencium tubuhku aku masih tak bergeming. Ingin kutumpahkan semua perih disini. Biar alam yang tahu dan mengerti kepedihanku. Aku tahu, tak seorangpun akan peduli perasanku kini.

“Bangun! Nanti kamu sakit,” sebuah suara menghanyutkan heningku. Ku buka mataku. Telah ada seseorang disitu. Berdiri menungguku menyambut tangannya yang terjulur. Tak kusangka, orang itu adalah Elang.

Rumah mungil itu terkesan lapang dengan penataan minimalis. Di teras depan, Elang menjamuku. Secangkir teh manis siap untuk ku seduh. Elang menatapku dalam.

“Ngapain kamu hujan-hujanan disitu?”selidiknya.

Aku diam tak menjawab.

“Sejujurnya aku sering melihatmu di bukit itu,” lanjutnya. “Ya. Aku mengintipmu seperti kau sering mengintipku tiap kali aku kerumahmu.”

Apa? Jadi Elang memperhatikanku selama ini tanpa aku tahu? Ia juga tahu aku mengintipnya. Tiba-tiba aku merasa malu.

“Maaf…”sesalku.

Elang tertawa kecil.”Kita impas kok!”

Aku balas tertawa…canggung.

“Amanda, bisakah kau datang kesini tiap kali ingin menangis. Jangan ke bukit itu! Bukit itu ada penunggunya…”

“Yang benar?”

Elang mengagguk yakin. “Aku mau kok dijadikan tempat curhatmu. Kau bisa percaya padaku,” lanjutnya.

“Ntar kau bilang kak Pita..”

Elang menggeleng.” Tak akan,” sahutnya mantap. Semantap tatapnya kian menghunjam jantungku. Jantungku berdebar kencang.

Sejak itu aku kerap datang ke rumah Elang. Dia tipe lelaki yang enak diajak bicara. Pikirannya sangat dewasa dan bijak. Bersamanya aku menemukan kedamaian.

***

Empat bulan yang lalu,

Aku juara lagi! Kali ini aku menggengam piala untuk tingkat propinsi. Prestasiku ini kian membuat nama SMA13 melejit. Tiba-tiba saja nama SMA13 mulai diperhitungkan. Bukan hanya itu, prestasiku ini belakangan membuat mama papa bahagia dan berbangga hati.

“Kok ndak pernah bilang ikut lomba lari sih, Nda?” ujar papa sambil mengobrak-abrik rambutku. Terlihat jelas kemilau di matanya.

Mama mengagguk-anggukkan kepalanya antusias.”Ternyata kamu berbakat di bidang olah raga ya, Nda” ujarnya,”tahu gitu mama suport kamu dari dulu,”lanjutnya seraya memeluk tubuhku.

Ada yang ingin keluar dari kelopak mataku, namun aku tahan

“Maafkan mama selama ini ya, Nda,”bisik mama.

Bulir air mata itu tak lagi bisa kubendung. Aku menangis bahagia. Terima kasih tuhan.

Sore harinya, aku main ke rumah Elang. Elang menyambutku gembira.

“Kemenangan ini harus dirayakan!” serunya.

Aku hanya tersenyum melihatnya.

“Kok cuma senyum?”

“ Ga perlu perayaan, Lang. Aku sudah cukup bahagia dengan dukunganmu yang luar biasa ini. Thanks ya!”

Elang tersenyum simpul. Tiba-tiba ia menatapku dalam. Sesuatu terasa bergetar di dadaku. Elang berjalan mendekat, bersimpuh tepat di depanku. Tiba-tiba aku merasa risih. Apa maunya ia bersikap begini? keluhku dalam hati.

“Amanda, mau kan kamu jadi pacarku?”

Glek! Terasa ada yang menyumbat tenggorokanku. Aku tak percaya Elang akan mengatakan itu padaku. Sungguh aku tak tahu harus bersikap bagaimana.

“Maaf jika aku terlalu terburu-buru. Tapi sejujurnya rasa ini sudah lama aku simpan. Sejak pertama kali kulihat kau menangis di bukit itu…”

“Kau tahu mengapa aku sering datang kerumahmu dengan alasan mencari Pita. Sejujurnya aku hanya ingin melihatmu. Aku tak tahu harus bagaimana agar bisa dekat denganmu….”

Hatiku tergugu. Jadi, kak Pita bertepuk sebelah tangan? Ah, mana bisa aku mengkhianatinya serupa ini? Aku tak mungkin menerima cinta Elang sementara aku tahu ada hati yang akan terluka. Hati kakakku sendiri!

“Tak harus kau jawab sekarang. Aku menunggu…”

Elang menggenggam tanganku. Entah ada angin apa pada saat yang sama  kulihat kak Pita datang dengan mata nanar. Mulutnya terbuka lebar tak percaya dengan pemandangan yang ada di depan matanya. Dengan segera aku bangkit dan menjauh dari Elang. Ingin aku mengatakan padanya. Antara aku dan Elang tak ada hubungan apa-apa. Kami hanya teman. Tapi terlambat Kak Pita keburu lari menjauh. Aku mengejarnya. Tapi sekali lagi aku terlambat. Kak Pita jatuh terjungkal tertubruk sepeda revo yang tengah melaju kencang. Saat iti kurasa bumi berhenti berputar.

Kak Pita dilarikan ke rumah sakit. Kakinya mengalami luka yang cukup parah. Diagnosa dokter mengatakan ada tulang kakinya yang patah. Butuh waktu lama untuk mengembalikannya kembali normal. Tuhan, mengapa semua ini bisa terjadi…

“Maafkan Manda, Ma. Ini salah Manda,” ku temui mama menangis sesegukan didepan kak Pita yang tengah pulas tertidur. Kakinya digips dan diikat keatas. Mama sama sekali tak menoleh padaku. Aku merasa mama marah dan menyalahkanku.

“Mimpi puspita adalah menjadi aktris dan model ternama. Dengan kaki pincang apa bisa ia meraihnya, Manda?” isak mama kian keras mengguncang tubuhnya. Aku tak kuasa menahan tangis yang sama.

“Semoga kak Pita lekas sembuh ya ma…”

“Kasihan pita…”

Ya, ma. Kasihan kak Puspita dan semua karena salahku. Andai saja aku tak berteman dengan Elang. Andai saja aku tak terlalu dekat dengannya….

“Lang, Kumohon kau jauhi aku mulai detik ini,” pintaku.

Semilir angin senja meniup batang-batang rambutku. Terdengar hela nafas berat di sebelahku. Elang menatap kejauhan.

“Cintai kak Pita untuk aku. Ia sangat berarti untuk mama, juga untukku…”

“Aku tak mencintainya,”

“harus!”

Elang menggeleng tak percaya aku akan memaksakan sesuatu diluar kehendaknya.

“Cinta tak harus memiliki, Lang. Kau bisa melakukannya dengan cara lain,”

Elang balas menatapku. Kami saling bersitatap membiarkan hujan turun membasahi tubuh kami berdua. Dalam hati aku menangis.

***

Tiga.. dua.. satu.. DOR!

Suara pistol terdengar nyaring pertanda lomba telah dimulai. Sorak-sorai penonton membahana di seantero gelora senayan. Aku berlari mengejar tiada. Tapi aku tahu aku harus terus berlari meski tak tahu untuk apa. Tak ada satu orang yang ku cintai yang datang mendukungku. Aku hanya berlari untuk diriku sendiri, untuk masa depan yang tak ku tahu akan berakhir seperti apa.

Aku berlari menanggung perih. Bayang mama, papa, kak Pita dan Elang melintas-lintas di depan mataku. Seorang pelari melesat mendahului. Teriakan penonton kian keras bersorak. Aku berada di urutan kedua. Segera ku tersadar dari lamunan. Aku tak boleh kalah! Ya aku harus menang demi SMA13 yang haus kebanggaan. Aku mulai berlari menyusul. Teriakan-teriakan melesat-lesat di belakang.

Garis finish mulai terlihat. Tinggal satu meter lagi pesaingku bernomor punggung sembilan itu akan juara. Aku berusaha menyusul sekuat tenaga. Tapi apa daya kakiku terasa sulit untuk melesat. Aku terpuruk. Aku tahu aku akan kalah!

“Ayo Manda! Kau pasti bisa!’

Tiba-tiba suara itu muncul dari sekian banyak teriakan di sana. Dari kejauhan ku lihat sekilas ada lelaki yang sangat aku kenal. Dia Elang. Tuhan, Elang ternyata datang untukku! Tiba-tiba saja aku merasa ada kekuatan lebih mengaliri segenap bagian tubuhku. Aku harus bisa!

Tinggal setengah meter lagi garis finish akan terlampaui. Aku kian kencang melesat mendekati si nomor punggung sembilan. Tiga dua satu…ya…aku berhasil melampauinya. Aku kian kencang melesat. Tali itu sudah menunggu. Aku datang! Pekikku dalam hati.

Dan tali itu pun terlepas. Aku juara! pekikku dalam hati. Sorak-sorai penonton menyambut di depan. Kulihat disana, Elang tersenyum lebar.

***

Perlahan tapi pasti kak Pita berangsur-angsur pulih. Dengan perawatan intensif ia bisa berjalan normal. Ia sama sekali tak menyalahkanku atas peristiwa itu. Ia membebaskanku memilih jalanku bersama Elang. Papa terutama mama sangat mendukung prestasiku. Mereka yakin, dengan potensiku aku akan jadi sesuatu. Bukan seorang pecundang!

 

BIODATA PENGARANG

KUNTHI HASTORINI, lahir di Lumajang 11 Agustus 1980. Suka baca dan nulis. Beberapa cerpennya pernah dimuat di tabloid SINAR HARAPAN dan beberapa media lokal.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *