TENGSOE TJAHJONO

Tengsoe Tjahjono, Penyair

TENGSOE TJAHJONO dilahirkan di Jember pada 3 Oktober 1958. Tenaga akademis FBS Universitas Negeri Surabaya ini banyak menulis puisi, di samping novel, cerita pendek, naskah drama, dan esei atau kritik. Novelnya yang berjudul Di Simpang Jalan pernah dimuat secara bersambung oleh Harian Surya Surabaya. Naskah dramanya yang berjudul Jalan Pencuri dan Pohon dalam Piring Tanah pernah dipentaskan oleh Teater Institut Surabaya. Tulisan-tulisannya yang berupa puisi, cerpen, dan artikel dimuat di berbagai media: Harian Surya Surabaya, Jawa Pos, Surabaya Post, Republika, Kompas, Panyebar Semangat, Jaya Baya, Horison, dan sebagainya. Buku yang sudah ditulisnya ialah: Sastra Indonesia: Pengantar Teori dan Apresiasi Puisi, Menembus Kabut Puisi, dan lain-lain.

Beberapa kali menjuarai lomba cipta puisi, antara lain: 5 Besar Lomba Cipta Puisi Nasional (Universitas Sarjana Wiyata Yogyakarta, 1983), 10 Besar Lomba Cipta Puisi (Sanggar Minum Kopi Denpasar, 1992), 10 Besar Lomba Cipta Puisi (Yayasan Selakunda Tabanan Bali, 1998).

Puisi-puisinya dimuat di beberapa buku antologi bersama dan pribadi, antara lain: Pendapa Taman Siswa Sebuah Episode (Universtas Sarjana Wiyata Yogyakarta, 1983), Fenomena (Lembaga Kesenian Indrakila Malang, 1983), Hom Pim Pa (Temperamen Bengkel Muda Malang, 1984), Mata Kalian (Temperamen Bengkel Muda Malang, 1988), Gelombang (FASS-PPIA/ Surabaya Post, 1991), Temu Penyair Surabaya (Teater Puska FISIP Unair, 1991), Kul Kul (Sanggar Minum Kopi Denpasar, 1992), Semangat Tanjung Perak (1992), Belukar Baja (JPBSI IKIP Surabaya, 1992), Festival Puisi XIV (PPIA Surabaya, 1994), Langit Kota (JPBSI IKIP Surabaya, 1994), Dialog Warung Kaki Lima (Sanggar Kalimas Surabaya, 1994), Suluk Hitam Perjalanan Hitam Di Kota Hitam (Lingkar Sastra Tanah Kapur Ngawi, 1994), Drona Gugat (1995), Sajak-sajak  Refleksi Setengah Abad Indonesia Merdeka (Taman Budaya Surakarta, 1995), Bunga Rampai Bunga Pinggiran (Parade Seni WR Soepratman, 1995), Akulah Ranting (Penerbit Dioma Malang, 1996), Malsasa 96 (DKS, 1996), Meditasi Tunas (Jendela Kafe, 1997), Ning (Sanggar Kalimas, 1998), Luka Waktu (Taman Budaya Jawa Timur,1998), Terzina Penjarah (Sanggar Kalimas, 1998), Slonding (Yayasan Selakunda Tabanan, 1998), Omongo Apa Wae (Taman Budaya Jawa Timur, 2000), Memo Putih (Komite Sastra DKJT, 2000), Penunggang Lembu Yang Ganjil (DKS, 2000), Secangkir Kopi Buat Kota Ngawi (Jurnal Budaya Lontar, 2001), Kabar Saka Bendulmrisi (PPSJS, 2001), Pertanyaan Daun (Komunitas Kata Kerja Malang, 2003), Maha Duka Aceh (Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin Jakarta), Malsasa 2009 (2010), Pesta Penyair (DKJT, 2010), dan lain-lain.

 

TENGSOE TJAHJONO kokoh dalam prinsipnya bahwa puisi merupakan media komunikasi. Pembaca baginya merupakan bagian tak terpisahkan dari teks puisi itu sendiri. Dia amat percaya bahwa antara semesta (jagat besar), puisi (jagat kecil), penyair sebagai pribadi yang memberi tafsir terhadap semesta dan melahirkannya ke dalam jagat kecil yang bernama puisi, sangat memerlukan kehadiran pembaca karena pembaca merupakan teks lain pula yang akan memperkaya makna puisi.

 

 

Tinggalkan komentar