Puisi Assyafa Jelata

Rindu Dendam

Aku titipkan nafasku pada hembus angin
Yang sekejap menjelma badai
Saat kuasah matahati

Di belakang dapur; gamang
Sebab kini rinduku merona hitam
Di atas cahaya lampu merkuri
Lihatlah ujung pisau ini
Berkilauan; dendam

Hendak kucabik keraguan
Yang dulu pernah jadi lamunan
Pada nyanyian perang
Kutikam engkau; dalam nyeriku

Serang, 2010

Elang

Mata elang, mata sang zaman
Memandang jauh di kehidupan
Asanya adalah terbang tinggi mengangkasa
Menembus mega kelabu
Cakarnya mencengkram sangsi
Yang menjelma jadi mimpi
Paruhnya mematuk dan menelan lamunan
Tuk sadarkan pada kenyataan
Sayap kini telah terkepak
Berkelana di cakrawala

Serang, 23 Nopember 2009

Malam Yang Berkarat

Adalah temaram di kegelapan
Yang membuat malam jadi karat
Seperti air yang membuat corrosive sebuah pelat
Adalah gonggongan anjing
Yang membuat hati jadi resah
Seperti dentam senjata di kancah pertempuran

Rembulan, terangilah langkah mereka
Yang berjalan penuh dengan skeptis
Bintang-bintang, bimbinglah langkah mereka
Menuju damai yang nyata
Lalu, aku pun bertanya
Pada cakrawala hitam tak berjiwa
Manakah cahayamu rembulan?
Manakah kemilaumu bintang-bintang?
Mengapa hilang ditelan mega kelabu?
Terberai waktu menjadi pilu!

Cilegon, 2009

Lautan Jiwa

Janganlah kaulelah mengarungi lautan hidup
Tetap melangkah walau badai menghadang
Tertawalah sebelum ditertawakan
Sebab ini adalah kenyataan

Langkahkan kaki walau tapak penuh kerikil tajam
Tetap bergerak menyelami kancah keadaan
Bentangkan layar seluas keinginan
Berharap angin nanti ‘kan berhembus

Tegarlah seperti karang
Luaskan pikiran bagai samudera
Biar ombak kecil membelai pantai jiwamu
Jadikan berarti seindah pasir putihnya

Serang, 2010

Kontemplasi Menjelang Hitam

Malam  sebentar lagi digelar
Kala camar terbang melafadkan doa dalam jingga
Oh waktu, begitu cepat kauberlalu
Bagai seberkas cahaya menghunus bayang palsu
Sembunyikan mentari di ufuk barat
Mengganti dengan senyum rembulan di pantai utara
Gema takbir-Mu meninggi di cakrawala
Merasuk sukmaku dalam heningnya hari
Duh Gusti, kini kubersimpuh pada-Mu
Dari rotasi yang belum terhenti
Tuk sesaat melupakan lukisan dunia
Dalam sihir kesibukan yang menghitamkan jiwa
Melepas gegap gempita pada buih pijaran masa
Di tengah rona kefanaan yang kuratapi

Serang, 2010

Begundal Malam

Kaubersandar di ketiak sang malam
Meronta jiwa diselimuti luka
Botol minuman kekar kaucekik
Daun kering nikmat dihisap
Dewa kegelapan nyanyi tra… la… la…
Setan-setan terus tertawa
Malaikat gelengkan kepala
Seribu kunang-kunang hadir isi fantasi
Kini engkau seakan melangkah di atas sinar tujuh warna
Kesadaran kian jauh terbuang
Tenggelam sudah dalam kepalsuan
Semenanjung pagi terlewat di kelopak mata
Hingga panasnya matahari tanggalkan ilusimu
Kini kaularut pada diamnya biru

Cilegon, 12 Oktober 2009

Aku Hanya Ingin Menjadi Batu Di Dasar Kali

_ _ _ Dan kumasih diam dalam semedi

: Pun sama dengan kemarin

Aku hanya ingin menjadi batu di dasar kali
Saat riak menggerayangi laju sampan
Sebab kabut telah menghitam pucat
Jua reranting mengering, gugurkan daun tua
Tanggalkan persinggahan capung termenung
Pada hymne lolong menyeringai
Di tepi rimbun hutan perdu
Toh tak kurasa parau yang nganga
Sebab aku hanya sekeping batu
Di dasar kali coklat pekat
Riak pun tak mampu mencabik tubuhku
Kala sampan telah terbalik olehnya

Serang, 18 Maret 2010

Di Ujung Kenyataan

Dan remang,
Sebentar lagi kita ‘kan terbang
Jadi burung di gugusan bintang

Merebahkan raga,
Dalam nyata jelaga
Berkelana di lain dunia

Esok nanti,
Ranjang ‘kan dibakar garang matahari
Saat biru kaulihat lagi

Sudahlah,
Aku pun telah lelah
Mendengar rembulan mendesah

Serang, 12 Maret 2010

Hikayah Nyala Lilin Dalam Gelap

Ayo, bersekutulah dengan waktu ‘tuk hancurkan diriku
Aku pun akan melebur menjadi bubur di kancah keadaan
Biar saja kegelapan akan kuterangi dengan setitik cahaya
Sebab kini purnama telah hancur berkeping
Dipanah oleh tangan-tangan kekar berbaja
Saat burung seak meringkih di bawah kabut sangsi
Nanti pun sulutku akan mati meredup
Namun entah, dapatkah kaugantikan dengan kunang-kunang berlalu-lalang

Serang, 2010

Fragmen Ingatan

(1)

Engau menjelma pencuri yang mencongkel jendela hatiku
Saat kuterdiam mengerami galau ini
Dan pecahlah sepiku dengan godam tangan lembutmu
Cangkangnya kini telah bertebaran dalam jiwaku
Menjadi butir-butir kecil hiasi sang waktu

(2)

Kaupetik bunga mawar di tamanku
Lalu kautumbuk menjadi serbuk halus
Dan kaubuat pil pahit untukku
Aku pun terpaksa menenggaknya
Hingga aku telah merasa candu

: Kuat kini hasratku mencarimu

Serang, 2010

Ada Hujan Di Hatiku

Untuk S…

Sebab kini rinduku adalah rindu terlarang
Ketika aku menjelma laron yang tanggalkan sayap
Saat itu pula kepompongmu bermetamorfosis menjadi kupu-kupu
Terbang jauh menuju taman bunga

Teduhlah engkau di sana dalam keindahan
Memilih banyak warna yang kausuka
Saat aku di sini coba tuk merayap
Meraba cahaya yang kian meredup
Hilang terbawa oleh genggamanmu

Di deras gelombang aku telah hanyut menuju laut
Biarkan rasa di tubuh ini berkarat oleh asinmu
Hingga rinduku mati terdampar di karang lara

Serang, 2010

Hikayah Bunga-Bunga

Jadilah engkau seperti bunga hidup
Yang harumnya semerbak di nafas hari
Penuh dengan kedamaian

Janganlah engkau seperti bunga plastik
Yang harumnya sesaat lalu menghilang
Penuh dengan kepalsuan

Bunga hidup mekar bersama waktu
Walau pun nanti akan layu
Bunga plastik terdiam di dalam pot
Walau pun takkan layu

Bunga zaman mekar dan berkembang
Layu oleh waktu
Menghiasi kehidupan

Bunga jalanan mekar dan berkembang
Tersisihkan waktu
Pada kerasnya kehidupan

Apalah bedanya bunga asli atau imitasi
Bagi mereka yang tak perduli
Namun aku laksana seekor kumbang
Kucari yang hakiki

Serang, 2010

Kidung Kelabu

Sepagi namamu di beranda langit
Siang lunglai di dekap kami
Merinaikan airmata di mata air
Pada sisi tanah retak
Karat di jinggaku
Kelabu di ladangku
Doa-doa tersesat di belantara
Nyanyianku menyeringai di telinga waktu
Dendangkan hymne jejak galau
Telah retas temali asa di tangan isyaratku

Serang, 2010

 

 

Kembara

 

 

Aku, rajawali lepas dari sangkar emas

Hidup bukanlah untuk berhias

Tetapi hidup adalah bebas

Tatapan mata menerawang menembus batas

Cakar mencengkram anggur merah di dalam gelas

Karang terjal telah aku libas

Walau bunga api bermekar ganas

Sayap mengepak tuk bergegas

Berkelana pada semesta luas

Memekik doa, mengharap tunas

Pada orbit yang belum tuntas

 

Serang, 09 Januari 2010

 

 

Fragmen Tentang Sebuah Nama

 

 

Dalam namamu yang masih sanskerta

Kucoba merayapi punggung-punggung gunung

Hingga lelahku merekat di dinding kota

Mengalirkan peluh ini pada sungai plastik

Dan kembali kucari namamu dibalik bintang gemintang

Sebelum pagi kau gelar nanti

 

Serang, 03 Mei 2010

 

 

Langkah Waktu

 

 

Telah tumbuh tunas-tunas muda di kenyataan

Nampak pada tanah peradaban

Bermekaran mengarungi masa

Daun tua berguguran senyawa dengan bumi

Kodrati waktu berjalan merentang

Semilir angin laksana sabda sang alam

Memberi kabar pada sekitar

Ada yang datang dan ada yang pergi

Berjalan seirama bumi mengitari surya

Gelap berganti terang, terang berganti gelap

Siang berganti malam, malam berganti siang

Jarum jam pun berjalan perlahan tapi pasti

Membawa kita berada pada saat ini

 

Serang, 2010

 

 

Moksa

 

 

Engkaulah yang berpijak di terang purnama

Saat burung malam meringkih di dahan lapuk

Disana seribu bintang berpijar pada langit

Dentang lonceng kecil berbunyi di kesunyian

Panorama hitam yang gambarkan keindahan

 

Selembar imaji tertangkap mata

Sekeping rindu hilang menggelandang

Palatum semakin samar untuk diraih

Kala kelabu menjadi tua

Lenyap kini paradeis oleh gelapnya

 

Serang, 2010

 

 

Penyair Di Tepi Malam

 

 

Kaukabarkan saja kepada hembus angin

Tentang negeri yang kini gulita

Ketika sajak tenggelam dibawa senja

Lalu penyair darahnya didih di beranda tua

Sebab siang tadi wereng memakan padi

Pada sawah di hamparan kertas putih

Kini kata-kata berkilauan menjadi bintang

Dan rembulan meninggi penuh makna

Dalam hitam yang kaugenggam

Saat kunang-kunang terbang di tepi malam

 

Serang, 2010

 

 

Rindu Malam

 

 

Malam, itukah namamu

Yang lantang menantang siang

Ketika matahari berapi-api

Kini menggantinya dengan gelap

Oh rembulan, kaulah kekasihku

Berpijar di utara hatiku

Aku rindu belaian sinarmu bintang-gemintang

Kala seak membelah mega-mega

Dan di bumi serangga mendendangkan hymne kegelapan

Suaranya terbawa hembusan angin utara

Menyebarkan kedamaian pada mata yang berkaca-kaca

Ketika kita bercerita di tengah rona kelabu

Menjejaki remang lampu-lampu jalan firdaus

Dan kulukis jengkal demi jengkal wajahmu

Pada sajak yang mengalir di sungaiku

Kurentangkan namamu di ranjang mimpiku

Agar kita dapat bersenggama dengan segala rasa

Sebelum lelah ini dibangukan oleh biru

 

Serang, 24 Desember 2009

 

 

Fragmen Catatan Harianmu

 

 

Lalu, kita pun coba menelanjangi hati

Menanggalkan kenangan karam yang telah lalu

Ingatkah engkau pada malam kemarin hari

Kala kita menggantungkan doa di purnama

Dan di sana masih ada setumpuk catatan harianmu

Terbang kembara berserakan ditiup angin resah

 

Biarlah, walau lelah tetap kukumpulkan dengan tangan isyaratku

Selembar demi selembar kurapihkan catatan harianmu

Kini pintaku: “maukah kau bakar saja catatan harian ini?”

Nanti pasti kuberikan buku baru untukmu

Serta bersama kita tulis catatan harian

Mulai saat ini

 

Serang, 2010

 

Tinggalkan komentar