
Telaah] Kenapa Jokpin Harus Memelorotkan Celananya?
Date: Friday, May 18 @ 00:00:00 EDT Topic: Esai Sastra
Oleh Hasan Aspahani
/1/
Penyair Joko Pinurbo di awal tahun 2007 menerbitkan buku kumpulan puisi
ke-8 "Kepada Cium". Saya kira buku ini penting walaupun pasti bukan
bagian terpenting dari perjalanan menyair pria yang kini berusia 45
tahun itu. Bukan bagian terpenting, karena Jokpin - demikian julukan
kerennya - sudah melampaui tahap pembuktian mutu sajak-sajaknya. Ia
sudah selesai dengan tugas membuktikan bahwa sajak-sajaknya bermutu. Ia
- dengan delapan buku - sudah membuktikan pula produktivitas kerja
menyairnya. Buku ini tipis dibandingkan dengan buku-buku sebelumnya.
Isinya 33 sajak. Buku debutnya "Celana" berisi 44 sajak. Sebenarnya
buku "Telepon Genggam" (2003) pun hanya berisi 32 sajak, tetapi buku
ini jauh lebih gemuk karena sajak-sajaknya sebagian lebih
panjang-panjang. Buru-buru harus saya sebutkan, bahwa panjang pendek
sajak tidak menentukan mutu sajak itu. Dan panjang pendek sajak juga
tidak menentukan stamina menyajak penyairnya.
/2/ Saya sendiri
ingin melihat buku ini sebagai jurus-jurus latihan atau pemanasan
seorang petinju Jokpin sebelum pertandingan sesungguhnya. Dia adalah
sang juara bertahan yang hendak mempertahankan gelarnya. Ini
sesungguhnya adalah pertandingan melawan diri sendiri. Dari menonton
latihan itu saya bisa membayangkan bagaimana gaya bertarungnya nanti di
atas ring. Saya adalah penggemar sang petinju ini. Saya mengagumi
jurus-jurusnya dan trik-triknya mengandaskan lawan. Tantangan bagi
petinju sehebat dia bukan lagi bagaimana menjatuhkan lawan tetapi
bagaimana menjatuhkan lawan sambil memikat penonton
denganmempertontonkan jurus-jurus dan trik baru di atas ring.
/3/
Sekali lagi bagi saya buku "Kepada Cium" adalah latihan yang sedap
ditonton. Dari tontonan itu saya kemudian menebak-nebak kecenderungan
jurus dan trik apa yang hendak ditampilkannya kelak. Maka saya mencatat
beberapa jurus yang kerap ia pakai. Saya tak tahu ini metode telaah
saya model apa. Saya menandai delapan kata yang bolehlah dianggap
sebagai penanda bahasa sajaknya Jokpin. Boleh juga dianggap delapan
sajak itu adalah kata-kata kedoyanannya. Lalu saya menghitung berapa
kali kata-kata itu muncul dalam 33 sajak dalam buku itu.
Inilah hasilnya:
1. "Kamar mandi" muncul dalam 1 sajak. 2. "Telepon genggam" nongol dalam 2 sajak. 3. "Ranjang" menampakkan diri dalam 4 sajak. 4. "Tubuh" hadir dalam 9 sajak. 5. "Bulan" tampak dalam 5 sajak. 6. "Celana" dipakai dalam 8 sajak. 7. "Mata" terlihat dalam 6 sajak. 8. "Kuburan" ada dalam 5 sajak.
Yang
perlu saya sampaikan juga setelah urusan hitung menghitung itu adalah
ternyata ada delapan sajak yang tidak mengandung delapan kata itu.
/4/
Jokpin telanjur dicap sebagai petinju eh penyair dengan jurus "Celana".
Cap itu ada benarnya. Soalnya, buku pertamanya berjudul itu. Dan jurus
itulah yang agaknya paling melekat di benak penikmat sajak-sajaknya.
Padahal di buku pertama itu kata yang paling merisaukan si penyair
adalah "ranjang". Bayangkan saja dia harus naik turun ranjang sebanyak
12 kali di buku itu. Celana hanya sampai pada seri ketiga. Tetapi,
memang pada banyak sajak celana-celana berbagai macam model kerap
muncul tiba-tiba, baik sebagai peran utama ataupun hanya sekadar cameo.
Baiklah Jokpin memang tidak terlalu salah kalau dilekatkan pada
"celana". Ini mungkin sebentuk keterkejutan kita, pada kejeliannya
mengangkat harkat "celana" ke tingkat kemungkinan kreativitas untuk
disajakkan yang luar biasa. "Celana" di tangan Jokpin menjadi lentur
untuk mengucapkan banyak hal yang oleh penyair lain bahkan tak
terbayangkan bisa dipadankan. Tetapi sesungguhnya, Jokpin tidak hanya
memakai jurus itu. Tengoklah hitung-hitungan di atas!
/5/ Jokpin
juga piawai menaklukkan sajak dengan sejumlah jurus yang tak kalah
telak. "Celana" malah kalah sering dengan "tubuh". Dan jurus lain pun
hanya berselisih sedikit. "Mata", "bulan", "kuburan" dan "ranjang" pun
perlu dinikmati kemunculannya. Bisakah hitung-hitungan tadi meramalkan
bagaimana aksi Jokpin di ring sesungguhnya? Kecenderungannya iya,
dengan sejumlah asumsi tentu saja. Pertama, kata-kata eh jurus-jurus
tadi muncul naluriah dalam sajak. Jokpin misalnya, tidak dengan sadar
mengurangi jurus "celana" supaya tidak terus-menerus dicap sebagai
penyair celana. Dia juga tidak dengan sadar mengurangi jurus lain
supaya penampilannya tidak membosankan. Sekali lagi, jurus-jurus itu
muncul spontan dalam rangka menaklukkan lawan. Kedua, sebagai petinju
eh penyair yang baik dan benar, dan punya peminat yang luas, dia tentu
harus kita tuntut agar menyajikan penampilan yang segar, dan
mempertontonkan jurus-jurus baru. Kalau tidak, tentu dia harus rela
bersiap menggantung sarung sajaknya. Saya kira Jokpin masih punya
stamina bertarung yang luar biasa dan itu modal besar untuk
mempertahankan gelar juara puisi dalam kurun waktu yang masih akan
lama. Ketiga, jangan-jangan kitalah yang memenjarakan Jokpin di dalam
celana. Dia sendiri enak-enak saja keluyuran kesana kemari dalam dari
sajak ke sajak tanpa celana.
/6/ Sekarang tiba giliran pada
pertanyaan penting yang kerap diajukan peminat dan pengamat Jokpin:
"Apalagi setelah celana, Jokpin?" Dalam bahasa saya, "apakah sudah
saatnya Jokpin harus memelorotkan celananya?" Jawabnya, tengok asumsi
ketiga di bagian /5/. Pertanyaan serupa ini sesungguhnya adalah
pertanyaan yang wajib diajukan sendiri oleh penyair kepada dirinya
sendiri, dengan catatan dia sudah harus menemukan "celana" sendiri,
seperti Jokpin. Bila belum, maka pertanyaannya adalah "celana macam apa
yang harus saya kenakan dalam sajak-sajak saya?".
/7/ Setelah
buku "Kepada Cium" itu terbit, Jokpin tampil dua kali di Kompas. Dan
sementara ini dia pun pasti banyak menyiapkan sajak-sajak baru, dan
sangat mungkin dengan jurus-jurus baru pula. Bila kemunculan dua kali
itu dianggap cukup untuk sebagai dua ronde pertandingan sesungguhnya,
maka sebenarnya Jokpin sudah menjawab sendiri pertanyaan di bagian /6/.
Ada beberapa jurus baru yang -- ah maaf dengan mata saya yang kadang
rabun kadang bermasalah akomodasinya -- saya belum bisa memastikan apa
namanya. Biarlah jurus-jurus itu naluriah semakin sering ia jotoskan.
Akhirulkalam, satu catatan penting perlu disebutkan di tulisan ini. Ada
karakter dasar yang tak bisa diubah dari seorang petinju: seorang boxer
tidak bisa serta-merta diubah menjadi seorang fighter. Begitupun
penyair. Sekian. Semoga banyak bagian dari tulisan ini yang meragukan
dan karena itu ianya perlu didebat. Saya sendiri mau berlatih bikin
jurus saya sendiri. Siapa tahu saya mendapat kehormatan bisa menantang
Jokpin bertinju.[]
http://sejuta-puisi.blogspot.com/
|
|