Menu Fordisastra
· Home
· Account Anda
· Arsip Naskah
· AvantGo
· Beritahu Teman
· Content
· Downloads
· Ensiklopedi
· Kirim Naskah
· Saran Anda
· Topics
· Yang Terbanyak

Sedang Membaca Fordisastra
There are currently, 11 guest(s) and 0 member(s) that are online.

You are Anonymous user. You can register for free by clicking here

Cari!



fordisastra.com: Cerpen

Search on This Topic:   
[ Go to Home | Select a New Topic ]

Cerpen
Reads: 310

Lelaki Berjaket Mendapatkan Bintang di Bumi


Posted by redaksi on Sunday, March 21 @ 00:00:00 EDT
pendekarsastra writes "Oleh: Saifun Arif Kojeh

Dalam kegelapan ini Lelaki Berjaket terus mendaki nan mendaki jalanan yang berbatu dengan campuran tanah merah bertebaran di samping kanan dan kirinya. Dia terus menanjaki jalan sampai ke dataran tinggi. Di atas dataran tinggi itu terdapat bongkahan tanah merah yang menggunduk. Dia memperlambat langkahnya. Dia mencoba menikmati setiap denyut nadinya. Tapi, dia tak mendapatkan apa yang ingin didapatkannya, yaitu bintang di bumi. Hari ini, mungkin dia tak mendapatkan bintang tersebut. Tapi, bisa saja hari besok, lusa, tulat, langkat, dia bisa mendapatkan bintang tersebut.
Mengapa Lelaki Berjaket itu begitu antusias ingin mendapatkan bintang di bumi? Bukankah bintang di bumi sulit sekali didapatkan. Sulit dijangkau. Orang-orang yang melihatnya bertanya. 
"




(Read More... Cerpen | 19294 bytes more | Score: 0)
Cerpen
Reads: 317

Call Divert


Posted by redaksi on Thursday, March 11 @ 03:55:54 EST
fitrahanugrah writes "Sayup-sayup lagu Mahadewi terdengar dari MP3 player di HP milik Rido. Dia pun terhanyut dalam lirik-lirik yang dibawakan Padi, "Hamparan langit maha sempurna.Bertahta bintang-bintang angkasa.Namun satu bintang yang bersinar teruntai turun menyapaku....". Malam itu Rido sambil tiduran di ranjang kamarnya membayangkan wajah kekasihnya yang jauh di kota seberang. Malam itu Rido sedang menunggu SMS dari kekasihnya, Ajeng. Kekasih yang baru dikenalnya beberapa bulan dari sebuah situs pertemanan di internet. Malam itu Rido sangat merindukan kehadirannya lalu memberinya kata-kata cintanya. Rido mengingat kata-kata cinta dari kekasihnya yang selau fresh dan membuat dia terhanyut untuk memberi balasan lebih lanjut."Oh Mahadewi sudilah turun ke bumiku..."harapnya. "Kling..." bunyi SMS masuk di HPnya. "Oh dari Ajeng." Rido pun membuka pesan inbox. "Siapa yg td angkat telpon?" Kata-kata SMS dari Ajeng terbaca dan dibaca Rido berulang kali. "What's up! Ada apa ini kok sampai Ajeng menulis SMS seperti ini? Apa ga salah?". "Kling..." Belum sempat Rido me-reply SMS itu sebuah SMS dari Ajeng masuk lagi."Siapa perempuan yg memaki aku tadi? kalo mas ga mau ngaku....jgn pernah berharap aku masih mau kenal kamu!"."Hah...What's wrong? Salah apa aku ini? Oh no. Jangan biarkan ini berlanjut." Rido segera bngkit dari ranjangnya lalu mengambil segelas air putih dan meminumnya. Setelah ityu diambilnya sebatang rokok mild dan menyalakannya lalu menghisap dalam-dalam serta mengepulkan asapnya dengan keras. Dia membaca-baca lagi SMS dari kekasihnya,mengulang-ulang,memahami setiap kata sambil berfikir kenapa sampai kekasihnya mengirimkan SMS seperti itu."hmmm...gak ada badai,ga ada mendung,kok tiba-tiba hujan deras? oh..." Segera Rido menuliskan kata-kata untuk membalas SMS dari kekasihnya. "Ada apa dgnmu sayang. Perempuan siapa lagi? Dr td HP masih mas pegang?". SMS balasan pun terkirim ke nomer HP Ajeng. Sedikit lega namun sedikit penasaran,cemas, dan kuatir, begitu mungkin yang ada dalam benak Rido. "Semoga keadaan bisa baik-baik saja" harapnya. "Kriiiiing...Kring......" Nada ringtone HP Rido berbunyi segera dia menghidupkan. "Halo. Sayang ada apa ini?" sapanya sekaligus bertanya. "Tadi suara siapa Mas?" tanya Ajeng menyelidiki di speaker HP Rido. "Suara siapa lagi sayang. Khan ini suaraku sendiri. Emang Ajeng dengar suara apa?" jawab Rido dengan sedikit bingung dan heran dengan pertanyaan Ajeng. "Haaa...sudahlah kalo ga mau ngaku!" Ajeng pun langsung menutup HPnya tanpa beri kesempatan Rido menjawab. "Ajeng...jeng, Ngapain kamu tutup!"Tapi sia-sia Rido berteriak karena pembicaraan ini sudah ditutup sama Ajeng. Rido menghempaskan tubuhnya ke ranjang.Suara derit ranjang kayunya keras terdengar karena beban tubuh Rido yang gemuk. Rido menghempaskan segala kebingungan, kegelisahan yang mendera hatinya. Hanya itu cara yang bisa ia lakukan sambil mencari jawab serta menunggu Ajeng mengirimkan SMS lagi. HPnya ia genggam erat di atas dadanya sementara matanya menerawang ke langit-langit kamrnya sedang tangan sebelahnya masih memegang rokok. "Baru pertama kali aku mendapat peristiwa seperti ini. Apa yang telah kulakukan? Salah apa aku? dan wanita yang di HPku siapa? Masak ada setan nyasar? "pikir Rido. Tiba-tiba dia teringat setting-an HPnya. Segera dia mengotak-atik HPnya, melihat setting panggilan di HPnya dan melihat setting call divert. "Oh ternyata ini setannya. HPku ku-divert ke no HP tanteku. Juga tadi khan layanan jaringan operator di HP-ku sempat hilang? Mungkin sewaktu Ajeng nelpon ke HP-ku setelah ku transfer pulsa tiba-tiba jaringan di HP-ku yang out of date mati. Terus tentu saja ter-divert ke HP tanteku dan tentu saja Ajeng cemburu mendengar suara tanteku. Oh aku menemukan jawabnya". Wajah Rido kembali sumringah n tersenyum. Ia bangun kembali dari ranjangnya dan nelpon ke nomer HP tantenya, tante Indah.
"Bulik (jawa : Tante) tadi ada nggak cewek yang ngebel ke HP bulik?" tanya Rido penasaran. "Iya...Do. Setengah jam yang lalu ada yang ngebel ke HP-ku tapi waktu kutanya kok ga ada jawaban dan posisi HP nya ga mati" jelas tantenya. "Terus bulik?!" tanya Rido yang makin penasaran. "Karena ga jawab juga ya kuomelin aza. Aku bilang, ini orang atau bukan sih. kalo orang pasti jawab, Kok ga jawab-jawab sih. Ganggu aza, gitu omelanku tadi Do" terang tantenya lebih lanjut. "Bulik tahu nggak yang ngebel bulik tadi tuh pacarku dari kota seberang. Dia tadi kirim SMS serta ngebel marah-marah ke aku, katanya ada suara seorang perempuan yang memaki dia di HP-ku" jelasku menerangkan tentang keadaan itu. "Aku ya gak tahu kalo itu pacarmu. Wong dia gak perkenalkan diri. Juga salahmu sendiri kenapa pengalihan (Call Divert) mu kamu aktifkan. Syukur...Rasain loh. Salah kamu sendiri" jawab tante indah sambil tertawa buat mengelak kesalahan dia. "Aduh gimana bulik. Gara-gara bulik aku bisa putus sama pacarku. Bulik khan tahu sendiri aku baru saja berkenalan sama dia dan belum sempat ketemuan sama dia. Kok sudah putus gara-gara ini" jawabku setengah memarahi tanteku. "Hehehe....lucu kamu sama pacarmu. Tuh pacarmu ngapain ga jawab pertanyaanku serta kamu ngapain HP dialihkan ke nomerku...hehehe" sambut bulikku yangf setengah tertawa dari balik speakernya. "Namanya juga wanita, bulik. Tiba-tiba ngebel ke nomer HP lakinya lalu yang menerima seorang wanita ya tentu saja marah dan cemburu. Apalagi bulik berkata seperti itu kepada pacarku tentu saja dia tersinggung" nada bicara Rido mulai turun dan seperti mau menangis. "Ponakanku sayang jangan nangis ya gara-gara tadi....bilang saja ke pacarmu kalo itu tadi bulikmu yang juga pingin kenalan sama pacarmu. BIlangin juga bulikmu minta maaf. Besok pagi kamu main kemari kita ngebel ke HP pacarmu dan jelasin. Gitu aza sayang" ga tahan juga ternyata tante indah mendengar kata-kata dari keponakannya. "Ga semudah itu, bulik...hiks. Dia sudah ngebel dan ngirim SDMS yang mau menyatakan putus sama aku......hiks. Ya sudah, bulik. Yang terjadi biarlah terjadi, apa kata nanti saja. HP-nya saya matikan ya bulik. Selamat malam" Rido pun mematikan HPnya. Dia pun kembali ke ranjangnya dan duduk di pinggirnya. Diambilnya segelas air putih di meja samping ranjangnya dan meminumnya. Lalu dia ambil lagi sebatang rokok dari bungkusnya kembali ia nyalakan lagi, menghisap dalam-dalam lalu mengepulkannya ke atas. Kembali dia membuka pesan-pesan dalam HP-nya. "Aku harus berani menjelaskan siapa perempuan yang ditanya Ajeng serta meminta maaf atas kesalahanku"pikir Rido buat mencari jalan keluar pikirannya yang ruwet. Rido pun mulai menuliskan pesan-pesan dalam HP-nya buat dikirim ke Ajeng, entah dibaca atau tidak apalagi di-del...bodoh amat yang penting aku telah menerangkan, pikirnya pula. "Ajeng, sblmnya maafkan aku.Divert di hp ku kuaktifkan dan terdivert ke no hp tanteku.Perempuan yg td mjwab panggilanmu adlh tanteku.maafin tanteku ya.td jaringannya jg error.Ajeng bgaimana bs dimengerti?" pesan dari hp Rido pun dikirim ke HP Ajeng. "Kling.." suara SMS masuk dalam HP Rido. "Ah sudahlah ribet!Aku ngerasa mkn g kenal kamu.Aku ga akan pernah telpon ato sms kamu lagi.Terserah kamu mau blg aku.....Aku pernah alami kejadian sama" balas ASjeng yang me-reply SMS dari Rido. "Tp itu khan tanteku,bkn cew lain.Dia ga th kalo itu km.km jg ga ngomong k tanteku kalo km pacarku.Besok aku sm tanteku mau ngebel ke kamu.Maafku tanteku yg ngomelin km.jg maafkan aku ya sayang.Tak ada perempuan di hatiku selain kamu" balas rido dalam SMS yang dikirimkan ke Ajeng. "Sia-siakamu n tantemu ngebel ke aku.Ga akan kuangkat aplgi kujwb.Sudahlah jgn ganggu aku lg.Anggap sj aku ga ada n aku anggap ga kenal kamu.Sorry ganggu kamu?Saya slh sambung.Maaf...." balas dia segera. Wow semakin hancur hati Rido, semakin sakit, pedih, dan perih membaca SMS dari kekasihnya. Tubuhnya dihempas ke ranjang dengan keras lalu menutupi wajahnya dengan bantal. Dia pingin menangis, dia ga tahu harus bagaimana, kejadian semalam yang sekilas membuat dia rapuh dan jatuh. "Haruskah aku menerima kenyataan pahit yang tak pernah ku alami sebelumnya. Secepat itu aku harus berpisah dengan Ajeng hanya gara-gara kejadian sepele. Gara-gara aku aktifkan call divert dan gara-gara jaringan operator mati....oh Tuhan" Rido pun merintih merasakan betapa sakitnya perasaan diputus sama kekasihnya. "Oh My God. What can i do for it? I'm lie, i'm creep, my heart will go on" entah apa yang diomongkan Rido. Rido pun memutar MP3 player di HP nya lagu Padi, "Aku tak bisa luluhkan hatimu dan aku pun tak bisa raih cintamu........". Malam semakin larut, bulan sepertinya sudah capai bersinar terang lagi, dan angin malam sepertinya mengabarkan kabar kegelapan. Malam yang sangat mengiris hati Rido, malam yang sunyi, dan malam yang membuat Rido bertanya tentang adanya cinta yang tersisa untuknya di esok hari. Rido pun semakin tenggelam dalam hiruk-pikuk kesedihan hingga seakan dia tak menemukan jalan kembali, jalan untuk mendapatkan jawaban, dan pencerahan atas badai yang di alaminya. Dia pun mengenang saat pertama kali berkenalan dengannya dari sebuah situs pertemanan di internet. Kemudian berlanjut dengan tukar menukar no HP. Perkenalan yang tak bertepuk sebelah tangan, dan akhirnya Rido pun jadian sama Ajeng. Setelah saling curhat, saling mengatakan kelebihan dan kekurangan masing, setelah mengetahui siapa dirinya masing-masing. Segala kekurangan pada diri Ajeng diterima oleh Rido dan bukan jadi hambatan bagi Rido untuk mencintai dan bersama dia. Rido memang seorang bujangan yang telah lama mendamba cinta dari seorang wanita dan menginginkan sebuah pernikahan untuk menerjemahkan dari cinta itu. Rido dan Ajeng pun berharap mereka dapat menikah kelak bila masalah masing-masing sudah beres. Kata-kata cinta, sayang, kangen, rindu dan kata-kata cinta yang lain selalu menghiasi SMS di HP mereka. Mereka telah di mabuk cinta saat itu dan mereka telah berlayar terlalu jauh di tengah samudra meski saat itu mereka hanya berhubungan via HP dan dunia maya. Walaupun hanya lewat dunia maya dan HP.Mereka pun tak pernah bertemu ataupun kopi darat namun kata-kata dalam pesan di SMS seolah-olah mereka adalah sepasang 'suami-istri'. Seorang sopir angkutan kota yang bertemu dengan aktivis LSM dalam dunia maya, pertemuan yang tak masuk diakal tapi begitulah adanya, begitu mengalir hingga menuju samudra cinta yang teramat luas. Terasa begitu indah cinta mereka hingga terlupakan waktu dan keadaan. "Tuhan, Engkau menjadi saksi antara aku dan dia meskipun kami hanya berhubungan lewat dunia maya. Aku pernah berkata kalau aku cinta sama dia dan akan menikahi dia kalau memang Engkau berkenan serta berjanji takkan selingkuh,berkhianat padanya, tak akan meninggalkan dia. Aku pun bersedia bertanggung jawab buat kehidupan dia, berkorban untuknya, dan berjanji untuk berikan kebahagiaan lahir batin. Aku pun menerima dia apa adanya meskipun dia dulunya adalah seorang *****. Tuhan apakh aku salah? Hingga semua harus berakhir begitu cepat hanya karena sebab yang sepele saja?" rintih Rido di tengah malam ketika dia merenungkan nasibnya yang akan ditinggal Ajeng. "Tuhan maafkan aku bila aku salah telah meretakkan gelas yang kau beri. Aku hanya manusia biasa yang kadang khilaf. Tapi Engkaulah Tuhan yang pemberi maaf dan pemilik cinta kasih. Bilamana kau beri aku kesempatan lagi untuk bersama dia, aku akan perbaiki lagi yang telah repat lalu merawat dan selalu menjaganya hingga saatnya harus kukembalikan lagi padaMu. Bila memang gelas yang retak dan pecah itu pertanda bahwa aku ga layak bersama dia, maka berilah aku gelas yang terbaik niscaya aku rawat kembali gelas itu biar tidak retak seperti gelas yang dulu. Tuhan aku pasrah dan menerima segala keputusan serta kehendakmu terhadapku". Malam mulai menunjukkan kepekatannya, sepi hiruk pikuk tetangga kamar rido sudah tak ada lagi. Tertidur pulas dalam mimpi masing-masing. Namun Rido dalam kamarnya tak bisa pejamkan mata, teruruk sendiri dalam kegalauan, kesedihan dan menanti beribu jawaban agar bisa tidur tenang serta siap menghadapi pagi. Rido mengenggam HP erat-erat seakan-akan hidupnya hanya bertumpu pada HP-nya itu. Sesekali memandang HP-nya dan membaca-baca SMS yang masuk. "Kling..." SMS masuk. Rido terperanjat dan senyum bukan karena bunyi HP itu tapi ternyata Ajeng mengirimkan SMS. "Belum tidur juga nih kekasihku. Lalu mengapa dia kirim SMS kalo dia gak mau lagi kirim pesan atau nelpon. Oh ternyata dia masih...Ah sudahlah ga usah kupikirin biar masih cinta kek atau benci. Biar aza HP-ku dihujani beribu SMS darinya" kata Rido dalam dirinya. "Aku mematung sekian saat. lalu airmata ini tak mampu kucegah. Sakit dan jera kembali teriris. Aku ingin menyesal mengenalmu. Tapi aku sayang kamu. Kubenci rasa sayang itu. Aku hanya menyesali diri. Menyesal saat aku nyatakan sayang padamu. Andai aku lbh tegar dan mampu menahan rasa itu. Maafkan" sebuah SMS dari Ajeng pun dibuka dan dibaca oleh Rido dengan seksama. Dia seperti merasakan apa yang dirasakan oleh Ajeng saat itu. "Aku tlah bersalah. Aku membuat kekasihku menangis...hiks. Maafkan aku sayang". "Pedih n perih kucoba kuatkan hati tuk kembali menyayangi seseorang. Ribuan kali hatiku gamang.Namun kucoba kumenahan.Rupanya diapun tak mau menjaga hati n jiwa itu" semakin terpuruk hati Rido semakin terhempas segala perasaan dan semangatnya. Ingin rasanya Rido berteriak tapi ga enak sama tetangga kamarnya, dia hanya berteriak dalam hatinya yang sudah mulai sunyi ketika kekasihnya mau pergi dari hatinya. "Mengapa ini harus terjadi. Mengapa kau lakukan ini sayang. Aku masih cinta dan sayang padamu. Aku tak ingin kau pergi" teriak Rido dalam kesunyian hatinya ini. "Maafkan. Aku takut. Dan aku ga mau alami lg yg keduakali" SMS kedua dari Ajeng muncul di layar HP Rido. Pedih rasanya hati Rido membaca SMS-SmS dari kekasihnya. Dia merasa bersalah dan dia gak mau kehilangan kekasihnya. Namun semangat Rido telah lunglai, semakin terpuruk. Dia mencoba bangkit dari ranjangnya meraih segelas air di meja samping ranjangnya. Lalu seperti biasa dia mengambil sebatang rokok mild, dinyalakan, dihisap dalam-dalam lalu ia mengepulkan. Terasa cepat dia merokok begitulah Rido bila menghadapi masalah yang sulit terpecahkan...mencari ide,jawaban, dan inspirasi dalam hisapan rokoknya, pada asap rokok yang melayang-layang di udara "Memang aku terpisah jarak n keadaan dgn kamu.Dan aku dpt rasakan hancur n sakitnya ht mu menerima kejadian itu. Wanita yg sdh serahkan segala cinta n dirinya k pada seorang lelaki kemudian tiba-tiba ada seorang wanita lain. Tp itu khan hanya tanteku bukan orang lain..kenapa engkau bisa marah dan emosi bgt? n ini gara2 call divert kuaktifkan serta gr2 jaringannya mati....Kenapa kau bisa marah, mbenciku, n menyatakan akan meninggalkan aku" Tulis Rido dalam pesan balasan kepada Ajeng. "Aku ga butuh pngertian n penjlsanmu.sdh jelas bagiku" Ajeng pun membalas SMS dari Rido. " "Maafkan aku" mungkin itu kt terakhir dariku sblum kau tinggalkan aku.Cukup kau tahu rasa sayang n cinta d hati ini padamu masih ada.Meski kau menafikan kini.Smua trserah km.Yg penting sblum kau pergi, aku tlah mohon maaf padamu."Maafkan aku" itu kata terakhir dariku di mlm ini" Rido pun akhirnya memutuskan sesuatu. Dia sudah siap bilamana malam ini atau esok hari kekasihnya, Ajeng meninggalkan dirinya.Hingga dengan setengah emosional dia pun mengirimkan SMS kepada Ajeng, mungkin ini SMS terakhir, pikirnya.
"Sejak mula kukatakan padamu bahwa aku masih dan semakin rapuh krn banyak hal yg kualami.Tak kusalahkan kamu atas apapun. Akulah yang salah dan lemah...." Ajeng pun membalas SMS-nya. "Maksudmu. Aku cm ngomong "Maafkan aku" itu kt terkhir dariku.Slanjutnya terserah kamu apakah mau mnerima aku kembali di hatimu atau membuang aku n aku kembali seperti dulu sebelum mengenalmu" Rido semakin bingun dengan jawaban SMS dari ajeng. "Hmhmhm....apasih maksud Ajeng?" pikirnya. "Sudah kukatakan aku tak menyalahkan kamu.Aku hanya tak ingin sakit lagi.Dan sekarang ditambah lagi mampukah aku hadapi keluarga besarmu.Sebelumnya aku gaga!!" "Maksudmu apa? aku *****a bilang"maafkan aku" kok arahna ke kelga besarku?" tanya Rido dalam SMS yang terkirim ke Ajeng. Semakin bingung saja Rido dibuat dengan SMS dari Ajeng. "Maksudku jk benar itu tantemu. Aku takkan sanggup menghadapi. Hubunganku dgn keluarga mantan suamiku saja sgt buruk.Akulah yg mungkin bermasalah" jawab Ajeng yang menjelaskan kebingungan pikiran Rido. "Ajeng tanteku yg td ga ada hub darah dgnku n bkn bagian klga bsrku.Dia kuanggap 'orangtua' selama aku bekerja n tinggal d kota ini.Aku jg sdh bercerita ttg kamu pd tanteku sblmnya n dia oke2 sj malah pingin aku cpt nglamar n nikah dgn kamu.Td mlm dia gak tahu kl yg ngebel km n dia kesal kok nelon ga dibalas2.Krna kesal dia ngomel n maki2 orang yg ditelpon itu.Coba kamu jelaskan siapa dirimu n cari siapa?" kembali Rido jelaskan lagi duduk persoalan kejadian itukepada Ajeng untuk kesekian kali buat meluluhkan hati Ajeng. "Ajeng smuanya krn kesalahpahaman sj dan emosi sesaat yg kuasai hati kita.Tak ada yg salah kamu,aku,n tanteku jg."Maafkan aku" mas brjanji akan non aktifkan calldivertnya, kurasa dah ganggu mas.Td ibuku ngebel juga beralih ke telp tanteku n ibuku n tanteku dah ngerti kok kalo itu call divert. km dah ngerti penjelasan ini? Bgaimana masih mau memaafkan aku?" entah kenapa tiba-tiba Rido seperti punya keberanian untuk jelaskan perkaranya kepada Ajeng. Ajeng pun sepertinya tak bisa membalas hanya menunggu dan berfikir apa SMS selanjutnya. "Ajeng ssungguhnya aku masih cintai n sayang kamu.Aku pun slalu rindukan kamu n mnerima dirimu apa adanya.Sprti janjiku aku takkan tinggalkan kamu apalgi selingkuh,mendua,atau berkhianat.Tak ada dlm pikiran mas. Kamu tahu yg ada dlm fokus hidup mas adlh menikah dgnmu,memikirkan bgaimana caranya bs menikah dgnmu,hidup bersama n bhgia sperti yg mas katakan sblmnya. tp skrg kamu mau tinggalkan aku, putuskan aku n mau buang aku dari hatimu. It's ok.semua keptsan terserah kamu.Kamu brhak putuskan kok" akhirnya Rido berhasil mendapatkan kembali kekuatan untuk memberikan sikap kepada Ajeng. Rido gak mau terlarut-larut dengan keadaan seperti ini apalagi malam menginjak pagi. Dia pun harus kerja esok harinya. "Ajeng kutunggu keputusanmu malam ini atau paling lambat esok hari. "Apakah aku selalu ada dlm hatimu untuk saat ini dan saat selanjutnya? Apakah engkau masih mecintai, menyayangi, n menerima aku ?" kutunggu jwbanmu malam ini n pling lambat esok pagi. Bila kau diam n tak menjawab berarti kau putuskan tuk tinggalkan aku. Aku pun akan pergi dr mu biarlah aku cari hati yg lain.Aku akan lupakan kamu,hapus ingatan ttgmu dr pikiranmu,anggap aku tak ada n aku anggap kamu jg tak ada.ok kutunggu jawabanmu" SMS terakhir dari Rido mungkin karena dia sudah mulai lelah buat memikirkan kejadian ini. Rido hanya ingin keputusan pasti dari Ajeng. "Yang terjadi biarlah terjadi dan esok aku harus kerja lagi" kata Rido dalam hati lalu dia pun mencoba untuk pejamkan mata dan tidur, namun dia masih hidupkan HP-nya sambil di-charge. "Kling..." SMS dari Ajeng masuk dan dengan setengah mata terpejam Rido membaca SMS itu. "Iya" Ajeng hanya menuliskan pesan teramat pendek untuk menjawab pertanyaan Rido.rido seakan ga percaya lalu membuka keduamatanya dan tersenyum bahagia. "Terima kasih kau telah membuat keputusan.Dan keputusan ini kupegang terus. Skr dah malam kita tidur ya..esok hari kita berbuat yg lebih baik dr hr ini.Selamat malam" Rido me-reply SMS dari Ajeng dengan perasaan berbunga-bunga. "Selamat malam. Aku kangen cintamu..." ternyata Ajeng juga membalas SMS dari Rido. Tapi Rido sudah tertidur dalam mimpinya. Mungkin bermimpi bersama Ajeng di tempat terindah. ************************************* Satu tahun kemudian di dalam sebuah rumah di pinggiran kota B. "Kling..." sebuah SMS mengagetkan pasangan suami-istri yang sedang bercinta dalam sebuah kamar. "Pa ada SMS masuk dibaca dulu" kata istrinya yang bangun dan benahi dirinya. "Iya Ma" kata suaminya yang sebetulnya gak kesal juga ketika hasrat cintanya sedang tinggi tiba-tiba diganggu oleh SMS yang masuk dalam HP-nya. Dia pun bangkit dari ranjangnya dan menuju meja tempat HP itu tergeletak. Lalu membuka pesan masuk tersebut dan membacanya. "Rido, kamu nih orangnya suka ngasih nomer teleponnya ke teman-temanmu tanpa konfirm ke aku ya? aku sangat kecewa dan sangat terganggu karena teman-temanmu yg menghubungi aku sangat tidak sopan dan m,enggangguku.Tolong jangan lagi kamu kasih no hpku ke teman-temanmu yg ga bener itu.maaf jika kata-kataku kurang berkenan.Thx" Sri, teman lama Rido tiba-tiba mengirimkan SMS di malam itu. "Hmhmhm....ngapain sih anak itu.ganggu orang saja" ikir Rido dalam hatinya. Lalu dia pun berikan reply atas sms itu. "Mana kutahu no tmnku yg mn? Maaf kl aku salah. aku ga ngasih no telp km k tmn2ku trus knpa km nuduh aku? dah deh di-del aza no ku n no telp yg gangguin km.Good night i'll ml with my wife hehehe....bye..." Rido membalas SMS dari Sri sekalian me-off kan hp-nya. Lalu kembali dia ke ranjang dimana istinya sudah menunggu. "Siapa pa? ada apa kok kelihatan kesal?" tanya Ajeng, istri Rido dgn penasaran. "Ga pa-pa kok ma. Tuh si Sri, mantan pacarku dulu sewaktu kuliah gangguin aza, fotonya ada profileku di situs***.Mama dah lihat khan? mungkin dia ngiri kali sama aku yang udah nikah. Rasain sekarang dah jadi prawan tua" jawab Rido sambil tangannya merengkuh dan memeluk tubuh istrinya. "Kasihan ya pa si Sri. tapi papa lucu juga kok ada yang masih perawan, cantik, dan kaya kok milih aku" jawab istrinya yang juga memeluk suaminya dan merapatkan tubuhnya.Serta merasakan tangan suaminya yang mulai nakal dan berkeliaran ke tubuh sensitifnya lalu mengusap-usap dan mengelusnya.
"Istriku aku cinta kamu" tanpa ada basa basi sang suami pun mencium bibir istrinya dasn istrinya juga menyambutnya. Mereka bergeliat, mereka tenggelam dalam samudra malam yang seakan tak berakhir... Bksi, 01 agustus 2008tulisan SMS ini berdasarkan kejadian nyata yang dialami penulis namun ada yg dirubah dikit buat dukung cerita.
sedang nama n kejadian dlm cerita ini fiktif belaka.


"




(Read More... Cerpen | Score: 5)
Cerpen
Reads: 332

EYANG JARWO


Posted by redaksi on Wednesday, January 13 @ 00:46:03 EST
kajitow writes " Sorot tajam mata pemuda itu menggambarkan keruh yang penuh sesak menghuni hatinya, nafas memburu layaknya kuda perang tercipta dari ledakan emosi yang tak mungkin terbendung lagi. Sebilah parang berkilat digenggamnya erat dalam langkah tergesa menuju gerombolan yang ramai berpesta minuman. 

Seketika itu juga tawa riuh pesta tersekap kedalam barisan gemetar ketakutan tubuh mereka. Tampak jelas seorang lelaki berkalung emas pucat pasi wajahnya, saat melihat pemuda garang tersebut telah berdiri tak jauh dari hadapannya. 

Tak satupun dari mereka yang berani sedikit saja menggeser posisi dari tempatnya berada, semuanya menahan detak jantung dan hela nafas yang kali ini terasa sangat berat untuk dilakukan. Termasuk lelaki berkalung emas itu, orang yang sebelumnya menabur angin dibelakang  pemuda kokoh yang kini ada di depan matanya. 

Bukan hanya pemuda pemegang parang itu saja yang membuat tubuh mereka terasa lunglai tak bertenaga, tapi puluhan pemuda lain yang tiba-tiba menyusul dibelakangnya dengan wajah yang tak kalah buas. Akhir perjalanan hidup mereka telah tergambar jelas di pelupuk mata, semua yang hadir disitu mengenal  keberingasan lelaki ganas yang tak seorangpun pernah berani mengusiknya. Tidak ada kata damai apalagi surut mundur kebelakang bagi lelaki tangguh itu apabila tangannya telah menggenggam senjata. 

***************************             

Di dalam masjid, tampak seorang kakek tua sedang berdiri tegak layaknya tiang kokoh. Pandangan matanya menunduk kearah tempat sujud yang telah melapuk terlindas dahi tebalnya. Di tengah lelapnya manusia lain terbuai mimpi, dia tak bosan membisikkan bacaan lirih yang terucap pelan hampir tak terdengar jelas. Punggung yang mulai bungkuk itu masih sanggup berdiam dengan tenang di malam dingin menusuk tulang, meski telah cukup uzur, tak sedikitpun dia merasa lelah melakukannya. 

Hanya suara kesiur angin menerpa dedaunan dan bunyi jengkerik yang terdengar setia menemani sunyi-kudus milik kakek tua itu. Seolah dawai alam yang membawa selaksa damai bagi insan yang rindu bahasa dekat Sang Pencipta jagat raya. 

Sesekali dia terbatuk, nafas tak lagi ber-irama sebagaimana mestinya, maka setiap kali dia menghelanya sebagian udara dingin itu tersekat di kerongkongan lalu berdesakan keluar tak terkendali. Meskipun begitu tetap saja dia berdiri kokoh tak tergoyahkan, sendiri menyatukan diri dengan kehakikian. 

Malam telah bergeser beberapa jam dari angka dua belas. Detak jam dinding berpadu mesra dengan degup jantung yang entah sampai kapan mampu terus berpacu mengejar sisa-sisa hari yang dimilikinya. Buliran-buliran air bening perlahan mulai terlinang seiring gulir detik berat mendekati subuh, serupa embun sejuk diluar sana yang membasuh segala yang terserak. Isak tangis semakin terdengar keras ketika segala gambar pekat masa lalu datang membayangi, timbunan dosa hadir menghantui dan perjalanan hidup tak lagi mampu lebih lama dimiliki.                                                 ******************************             

“Kau tidak mencintaiku Rena?” Tanya Beny, sambil menyelinap kedalam pandangan penuh takut Renata. 

Malam itu langit terasa lebih sunyi dari biasanya, ruang kosong asing terbentang luas diantara mereka berdua, yang membagi jarak jelas antara cinta dan misteri keruh didalamnya. 

Gadis itu hampir-hampir tak sanggup menggerakkan bibir terkatupnya, siapa yang mampu menatap mata beringas lelaki perkasa yang belum pernah ada seorang jagoanpun yang sanggup mengalahkannya, manusia berwatak batu yang tak kenal takut. Tapi diam tidak akan menyelesaikan segalanya, harus dia ucapkan sesuatu meski itu dengan menanggung makian kotor atau tamparan keras tangan kekar Beny, seperti yang kerap kali didapatkan-nya dari puluhan lelaki kasar diluar sana. 
Dengan mencoba untuk tampak tenang semampunya akhirnya Renata berkata. 
“Sejak kapan pelacur punya cinta?” Tukasnya sambil menahan degup jantung yang kian tak terkendali. 

Dia mencoba meredamnya dengan menjauhi tatap mata Beny yang menyala dan berpaling kearah lain seolah sedang mencari tempat yang kokoh untuk berlindung. 

Seketika itu juga hening datang menyekap dari segala penjuru, gadis itu perlahan mendongakkan kepala tertunduknya kearah wajah Beny sambil berharap-harap cemas. 

Namun sesuatu yang sebelumnya tak pernah terlintas di pikiran Renata hari ini terjadi. Terlihat jelas liar mata Beny berubah menjadi redup dan berkaca-kaca, perlahan-lahan buliran-buliran bening terurai keluar dari dalamnya. Lelaki keras itu menitikkan air mata, satu hal lumrah yang hampir mustahil pernah dilakukannya. Sebongkah batu sombong tersedu menahan tangis, tidak ada keangkuhan Beny hari itu, seluruhnya kandas melebur kedalam gejolak yang jauh melampaui keperkasaan-nya. 

Serta-merta penyesalan tak terhingga menghimpit dada Renata, seharusnya dari dulu dia memahami getar tulus milik Beny, meskipun lelaki angkuh itu tak pernah mampu mengucapkan-nya. 

Tapi orang lain tetap saja tak mengerti bahwa seorang pelacur sekalipun berhak memiliki cinta, bahkan sepertinya mereka tak sedikitpun perduli dirinya dekat dengan siapa. Apa yang bisa dilakukannya ketika tangan kasar mereka memaksanya melakukan sesuatu yang sama sekali tidak disukainya, pekik merdekanya telah dibeli semenjak dia terjurumus kedalam lumpur hitam itu bertahun-tahun lamanya. 

Renata tak kuasa lagi menahan pilu yang hadir tiba-tiba memenuhi ruang hatinya, air mata mulai berlinang membasahi pipinya mewakili segenap pedih sama yang di rasakan oleh Beny saat ini. Segalanya telah terjadi tanpa sedikitpun mampu untuk dia hindari. 

Sunyipun kembali hinggap dan menyelimuti hati dua insan yang kini terlarut dalam samudera pilu tak bertepi. Kemudian sesudah senyap itu memasung kata-kata bermenit-menit lamanya, dengan nyala dendam Beny berkata. 

“Bajingan itu harus membayarnya!!!”

***********************             

Ada yang hilang bersama gelap malam ini, hangat senyum seseorang yang dulu pernah menyalakan degup liar milik kakek tua itu. Perjalanan hidup yang tak termengerti olehnya telah memapah jiwanya ke-satu jalan yang dulu sangat sulit ditempuhnya. 

Terus saja dia mengembara kemasa silam dimana sisi lain telah berakhir atau justru hari itu segalanya baru saja dimulai. Masih segar tertanam dalam dalam ingatannya, gambaran duka seorang gadis yang terbaring lunglai tak berdaya, wajah cantiknya terlihat sayu pucat pasi. Peperangan panjang tak berbuah apa-apa saat degup jantung menunggu hitungan jari, ketika nafas terbatuk tak kuasa terhela kuat lagi. 
“Sampai kapan kau akan terus begini?” Ucap gadis itu, suaranya terdengar parau tanpa tenaga. Tatap matanya yang keruh seolah belati tajam menghujam dengan keras kedalam dada siapapun yang menyaksikannya. 

“Kembalilah selagi masih sempat, demi aku." Tambahnya, 
penuh rintihan memelas diselingi nafas terbatuk miliknya. 

Hari yang menguras air mata itu telah membekaskan pedih yang teramat dalam menyayat hati. Sebuah akhiran pilu yang tak pernah diinginkan oleh pasangan manapun di seluruh jagat ini benar-benar telah terjadi. Serupa duri-duri menyengat yang menyisakan pedih tak berkesudahan dan terus menikam seiring setiap detik yang terlewati. 

Tapi cinta yang terus bergejolak di dalam hati tetap takkan mampu terpisahkan oleh apapun, bahkan dengan kematian sekalipun. Terlalu banyak liku perjalanan hidup yang telah dilalui, akan sangat per*****a bila cinta yang sudah diperjuangkan dengan bertaruhkan nyawa itu lenyap hanya karena berpisah jasad. 

Kakek tua itu kembali membuka seluruh lembaran ingatan masa lalu, mengulang segala peristiwa yang terjadi dalam imaji. Satu persatu bayangan gadis itu berkelebat, seolah benar-benar hidup dan berucap. Sehingga masih terngiang ucapan itu sampai kini, terasa baru saja didengarnya, padahal puluhan musim telah berganti, ribuan hari telah berlari, jutaan kenangan purna terlewati.                                                 **************************

Beny masih sibuk membaca teka-teki dari ucapan seseorang yang kemarin malam menemuinya. 

“Kau tidak tahu semalam Rena bersama siapa?” ucap lelaki kurus itu, sambil menempatkan setumpuk resah yang cukup kedalam hati Beny melalui tatapan mata cekungnya. 

“Singa lain di rimba kita.” Tambahnya dengan penuh rasa benci. 

Malam itu nama besar seorang Beny terserak layaknya sampah kotor tak berharga, diamnya selama ini telah diartikan sebagai tanda-tanda kelemahan oleh pihak lain yang membenci dirinya. Padahal telah sampai Beny pada batas bosan bertindak dengan kekerasan, bergumul dengan darah, menyerang dan menerjang seterunya di medan laga. 

Tapi anehnya keadaan terus saja memaksa dirinya untuk tetap mempertahankan kekuasaan yang telah bertahun-tahun lamanya diperoleh dengan penuh bertabur luka. Kali ini sudah cukup rasanya dia membiarkan polah jawara lain menginjak harga dirinya, tiba saatnya untuk kembali bangkit dan membuktikan kepada mereka gelegar keperkasaan-nya yang masih tetap menyala. 

Semakin lama Beny semakin membatu dalam diam-renungnya, hatinya terus bergejolak memaknai kata-kata panas tersebut. Merajam kelaki-lakian luhur yang belum pernah ada seorangpun yang dengan terang-terangan menghinanya. 

“Ternyata masih ada orang yang berani menabur angin di belakangku, menyentuh Renata berarti menantang diriku.” 

“Tapi apakah pantas seluruh perjalanan semu bersama Renata harus ditebus dengan peperangan besar? Bukankah selama ini memang tidak ada ikatan yang jelas antara aku dan Rena? Harus ada penjelasan untuk segala yang terlewati dari bibir Rena sendiri, akan terlihat sangat bodoh apabila aku memperjuangkan sesuatu yang tak pernah kumiliki.” 

“Ah, kenapa Rena tak juga mengerti, ada getar lain di dasar hati ini, gejolak aneh yang terus saja memaksaku untuk takluk pada pesonanya. Haruskah semuanya diwakili dengan kata-kata? Padahal setiap kali tatapan mata bertemu, segala bahasa lenyap tersapu kegugupan asing yang serta-merta hadir di lubuk hati. “ 

“Jikalaupun memang benar tidak ada gejolak yang sama di hati Rena, seharusnya anjing itu mengerti kedekatan Renata denganku telah cukup menjadi garis jelas untuk menjauhinya.” 

“Tampaknya dia memang sengaja membuat keruh, sudah tidak ada jalan lain lagi, dia harus menuai badai dari angin yang ditaburnya!” Bisik Beny dalam hati, diiringi bunyi gemeretak giginya yang beradu.                                                 ****************************             

Terus saja dia bersujud sampai basah sajadah usang itu dengan air mata tuanya. Kidung sunyi syahdu meresap begitu kuat kedalam hati di kedalaman pekatnya malam. Orang-orang mengenali lelaki lanjut usia yang penyantun tersebut sebagai penjaga masjid. Setiap orang akan selalu disapanya ramah bila bertemu dengan dirinya tanpa sedikitpun mempersoalkan jumlah usia. 

Kakek yang selalu murah senyum itu kemudian terduduk seusai sembahyang malam yang biasa dia tunaikan. Doa-doa panjang yang menguras air mata siapa saja yang mendengarnya-pun telah selesai dipanjatkan kepada Sang Halik dengan penuh rintihan. 

Terlihat jelas belang bekas tattoo di kaki dan tangannya, sewaktu tersingkap kain panjang penutup aurat itu oleh gerakan duduk bersilanya. Masyarakat setempat memanggil lelaki tua ahli ibadah itu eyang Jarwo, nama lengkapnya Benyamin Sujarwo. 

Kini sesal menggunung menghimpit dada rentanya, setiap detik yang berlalu adalah sebuah kesempatan emas untuk menebus dosa. Demi cinta Renata yang telah membuatnya kembali kejalan lurus ini, tidak boleh ada kata lelah untuk mensucikan diri.
"




(Read More... Cerpen | Score: 0)
Cerpen
Reads: 329

MOMENTUM


Posted by redaksi on Wednesday, January 13 @ 00:36:38 EST
pradipta writes "     Jika murid yang lain sedang mencatat penjelasan guru, berbeda denganku. Berdiri didepan kelas seorang diri, dipenuhi malu yang bertumpuk-tumpuk, tiap menit ingin segera kuakhiri. Seperti sapi jantan yang memamahbiak, menunduk sambil cengengesan tak jelas. Posisi yang asing bagiku karena ini yang pertama kali, sebuah kehormatan yang sekaligus menjengkelkan. Ya, berdiri didepan kelas.
     Ketika teman sekelas asyik dan santai mendengarkan penjelasan, menyimak pelajaran hingga bel usai berbunyi. Aku malah terlempar didepan kelas. Disini, didepan kelas aku sedang berdiri. Hal yang memalukan karena teman sekelas dapat leluasa memandang ketololanku yang tak dapat menyelesaikan soal fisika. Semua berawal dari undian yang siapapun tak dapat menebak. Kocokan nasib setiap nama murid, lebih tepatnya 40 murid, belakangan aku tau ternyata spesial tersedia 10 nama bagi seorang siswa dalam kaleng undian yang akan diuji kemapuannya setiap rabu pagi.
***
     Pukul 7.30 bel masuk berbunyi. Pemandangan siswa-siswi berjejal menuju pintu kelas hal lumrah disetiap sekolah. Hal yang membedakan adalah suasana ruang kelas IPA 1. Kelas strategis, karena bersebelahan dengan wc dan kantin bahkan berdampingan dengan tempat parkir. Keunikan kelas ini tercermin didinding belakang kelas yang menghadap papan tulis, gabus berbentuk siswa berkepala bom berdasi ujungnya berstrip 2 dan menunjukan dua jari, ”peace” kira-kira begitu maksudnya.
     Karya unik nan inspiratif itu adalah ikon kelas kami, kami menyebut kelas kami explosif, singkatan yang pendek kata mewakili tiap elemen siswa kelas IPA 1. Siapapun masuk kekelas kami dia akan disambut sang ikon explosif. Setahuku, guru-guru yang mengajar dikelas atau yang sempat melewati pintu akan memberi komentar untuk sang ikon. Dan komentar-komentar berujung pada seorang siswa ungasan, namanya Mei, sang seniman imajinatif kebanggaan kelas. Awal mengajar, guru-guru selalu tertarik mengulasnya sejenak dan siapa pembuatnya tentu selalu ada yang menyaut dengan kompak ”Meibe”. Meibe dialah Mei teman sekelas kami, sang seniman kreatif. Julukan yang makin melambungkan namanya dikelas, didapatnya saat mos, masa orientasi siswa semacam perkenalan lingkungan sekolah bagi siswa baru.
***
     Dikelas ini tepat hari Rabu jam pelajaran fisika. Aku gugup, tanganku bergetar. Keringat menyembul di punggung membasahi singlet putih yang kukenakan. Tiap detik tubuhku semakin menjadi-jadi. Tiba-tiba ”kriiiiiiiiiiiiiing . . .”, suara weker menghantam gendang telingaku disusul desahan kecewa teman-teman sekelas. Tanganku yang telah sepuluh menit mengobrak-abrik satu soal fisika menemukan ajalnya, sang empunya tak bisa menyelesaikan pertanyaan bermodalkan 10 menit. 

     Tanpa berkutik sedikit pun, aku tetap berdiri tegap masih menghadap whiteboard. Tangan kanan memegang spidol dengan ujung yang menitik dipapan putih ini. Seolah merenungi 10 menit yang telah berlalu. Begitu cepat, mungkin aku yang terlalu lamban mengerjakan soal dan walau sehari penuh pun diberi kesempatan, soal fisika yang membuatku berpikir keras tentang gelombang, kini seperti gelombang  ombak siap menelan tubuh mungilku.
     Kupaksakan menoleh kekanan, pak Anam Zakaria tersenyum menggoda. Dari balik senyum diwajahnya, jauh didalam pekat hitam dibola matanya bisa kurasakan bahwa dia kecewa. ”Kenapa soal semudah ini tak dapat kau kerjakan?” senyum bisunya kurasakan berkata demikian. Jauh disela kerutan yang bergelombang didahinya, dia berhasil memberi pelajaran seorang siswa yang tak acuh pada penganut pahan Einstein ini. Bagaimana bisa kuselesaikan sementara deman panggung telah menciutkan nyaliku berada didepan kelas. Sehari sebelumnya, aku hanya berbekal kemungkinan tak akan berada pada situasi ini. Nyatanya hari ini, sial bagiku. Sisa jam pelajaran fisika harus kulalui dengan berdiri didepan kelas persis torso di lab biologi yang menarik perhatian.
***
     Pak Anam adalah sosok guru pada umumnya, beliau ramah dan rajin. Jarang beliau absen mengajar dikelas kami dan memasuki kelas tepat waktu. Guru fisika ini sangat flamboyan dimata anak-anak Foursma, Foursma sendiri nama populer SMA kami yang tak asing lagi di seluruh penjuru pulau dewata ini dan kaum pelajar smp sangat antusias ingin melanjutkan jenjang pendidikannya di sekolah ini, apalagi label SMA kami bertaraf international. Gaya berpakaian Pak Anam yang rapi, memakai kaca mata bening. Mencerminkan sosok intelektualitas dalam dirinya sebagai pengajar disekolah favorit. Selain juga beliau pembimbing klub fisika, salah satu klub yang tak pernah absen mengikuti serta menyabet berbagai juara disetiap ajang lomba. Beliau juga murah senyum, senyummannya sungguh meneduhkan saat pelajaran  memasuki tahap mumet, dimana ada beberapa soal yang tak sanggup dipecahkan. Beliau akan menjelaskan dengan sangat jelas, bagi yang tak acuh pun akan terpana dan langsung mencatatnya. Rata-rata kesan positif jika pak Anam sedang mengajar. Yang khas dari beliau dan membedakannya dari guru lainnya ialah sebuah weker hijau dan undian. Kedua benda itu menjadi momok setiap Rabu pagi.
     Jam weker hijau yang berdering melengking nyaring menginterpretasikan  kesan lain nan kreatif dibalik sosok Pak Anam. Bagaimana dedikasi seorang guru yang berpuluh tahun mengajar, mengenal berbagai karakter anak didiknya, berbekal pengalaman mendidiknya, kini memunculkan metode yang lekat dengan sosok beliau. Weker, sisi lain dari ketegasan disiplin dalam sistem pengajaran fisika yang diterapkannya. Lalu undian berisikan 40 nama siswa sekelas memenuhi unsur keadilan tak berpihak. Peluang seperempat puluh kami kantongi jelang pelajaran fisika di Rabu pagi.
     Dua perkakas keramat Pak Anam mampu menghadirkan stimulus baru. Stimulus yang memacu gairah mempelajari fisika. Sukses besar itu jawaban nyata atas lestarinya metode weker hijau. Jika banyaknya siswa belajar serentak dikelas menyambut Pak Anam, sebanding jumlah kecemasan siswa menanti selembar gulungan undian dibacakan. Drama weker dimulai, korden hijau yang tertutup rapat menghalangi keinginan bagi siswa yang melintasi kelas kami untuk menengok siapa yang berdiri hari ini.
***
     Ini puncak penderitaan dan penyesalan bagi siswa yang mematung didepan kelas. Kepala dengan berat jenis kian bertambah sangat sulit kuangkat wajahku. Berjam-jam harus kulalui dengan memalukan. Terdengar jelas suara pak Anam yang tegas berbobot silih berganti menghibur dahaga 39 fisikawan muda yang duduk menatap kedepan kusaksikan sangat antusias menerima pelajaran pagi ini. Sesekali kucuri pandang, melirik keadaan kelas dan kembali menunduk. Aku ingin siksaan ini berakhir dan berlalu secepatnya.

     Setengah jam lewat, aku tetap tegar semampuku. Posisiku semakin merangsek kedekat pintu. Siapa yang peduli nasib anak yang semalam sibuk memikirkan kemungkinan dia tak akan maju hari ini. Malah berharap tak pernah mendapat giliran sama sekali, semua terjawab sudah. Seluruh teman sekelas, wajah mereka sangat tidak bersahabat. Menjadikanku kebalikan titik pusat dari perhatian mereka. Teman-teman sekelas layaknya melihat penjahat yang baru diketahui selama ini berada dikelas. Satu pun tak ada yang menyapaku dengan senyumannya. Mereka terlalu sibuk mencatat dan mengerjakan latihan soal. Kecuali sang ikon kelas, jari telunjuk dan tengah membentuk tanda peace sedikit meredam gemuruh penat didalam kepalaku.
     Siksaan fisik menunjukkan sinyal berdenyut di sekujur tubuh. Degup-degup jantung bergerak lurus tak beraturan berfungsi jadi pompa, menjalarkan morse lelah mengikuti pembuluh nadi. Kaki mulai pegal menopang berat tubuh. Apa boleh buat, jam istirahat masih lama. Pilihan alternatif *****a berusaha menyerap suara komat-kamit teori fisika yang terdengar makin luntur, sesekali menggetar-getarkan lutut sembari  menekukkan satu lutut 10-15 º secara bergantian.
     Makin sering kupikirkan bel istirahat berbunyi disela kebosanan berdiri, pertanyaan aneh muncul semiotomatis, apakah begini terus-terusan? Berkali-kali sudah meregangkan tubuh dengan menghela nafas, menekuk-nekuk siku dibelakang pinggang, mengepalkan telapak tangan, berkedip-kedip tak wajar, menggoyangkan pundak, meliuk pelan kekanan dan kekiri, tetap belum membunuh kebosanan. Malah sulur kebosanan merambat, tanpa ampun menggulung kepercayaan diriku yang sudah hangus tersiksa api kesabaran.
     Memang berada didepan kelas memposisikan kejengkelan berlebih bagiku, membuat paham anyar sekaligus usang bermekaran dibalik tubuh setengah basahku. Bagaimana nanti jam pelajaran usai, apa yang akan kulakukan untuk kembali ketempat duduk. Bisakah ku berjalan dengan menganggap aku memang lalai hari ini. Lalai memecahkan soal fisika sehingga aku salah menjawab atau berkilah bahwa sebenarnya aku hampir benar menjawab hanya saja rumus gelombang yang kupakai terbalik seharusnya tranversal tapi...ah kacau aku benar-benar kacau didepan,begitukah? Beban pikiran berhasil melemahkanku.
***
     Ketidaksengajaan merupakan setetes kemujuran berdiri di depan kelas, rasa malu yang menjinakkan wajah sehingga menunduk menuntun mata menemukan sebuah meja. Kusorot meja, mataku tertuju pada sesosok gadis, dia sibuk menghadap kearah catatannya, telinganya terpasang siaga menangkap hal penting yang harus dicatatnya. Terkadang hal penting yang mestinya dicatat berlalu cepat melewati daun telinganya, dia menoleh kebelakang memutar tubuhnya mendekati 180º. Berusaha mempertegas kerancuannya, dia mengusik konsentrasi Yuli, gadis yang duduk sebaris dibelakangnya. Sekali-dua kali mungkin bisa ditoleril oleh Yuli, yang terjadi malahan terasa mengganggu juga konsentrasinya. Iseng akhirnya ku bersuara datar mengulang irama pak Anam dan tanpa memerhatikan guruku itu, aku tertular ikut komat-kamit bak backing vokal. Manik, nama gadis yang menoleh kebelakang jika tak jelas mendengar, detik itu menyimak pengulangan gratis tanpa pamrihku.
     Kejadian serba kebetulan ini membantuku tetap bertahan dari endapan perasaan bodoh semenjak namaku terbaca dari nomor absen yang tergulung di kaleng undian. Paling tidak aku sebisa mungkin tidak membisu hingga akhir pelajaran fisika. Selanjutnya, aku membantu Manik mempertegas suara-suara berbau fisika yang silih berganti disalin kebuku catatannya, walau raut wajah gadis ini menampakakn kesan bahwa dia tak membutuhkan bantuan siswa yang berdiri didepan kelas, kebodohanku ditelanjangi beberapa baris soal fisika didepan kelas.
     ”Teett...teeeeettt......teett”, aku terkejut.
     Tubuhku mendesing, seumpama telah terlelap dan dibangunkan paksa. Riak-riak kecil perlahan bergema menjelma suara gaduh diselingi suara kaki meja menggesek tehel putih seperti yang kuinjak selama 2 jam pelajaran. Derap langkah siswa tumpah disekitar ruang kelas kami.

     ”Momentum yang kutunggu datang juga”, bisikku dalam hati. "




(Read More... Cerpen | 11926 bytes more | Score: 0)
Cerpen
Reads: 251

Izukalizu


Posted by redaksi on Wednesday, January 13 @ 00:34:03 EST
bayu200687 writes "Apa saja yang aku kabarkan padamu, lewat puisi, lewati cahaya kunang-kunang, maka itu mungkin adalah sebuah frasa yg hanyalah frasa. Atau bisa jadi kau yang memberinya makna. Hanya saja, aku berpikir, tak ada yang perlu memaknai tiaptiap huruf, kata, ataupun sepenggal resah. Meski kadang aku ingin.  

Tapi tiap imaji yang tercipta, menyeruak tibatiba, hanyalah sesaat yang mungkin saja abadi, namun kelak tetap saja akan retak. Seperti ketika aku bermain begitu riang dengan menghamburkan katakata pada berlembarlembar kertas, menghabiskan waktu yang semakin tak terasa melewatiku begitu saja. Atau seperti ketika aku terpaksa terpekur, merenungi makna dari tiap kata yang hampir saja tercipta namun tak pernah ada kecuali sekedar bermain saja dalam labirin yang sengaja kuciptakan.
 

seperti anak kecil kehilangan ibunya. Seperti negeri ini kehilangan hijaunya. Seperti daun kuning mencium bumi. Seperti aku merindukan bumi juga. Bumi yang mana…
 

Waktu pun menjalani kehidupannya seperti tergesa. Agar tak ada yang terlambat sampai ke sekolah, kantor, dan tempat sampah. Aku, engkau, dan juga seisi bumi,kadang, lupa. Atau melupakan. Atau purapura lupa. Atau tak peduli. ah…
 

Ada hujan bulan agustus, ada pohon kelapa di pesawat garuda, ada laron kasmaran pada mati, ada pula anjing yg meratapi gerimis logam dan bulan sabit di atas kuburan. Apa yang kau tangkap dari frasafrasa itu? Tak ada. Kecuali engkau merasa terlalu jenius hingga meski mencaricari misteri di balik itu semua. Seperti main petak umpet atau menyusun puzzle. Bisa saja itu hanyalah potongan yg tercecer dari ribuan bahkan jutaan imajinasi. Bisa saja itu anakanak kata yg tersesat dan sengaja tak ingin pulang. Bisa saja itu mantra untuk membuat orang yang mendengar dan membacanya sakit jiwa. Ya…bahkan tiap huruf menyimpan misterinya sendiri. izukalizu.
 

Bisa saja ilham tak datang kali ini. Maka yang kuserahkan pada guru sastra tentu saja selembar kertas bertuliskan nama dan nomor absent saja. Atau untuk menghindari kekacauan yang bukan pada tempatnya, bisa saja ku tulis ‘ilham sakit, ia tak bisa datang’. Biar saja senja memerah, biar saja gugur mahoni tiap kemarau, biar saja kayukayu hutan menjadi alas makan, biar saja setiap orang datang dan pergi, biar saja revolusi terjadi tiap hari. Biar aku mencintai…
 

Gelas bekas teh aku tuang air putih. Warnanya jadi kekuningan. Seperti warna logam, seperti gerimis. Dan hujan menulis haikunya sendiri.
 

Aku ingat aroma gerimis, tanah, dan sawah. Lalu aku juga ingat aroma sampah tiap kali berangkat kerja. Tapi yg paling kurindukan tentunya aroma senja di lapangan. Entah kenapa. Aroma yang sangat akrab, meski tiap kali datang tak pernah ku kenal. Kadang aroma tawa bocahbocah desa, aroma petir dan kilat yang menyapa mata, aroma asap jerami dan ubi kayu, aroma rumput, bola, dan tanah becek. Saat itu, saat aku kadang tak ingin melewatkan senja. Bersama mereka. Bersama aromaaroma itu. Bersama aroma rindu…


Uh…senja memang senantiasa menakjubkan… namun tetap saja aku, dan engkau tak bisa berharap setiap detik adalah senja. Setiap saat adalah remangremang.

http://rumahdanmimpi.blogspot.com/2009/07/rumah-impian-izukalizu.html
"




(Read More... Cerpen | Score: 0)
Cerpen
Reads: 875

Terpesona


Posted by redaksi on Thursday, November 27 @ 22:24:40 EST
sahid writes "
Seorang mahasiswa memasuki kelas. Sebagian pakaiannya basah akibat kehujanan. Di luar memang hujan deras, namun ia memaksakan diri menerobos hujan deras demi sampai di kampus. Meski sudah terlambat selama setengah jam, lelaki itu tetap saja memasuki kelas. Tak dipedulikannya dosen yang sedang sibuk memandu diskusi kelas. Ia langsung saja mencari kursi yang kosong dan duduk dengan santainya.

Lelaki itu tampak kuyu dan berantakan. Terlihat benar bahwa ia tidak bersemangat untuk pergi kuliah hari ini. Ia tidak membawa tas dan buku-buku. Kehadirannya hanya untuk mengangkat tangan saat kuliah ini berakhir nanti, agar lembar presensinya terisi. Sebuah lembar formalitas yang memaksa mahasiswa untuk hadir di kelas, agar kelak mereka berhasil mendapatkan satu lagi lembar formalitas yang bernama ijazah.

Diskusi berjalan dengan menarik di kelas itu. Penyaji dan peserta tampak bersemangat. Mereka kaum intelek yang sedang membicarakan retail distribution, service quality, store brand, dan sebagainya, yang akan membuat tukang becak dan penjual nasi goreng terbengong-bengong jika mendengarnya. Tapi diskusi itu tidak menarik perhatian lelaki yang terlambat tadi. Wajahnya muram, seperti cahaya lampu temaram di tengah hutan. Ia berada di dunianya sendiri, seolah ia adalah point of interest dalam slow motion, sementara dunia di sekelilingnya bergerak dengan cepat tanpa dihiraukannya. Pikirannya berlari keluar kelas lalu terbang menemui seorang gadis yang baru saja dikenalnya. Ya, ia sedang jatuh cinta. Perasaan itu baru saja didapatnya ketika ia mengajak makan malam seorang gadis dan menyadari bahwa gadis itu begitu istimewa.

Cinta memang tidak masuk akal. Lelaki yang sedang muram itu, malam-malamnya dipenuhi oleh kegelisahan tak berdasar. Matanya sulit terpejam saat ia hendak tidur. Ia akan tercenung memandangi ponselnya, berharap ada pesan yang masuk. Ketika pesan itu masuk, ia kegirangan dan tak sabar membukanya. Lalu ia menggerutu karena pesan itu bukan datang dari gadis yang diharapkannya. Sementara di malam yang lain, tangannya sibuk memainkan pena, menuliskan coretan kerinduan di atas sebidang kertas.

Diskusi di kelas itu masih berjalan dengan menarik. Akan tetapi lelaki itu masih saja sibuk dengan pikirannya sendiri. Hanya saja, ia sesekali melirik pena dan kertas yang tergeletak diam di kursi sebelahnya. Nampaknya tangannya gatal ingin menuliskan sesuatu. Maka diambilnya pena dan kertas itu tanpa permisi. Tidak dipedulikannya sang pemilik yang kaget terbengong-bengong melihat barang-barangnya diambil. Lelaki itu hanya diam membisu, mengingat-ingat kembali sebuah puisi yang dibuatnya semalam tadi, saat kegelisahan menderanya tak henti-henti. Lalu dituliskannya kembali puisi itu…

Katakan, bagaimana aku tidak terpesona?
Waktu seolah berhenti saat senyummu mengembang
Jantungku berdegup kencang saat kita bertemu pandang
Dan sipit mata saat engkau tertawa, sungguh tak bisa kulupa

Katakan, bagaimana aku tidak terpesona?
Bayangan dirimu menggoda tidurku dan tak bisa hilang… "




(Read More... Cerpen | Score: 4)
Cerpen
Reads: 816

Trier Autra Spear Hyex!


Posted by redaksi on Wednesday, October 29 @ 05:56:13 EDT
sahid writes "
"Ujian di ruang Lab 2!" begitulah isi sms dari Dafin, sang ketua kelas mata kuliah Metodologi Penelitian. Sms itu membuatku lari ke gedung Laboratorium komputer, tempat ujian berlangsung. Hampir tersandung aku gara-gara terburu-buru menaiki tangga. Tapi ternyata sesampainya di atas, teman-teman sekelasku malah asyik berleha-leha. Ah, dosenku belum datang rupanya...


"




(Read More... Cerpen | 6401 bytes more | Score: 0)
Cerpen
Reads: 963

Pembantu, Bukan Pembantu


Posted by redaksi on Thursday, July 31 @ 01:42:23 EDT
pendekarsastra writes "Oleh: M. Saifun Salakim

Duduk melingkari lampu neon, wajah Pak Ali cerah berpikir seperti Abu Nawas. Tokoh yang terkenal dengan kejeniusannya. Dapat menyelesaikan setiap masalah walau hal yang sungguh sulit. Disampingnya Sandi serius menangkap keganjilan sikap Pak Ali. Sesekali Sandi tersenyum.
“San, dokter yang datang kali ini adalah wanita. Masih gadis. Masih muda. Sungguh cantik sekali. Berarti ada kesempatanmu untuk mendekatinya,.”
“Ah, yang benar Pak Ali!”
“Memangnya saya pernah berbohong. Lagian saya tambahkan dokter wanita itu orangnya ramah. Rugi sekali kalau kamu menyia-nyiakan kesempatan.”
“Kalau begitu, saya juga ambil bagian bersaing deh,” sela Tiko dari kursi paling ujung kanan ruangan rumah Pak Ali.
"




(Read More... Cerpen | 24751 bytes more | Score: 0)
Cerpen
Reads: 825

Kunang-kunang di Matamu


Posted by redaksi-2 on Tuesday, July 01 @ 04:38:46 EDT
adiindie writes "kepada: a.n

Dari mata itu, aku melihat dengan jelas bagaimana kunang-kunang itu keluar secara perlahan lalu terbang mengitari wajahmu dan terbang kembai menuju angkasa. Mulanya hanya satu, lalu dua, sepuluh, hingga ratusan atau mungkin ribuan kunang-kunang berkarnaval menuju angkasa dengan kerlap-kerlip serupa percikan kembang api.

Aku temukan tatapan mata yang kosong itu di wajahmu, setelah kamu mengakhiri cerita tentang masa yang telah jauh berlalu dari hidupmu. Mulanya kamu semangat sekali bercerita tentang satu masa, dimana cinta --ku ingat setiap kali kamu menyebut kata cinta, di matamu seperti mengeluarkan kilau cahaya-- membuatmu seperti manusia paling bahagia. Senyuman yang tidak pernah terputus sepanjang ceritamu tentang asmara yang menggelora di masa indahmu, dulu.

"Betapa sempurna hidupku, mendapat pasangan cinta yang sempurna seperti dia", katamu dengan senyuman yang sangat dalam sampai matamu terpejam.

Aku yang masih belum bisa mengerti tentang cinta dan segala kesempurnaanya yang dialami oleh kaum muda hanya bisa ikut tersenyum, walau terpaksa. Karena aku memang belum pernah bisa teryakinkan akan cinta yang sempurna oleh pasangan muda, lain halnya saat aku melihat tetanggaku, sepasang renta yang dimakan usia, bagaimana setianya sang istri mendorong kursi roda yang ditumpangi sang suami dari rumah hingga ke taman yang berjarak seratus meteran dari rumahnya itu setiap pagi hari. hmm, itu yang ku sebut cinta.

"cinta menyatukan kami dan bidadari kecil yang terlahir dari janinku itu buah dari cinta kami", katamu sambil memeluk bingkai yang berisi foto seorang balita yang sedang terlihat tertidur pulas.

Pikiranku langsung melambung ke pasangan renta, tetanggaku, saat sore ku melihat mereka di teras rumahnya dimana dengan sabarnya sang nenek membantu menyuapi suaminya makan bubur. Sang kakek yang terserang lumpuh sejak lama, hanya bisa menghabiskan waktunya di kursiroda. Akhh, ini yang lagi kusebut dengan cinta.

* * *

Aku masih mendengar dan memperhatikan dengan seksama semua ceritamu, begitupun sampai kamu yang tiba-tiba terdiam, dan bingkai di pelukanmu terjatuh. Kamu lanjutkan ceritamu tapi dengan suara yang sangat pelan, seperti berbisik.

"Cinta, cinta, cinta juga yang membuat semuanya berubah dengan cepat. Cinta dia yang ternyata lebih berpihak kepada wanita yang baru dikenalnya itu dan membuat kebahagiaan berubah menjadi kosong", lalu kamu diam dan beku.

...

Dan, kunang-kunang itu mulai keluar dari mata kosong itu...


adiindie
durensawit,
22 Mei 2008

"




(Read More... Cerpen | Score: 4.5)
Cerpen
Reads: 722

T e r l a l u M a n i s


Posted by redaksi-2 on Tuesday, July 01 @ 04:35:29 EDT
pendekarsastra writes "
Oleh : M. Saifun Salakim

Tak tik tok….
Bunyi suara mesin tik berceloteh. Aku lagi mengetik latar belakang suatu penelitian yang dinamakan skripsi. Harus disudahkan. Terus berlanjut pada masalah berikutnya. Makin asyiknya hingga hari tiada sadar mencium kepekatan.
“Ini Bang Za, dibetuli ya?”
“Ya Dim. Beres deh. Pasti dibaiki. Jangan takutlah.”
“Aku percaya. Mau aku buatkan air?” tawarmu.
“Terserah kamu aja deh.”
“Mau minum apa? Susu, teh atau kopi pahit?”
“Teh saja deh. Karena aku memang suka minuman itu.”
“Bereslah kalau begitu.”
Kamu tinggalkan aku sendirian. Terus memainkan mesik tik sehingga berkelokaran. Kalimat yang dirangkai terus membulat satu. Entah sudah berapa ribuan kata. Semua itu untuk menyelesaikan skripsimu.
“Diminum Bang Za mumpung tehnya masih panas? Kalau sudah dinginan tidak enak lagi,” sodormu padaku.
“Tanggung sedikit lagi…”
Tak tik tok…
Mesin ketik marah lagi menguntai kalimat yang akan kuselesaikan. Alhamdulillah, terselesaikan juga. Aku pun menyeruput teh yang kamu bikinkan.
“Wah, enak kali…! Teh apaan sih?”
“Sariwangi…”
“Pantesan enak betul,” pujiku.
“Ah, Bang Za ada-ada saja,” tepuknya pada bahuku.
“Eit, jangan begitu, bukan muhrimnya.”
“Ha…Ha… aku memengerti kok.”
Tehnya aku habiskan juga karena enak sekali.
“Dim, harinya sudah larut nih, abang pulang dulu ya!”
Aku pamitan padanya.
“Mau Dim antar Bang?”
“Tidak usahlah, makasih saja. Oh ya Dim, bilang dengan ibumu bahwa abang pulang.”
“ Ya, Bang Za. Hati-hati di jalan ya!”
Aku langkahkan kakiku meninggalkan rumahnya. Sepedaku kukayuh menerabas kepekatan malam yang kental. Bunyi jangkrik lantang terdengar. Mempuisikan tembang hatinya yang merdu. Seakan ingin mengatakan pada seluruh dunia bahwa merekalah yang memiliki tembang hati yang indah untuk diperdengarkan di tengah malam sunyi bebegini. Seakan keindahan malam hanya milik mereka berdua.
~oOo~

Gedebar-gedebor suara hatimu berbicara. Rasa cemas-cemas dan berharap memenuhi rongga-rongga dada. Tersempal semuanya keinginan untuk selesai. Berhasil. Sukses. Saat ini kamu bersiap memperdebatkan hasil skripsimu di depan pengujimu. Namun kamu masih ingat pesan Bang Za agar dapat membuat dirimu setenang mungkin dalam menghadapi hal yang berkecamuk. Setenang air mengalir. Ketenangan itukan akan memudahkan sampan haluan menuju pantai tujuan dengan mantap. Tidak terombang-ambingkan. Terus gagahnya menuju arah impian atau idaman. Selain itu selalu mengarahkan pada pandangan positif dan optimis. Bahwa kamu akan bisa menyelesaikan masalah tersebut dengan baik. Walaupun terasa berat menenangkan perasaan yang bergejolak, tapi kamu berhasil juga. Hingga dalam pengujian itu, kamu lancar saja menjawab pertanyaan pengujimu dan cermat menguraikan masalah tersebut. Kamu dinyatakan lulus dengan hasil sangat memuaskan. Sebuah predikat terbaik yang tak pernah dibayangkan olehmu.
Rasa haru dan gembira membuat kamu melonjak senang dan wajahmu secerah purnama empat belas hari saat menjabat tangan pengujimu, yang menyatakan selamat atas perolehan itu. Tak ketinggalan jabatan tangan temanmu juga memberikan kata yang menyatakan selamat. Pokoknya kebahagiaan kamu miliki saat ini. Ciuman mesra kepuasan menempel lembut di pipi merah delimamu diberikan oleh pacarmu. Bangga atas keberhasilanmu.
~oOo~

“Bang Za, aku berhasil dengan predikat terbaik,” serumu girang sambil ingin merangkulku.
“Eit, lupa ya? Kalau bukan muhrimnya tidak boleh berpelukan atau bersenggolan kulit. Haram…”
“Maaf deh…,” katamu menginsafi.
“Maaf, maaf terus. Kapan mau sadarnya?”
“Nantilah..,” katamu sekenanya.
“Abis, aku hari ini sangat bahagia. Tidak bolehkah aku berbagi dengan sahabat dekatku seperti kamu. Apalagi Bang Za kan sudah membantuku dengan susah payah, hingga aku berhasil.”
“Boleh, boleh saja. Tapi menuangkan kebahagiaan itu harus melihat situasi dan kondisi.”
“Ya deh, Bang Za ku yang baik. Oh yang Bang, nanti malam ada selamatan di rumahku atas keberhasilan ini. Mumpung ketemu abang sekalian saja aku beserta keluarga mengundang abang untuk datang. Dim, tunggu ya jangan sampai tidak datang?” ujarmu.
“Insya Allah Dim! Akan kupenuhi undanganmu.”
Kamu pun menghilang. Tinggallah aku sendirian.
~oOo~

Rumahmu sangat semarak. Hiasan bunga mengembang terhamburkan. Seperti acara pengantin saja. Meriah selalu. Tamu undangan sangat banyak. Banyaknya adalah teman-teman kuliahmu. Ditambah lagi sebagian orang tua. Pacarmu sudah hadir sedari awal. Semuanya menampilkan keceriaan. Hanya kamu mengandung sedikit mendung bergelayut di ranting pohon sang awan. Pacarmu bingung. Mengapa kamu berduka seperti itu? Kalau ditanya, kamu bersedih karena apa? Jawabanmu, siapa yang bersedih! Tapi rona wajahmu tidak bisa ditipu. Dan matamu sering memandang ke jalanan. Sepertinya ada seseorang yang kamu tunggu kehadirannya. Mungkin sangat berarti bagimu. Hal itu membuat pacarmu merasa iri, seakan dirinya tidak ada artinya di depanmu. Mulailah pikiran jahatnya menerawang kaca bening hari. Jangan-jangan kamu punya pacar baru lagi.
“Dim, mama kira dia tidak datang. Sudah malam begini dia tidak nongol juga. Mungkin dia lagi ada urusan lain yang lebih penting dari ini,” terang mamanya.
“Tapi mam, Dim tidak percaya dia tidak datang. Walaupun sesibuk apapun, dia akan usahakan datang demi Dim. Karena Dim sudah lama mengenalnya. Dim beranggapan lain. Jangan-jangan dia terkena aral atau musibah.”
“Dim, tidak baik kamu berpandangan begitu. Salah Nak,” peringatkan mamanya.
“Tapi mam, diakan sudah janji dengan Dim. Mau datang .”
“Ya… Ya… Mama tahu itu. Tapi kalau ada urusan yang lebih penting dari urusan ini, diakan akan mendahulukan urusan yang lebih penting lagi. Sudah. Jangan berpikiran yang tidak-tidak lagi. Daru kan bisa menemanimu. Kasihan dia, bingung dengan sikapmu sedari tadi,” nasihat mamanya. Yang disinggung hanya tersenyum simpuh. Senyuman yang dipaksakan. Pradimi menoleh pada Daru.
“Maaf ya Dar, mencueki kamu. Bikin kamu bertanya-tanya, siapa yang aku tunggu? Bukan apa-apa Dar, dia hanya sahabat karibku. Nanti dikira kamu pacarku lagi,” jelasnya. Biar tidak ada syak wasangka di hati Daru.
Betulkah dia sahabat karibmu? Atau jangan-jangan ini hanya kelabuanmu saja. Aku ingin tahu siapa dia sebenarnya, bisik hati Daru.
“Tidak apa-apa Dim, aku mengerti kok,” jawab Daru dengan ramahnya.
“Syukurlah kalau kamu sudah mengerti. Mari kita rayakan keberhasilanku ini,” katamu dengan manja dan girang. Walaupun di lubuk hatimu masih menyisakan kekecewaan atas ketidakhadiran Bang Za, sahabat sejatimu.
~oOo~

“Bang Za, kok bisa jadi begini? Ada apaan?” serumu prihatin.
Melihatku terbujur kaku dengan banyak balutan putih di sekujur tubuh. Mataku yang saat itu ngantuk segera membuka, mendengarkan suara halus merdumu.
Hah, Pradimi! Mengapa dia tahu aku di sini? Dari siapa?
Aduh, pegangku pada kepala yang berdenyut. Nyeri. Rupanya benturan kepalaku dengan aspal mengerenyit.
Aku masih ingat saat peristiwa itu terjadi. Aku melintasi sebuah jalan yang bergang-gang langsung menuju jalan raya menuju rumah Pradimi. Dengan perasaan gembira dan senang. Walaupun yang memperoleh kegembiraan itu bukan aku. Namun sebagai teman, melihat dia bahagia, aku juga turut bahagia. Sepeda terus kukayuh dengan irama menarik. Bunyi klotakannya terdengar merdu di telinga. Hingga terus memacu semangatku semakin menggenjotnya agar sampai ke rumah Pradimi dengan cepat.
Rupanya aral tak dapat ditolak, halangan tak pernah diduga. Sebuah colt biru dengan kecepatan super melibasku. Membuatku terbanting jauh menghantam aspal. Kepalaku terbentur. Aku pingsan. Hingga kejadian selanjutnya tidak terekam lagi oleh komputer ingatanku.
Waktu aku tersadar, aku sudah terbaring lemas dan lunglai di kasur empuk. Aku kira aku terbaring di rumah, tidak tahu aku terbaring di rumah sakit. Aku berpikir sesaat atas kejadian itu.
Mungkinkah kecelakaan ini adalah teguran buatku dari-Nya. Atau caranya untuk menghindarkan diriku dari kesenangan semu, akan kuperoleh di selamatan rumah Pradimi. Alhamdulillah, aku diingatkan-Nya. Walaupun aku menahan perih di kepala.
“Tidak apa-apa Dim, *****a sedikit teguran Allah.”
“Kok, musibah dikatakan teguran Allah. Aneh kali. Bang Za, ditabrak lari ya?”
“Tidak tau tuh Dim.”
“Kok, bisa begitu.”
“Abis, aku tidak ingat apa-apa lagi.”
“Sekarang bagaimana kesehatannya ?”
“Alhamdulillah, sudah sedikit berkurang. Walaupun rasa nyeri di kepala masih menyengat.”
“Mudah-mudahan Bang Za cepat sembuh.”
“Terima kasih Dim, sudah merepotkanmu. Mau besuk segala.”
“Kan demi teman. Aku pun kini merasa lega. Kukira Bang Za mengingkari janji. Tapi setelah melihat keadaan Bang Za begini, aku sudah mengerti. Bahwa Bang Za sudah berusaha ingin datang, namun aral itu yang menghambatnya. Dim, tidak kesal lagi.”
“Waktu itu kesal ya?”
“Abis Bang Za tidak datang. Padahal Bang Za kan sudah berjanji mau datang. Ternyata ditunggu sampai larut malam tidak nongol-nongol, apa Dim tidak kesal?”
“Maafkan Bang Za ya? Tidak bisa menikmati kebahagiaan bersamamu. Tapi di sinikan kita bisa berbagi kebahagiaan itu. Bagaimana acara selamatannya, meriah ya?”
“Sungguh meriah Bang Za. Rugi sekali abang tidak datang malam itu. Aku sangat senang. Teman semuanya datang, apalagi orang spesialku juga datang. Makin meriahkan?”
“Ya… Ya…! Oh begitu! Tentu saja. Rugi amat ya… Bang Za tidak bisa hadir. Kalau abang bisa hadirkan, abang bisa melihat orang spesialmu. Tentu mantap pilihanmu.”
“Tentu dong. Siapa dulu Pradimi, gadis imut-imut, inosen, dan baik hati,” pujimu sendiri.
Bang Za hanya menganggukan kepalanya.
~oOo~

Seorang perawat masuk ke dalam ruangan. Jam check in kesehatan dilakukannya padaku. Kamu lalu menyisih. Perawat itu memasang alat pengecek tekanan darah. Tekanan darahku normal. Kemudian dia mengeluarkan steteskop. Diperiksanya denyut jantungku. Normal. Hanya sedikit di kepala yang harus diobati. Paling enam atau tujuh hari bisa diatasi. Perawat itu memakai kerudung putih. Hanya matanya yang nampak. Senyumannya tidak pupus dari kelopak bibirnya. Suaranya juga lemah lembut, indah didengar seperti tiupan seruling di pasir tipis. Berkesiuran membelai tubuh yang letih jadi bersemangat. Tekanan tangannya lembut. Mungkin selembut tumpukan kapas. Memang cantik dia.
Masya Allah. Pikiranku terlalu menerawang jauh. Aku harus eling.
“Zahid, kaukah itu?” katanya lengkap menyebutkan namaku.
Aku tersentak. Kok, dia kenal dengan namaku. Aku perhatikan dia lekat-lekat. Namun aku tak menemukan jawabannya. Siapa dirinya? Mengapa daya ingatku butek begini? Siapa dia ya?
“Zahid, kamu tidak kenal aku?” ulangnya sekali lagi.
Aku mengurut-urut keningku untuk mengingat siapa dirinya. Sampai keringat memercik mengarak Sungai Kualan pun namanya tidak membekas dalam otakku. Tahu siapa dirinya. Tonjolan di keningku juga mengembung. Urat-urat nadi terpahat nyata. Menandakan aku berpikir serius sekali.
Aduh… bodohnya aku. Mengapa tidak ingat-ingat juga, keluhku sendirian. Perawat itu tidak tegaan melihat aku kebingungan.
“Aku, Indah Melanie, temanmu di ORI.”
Ah, masya allah.
Dia teman baikku selagi kami masih sama-sama aktif di ORI. ORI yang merupakan wadah bertemunya para remaja dan remaji Islam. Wadah yang merupakan tempat berkreativitas, melakukan tindakan kritis, progresif dalam mengembangkan kegiatan keislaman. Disamping itu ORI adalah wadah untuk mencari cara dalam memajukan Islam secara baik dan terarah. Ajang perdebatan untuk memecahkan suatu masalah Islam. Dengan dipandu oleh raka-raka atau kiai-kiai yang sudah mumpuni dan mapan dalam bidang keilmuan Islam itu. Sebagian besar kiai yang masih kuingat sebagai pemandu kami adalah Ustad Hasan, Ustad Jamhir, Kiai Maksum, Kiai Ahmad, dan Ustadjah Halimah. Begitu baik dalam mengarahkan dan membimbing kami.
Walaupun antara aku dan Indah Melanie berbeda sekolah, tapi kami dipertemukan di ORI. Dia adalah temanku di ORI yang begitu baik dan dekat. Karena dialah temanku memengerti tentang aku.
Pernah suatu kali aku punya masalah mengenai penunggakan membayar SPP. Dialah membantuku, dengan membayarkannya. Waktu itu aku ada juga rada-rada malu. Namun kupikir lebih dalam lagi, betul juga apa yang dilakukannya. Di saat teman dalam kesusahan, dia bisa menempatkan dirinya pada tempatnya dan malahan dia bisa membantu dan meringankan beban penderitaanku tersebut. Tapi, uangnya kuganti juga setelah mendapatkan rezeki yang lumayan.
Saat itu walaupun aku hanya seorang penjual koran untuk memenuhi kebutuhan sekolahku, dia tidak minder berteman denganku. Walaupun orang lain seringkali meremehkanku. Dia tetap tegar bergaul denganku. Dia memang teman yang baik bagiku.
Sejak tamat SMU, kami mulai berpisah dan mengambil jalan masing-masing. Aku terus melanjutkan ke perguruan tinggi di kota ini dan dia pergi entah kemana. Rasanya pilu juga aku, berpisah dengan teman yang sudah lekat dalam hatiku. Apalagi komunikasi lancar antara kita tidak pernah berjalan lancar atau terjalin mulus. Hanya beberapa gelintir melalui surat saja. Itu pun hanya beberapa layangan saja. Lima surat saja. Setelah itu putus. Aku tidak tau kenapa itu terjadi? Apa masalahnya, tidak pernah aku mengerti. Dari suratnya aku tau bahwa dia melanjutkan sekolahnya. Tapi masuk apa, aku tidak tau. Oh, baru aku ingat…. Dia rupanya !
“Betulkah kamu Indah,” pertegasku untuk memastikan.
“Betul Zahid. Aku adalah Indah. Alhamdulillah, kamu sudah sadar.”
“Terima kasih Allah, kamu pertemukan lagi aku dengan sahabatku yang paling setia,” lirihku bergetar.
Tanpa aku sadari secara lembut air mataku menetes. Lamban menuju muara sungai berlantaikan kebeningan air rumah sakit. Air mata kebahagiaan dan keharuan. Kita masing-masing menumpahkan kebahagiaan dengan pertemuan ini, hampir mencapai belasan tahun.
“Tidak aku sangka In, kamu jadi perawat. Pekerjaan yang mulia sekali.”
“Begitulah Zahid, perjalanan nasib mengantarku menggeluti bidang ini.”
“Baguslah In. Itulah nasib, kita tidak tau sama sekali. Terpenting kita menjalaninya saja. Dengan berharap selalu ingin mendapatkan berkah dan ridho dari-Nya.”
“Begitulah Zahid.”
“Oh ya Zahid, ini siapamu?” tanya Indah menoleh pada Pradimi. Yang ditoleh tersenyum segar. Keceriaan dihiaskannya.
“Sampai lupa, dia temanku juga!”
“Teman atau teman-temanan?”
“Teman. Betul. Bukan teman-temanan,” tegasku mantap dan meyakinkan.
Indah Melanie segera berkenalan dengan Pradimi. Mereka berdua pun saling mengenal. Mereka terlihat akraban. Walaupun baru kali itu mereka bertemu. Sepertinya mereka sudah dipertemukan sebelumnya. Begitulah yang mereka rasakan. Indah Melanie pamit untuk melanjutkan pekerjaannya. Gayanya tidak berubah dari dulu. Masih orisinil.
~oOo~

Pradimi terlihat uring-uringan di ruang tamu. Sebentar berjalan ke depan, sebentar duduk, sebentar menyanyi-nyanyi kecil. Lagu sedih yang mengalun. Nampaknya ada masalah dengannya. Aku berdehem kecil. Dia memandang ke arahku. Dia lalu mendekat, duduk di sampingku. Kekesalannya ditumpahkannya.
“Bang Za, aku lagi kesal hari ini.”
“Kesal karena apaan?”
“Semuanya berantakan. Lomba pementasan model, aku gugur. Tidak masuk nominasi apa-apa. Padahal aku berlatih sedari awal. Sudah prima. Tapi ternyata semuanya hancur. Padahal aku sudah berkhayal bakal memenangkan kontes model kali ini. Karena biasanya akulah pemenangnya. Bang Za, aku juga jadi malu, karena teman-teman banyak menyorakiku. Meneriakiku yang bukan-bukan. Aku dikatakan sudah berubah gaya 180 derajat celcius. Gayaku dinilai bukan gaya artistik lagi tapi sudah gaya itik berlenggok. Apa tidak kesal Bang Za…. Rasanya aku mau menangis saat itu. Tapi ada rasa malu, karena banyak orang. Maka dengan kekesalan itu, kutinggalkan tempat tersebut. Aku juga bertanya dalam benak, mengapa aku jadi begini?
Aku juga membandingkan apakah ini ada kaitannya denganku berteman dengan abang? Selalu melarangku agar tidak mengikuti pementasan tersebut. Namun aku menepisnya, tidak mungkin. Dulu saja, aku telah lama bergaul dengan abang tidak begini jadinya. Jadi bukan faktor pembicaraan abang. Bukan. Aku perteguhkan lagi jawaban itu. Atau bisa jadi aku memang mulai berubah, seperti apa yang dikatakan teman-teman. Mengapa itu bisa terjadi? Jawabannya tak pernah aku dapatkan. Membuat aku tambah kesal. Sialan, kadangkala makian keluar dari bibirku.”
“Oh begitu masalahnya Dim. Kamu waktu itu lagi ditegur oleh Allah supaya jangan meneruskan perlombaan tersebut. Karena banyak mudaratnya.”
“Begitu ya Bang Za, aku ditegur oleh Allah. Apa itu sama artinya dengan musibah seperti yang terjadi pada abang.”
“Bisa jadi….”
“Supaya kamu sadar dengan kekeliruan itu.”
“Tapi Bang Za….”
“Tapinya kenapa?”
“Aku tidak merasa bahwa itu adalah musibah. Aku merasa itu adalah kekesalanku yang harus kuperbaiki karena aku masih senang dengan pementasan tersebut. Namun kekesalan yang disebabkan kegagalan itu masih membekas dalam hatiku Bang Za. Membuat aku ingin marah-marah saja di rumah. Bikin ibu dan ayah jadi bingung. Hingga aku diantar ayah ke sini. Mungkin saja abang bisa menenangkan emosiku. Abangkan adalah orang dekat denganku.”
“Dim, sadarlah! Kegagalan itu jangan dikenang lagi. Ambillah hikmahnya. Hindarilah jalan itu. Jalan yang tidak benar. Masih ada jalan lain yang dilakukan kalau kamu senang dengan kegiatan itu. Misalnya dengan mengikuti perlombaan Busana Muslim, itukan lebih afdol Dim.”
“Tapi aku tidak bisa….”
“Dicobalah. Moga saja Allah memberkahimu.”
“Aku tidak bisa!” protesmu.
“Sudahlah Bang Za, aku ke sini bukan mau memperdebatkan masalahku. Aku ke sini ingin mengajak abang untuk menemaniku dalam menghilangkan kekesalan dan kesusahanku,” hindarmu. Menjauhkan diri dari permasalahanmu yang sebenarnya.
“Kemana Dim?” kata Bang Za mengalah. Dia sudah tau watak Pradimi yang tidak suka dibantah kemauannya.
“Kemana saja. Ke tempat mana saja. Bang Za ikut saja. Jangan banyak bertanya-tanya lagi!”
“Tidak bisa begitu Dim. Akukan mesti tau, kemana kamu mengajakku! Apalagi inikan sudah larut malam. Nanti pikiran sumbang masyarakat akan mengalun. Aku yang tidak enak hati.”
“Tapi sekali ini Bang Za tidak usah bawel. Abang ikuti saja kemauanku. Please. Aku mau menenangkan pikiranku yang kusut.”
“Apakah hendak sebaiknya menenangkan pikiranmu yang kusut dengan dibawa shalat.”
“Akukan belum pernah melakukannya. Jarang sekali aku shalat. Abangkan tau itu, aku shalatnya belang-belang kambing. Sudahlah Bang Za, mari kita pergi,” tariknya pada lenganku. Aku menurut aja.
~oOo~

Mobilnya menderu dengan kecepatan prima. Aku masih bertanya-tanya, mau dibawa Dim kemana? Kalau dibawanya ke pantai sih aku senang. Biasanya tempat itulah yang paling indah, kalau orang mau menenangkan pikirannya. Karena dengan siuran angin yang lemah gemulai membuat hati menjadi tenteram. Apalagi ditambah melihat atraksi ombak yang memukau indera, menghantam bebatuan lalu melambung tinggi seperti burung alap-alap. Tapi apa enaknya ke pantai malam begini? Hanya kesepian !!! Tapi kalau ada terang bulan sih enak? Terang bulankah malam ini?????
Masya Allah, mengapa memasuki kawasan ini? Remang-remang lagi. Tempat apaan ini?
“Dim, kemana kita nih? Wah, mau ke tempat apaan?”
Aku memberanikan diri bertanya memecah kesunyian selama perjalanan.
“Tenang saja Bang Za. Pokoknya tempat indah untuk melepaskan pikiran kusut. Tempat ini juga sudah sering Dim singgahi. Mujarab! Kusutnya pikiran Dim bisa diatasinya. Dengan kegiatan yang sungguh fly, enjoy, dan indehoi. Pokoknya siiipppp deh. Bang Za, menurut saja. Jangan bertanya-tanya lagi. Sebentar lagi kita akan sampai. Nanti juga Bang Za tau tempat apaan yang kita kunjungi?”
“Tapi Dim. Hatiku tidak enakan. Jangan-jangan kamu membawaku ke tempat yang salah.”
“Bukan tempat yang salah Bang Za. Inilah tempat kebenaran. Lihat saja nanti…”
Setelah melewati belokan kiri dan kanan. Kamu memberhentikan mobilmu. Mataku melotot, terbelalak tak percaya. Ketika membaca plang namanya, di atas tertulis DISKOTIK MAWAR. SUBHANALLAH. Istighfar kudendangkan. Tempat maksiat dan mudarat. Tidak pernah terbayangkan di pikiranku selama ini bahwa kakiku yang sering ke masjid, menginjak tempat ini. Tubuhku jadi menggigil merambah demam. Seketika membayangkan azab Allah yang akan menimpa.
“Mengapa Bang Za menggigil? Sakit ya?”
“Ya Dim. Sakit memang sakit. Karena kamu bawa aku ke tempat ini. Tempat yang tidak boleh aku injak.”
“Kolot sekali Bang Za nih. Kalau orang modern bilang, inilah tempat kebenaran. Tempat untuk menghilangkan beban penderitaan dan kecapaian hidup.”
“Bukan Dim. Ini adalah tempat kesalahan dan kemaksiatan. Tempat kemurkaan Allah menjelma. Tempat kesenangan semu yang tak akan ada habisnya.
Yaa Allah, maafkanlah kesilafan hamba-Mu yang tidak mampu berteguh hati. Karena hari ini hamba-Mu telah sudi menginjakkan kaki ke tempat yang Engkau larang,” lirih bibir Bang Za bergetar. Menahan isak tangisnya atas kelemahannya. Tak berani menentang kemauan Pradimi dan menanyakan jelas tujuan perginya. Rupanya ke tempat maksiat ini.
Tempat yang dikatakannya surga, tetapi neraka bagiku. Tempat yang dikatakannya kesejukan, tapi kepanasan buatku. Tempat yang dikatakanya graha kebenaran, tapi tumpukan kesalahan buatku. Tempat yang dikatakannya obat penenang mujarab, tapi racun mematikan bagiku.
Perlahan dan pasti salju bening merembes dari mataku mengelus mukaku yang sering dibasuhi wudu. Terus turun ke pangkal hidung yang sering mencium bangga tikar sajadah saat menghadap ke hadirat-Nya.
“Kenapa Bang Za menangis, sedih atau menyesalkah?”
“Dua-duanya Dim. Sedih karena aku terlalu rapuh dengan kelemahanku, mau saja menuruti kemauanmu. Menyesal karena perbuatanmu yang telah menjerumuskanku.”
“Ah, Bang Za ada-ada saja. Sekali-kalikan boleh dong kita mencari kesenangan atas diri kita sendiri. Ya… Sudahlah jangan dipikirkan lagi. Mari kita masuk ke dalam…,” ajak Pradimi membuka handel pintu mobil. Dia masuk ke dalam.
Dia berbalik lagi mendapati diriku tidak menuruti langkahnya.
“Ayo Bang Za…,” serunya sekali lagi.
“Maafkan aku Dim. Sekali ini aku tidak bisa menuruti kemauanmu.”
“Aku kecewa Bang Za. Karena abang tidak bisa menemaniku ke dalam.”
“Maafkan aku Dim. Bukan berarti aku membuat kamu kecewa. Tidak!!!! Sebenarnya aku tidak bisa. Aku harap kamu mengerti. Biarlah aku menunggu kamu di sini.”
“Baiklah Bang Za, kalau begitu maunya abang. Tidak apa-apalah…! Walaupun sebenarnya Dim kecewa…,” ujarnya masuk lagi ke DISKOTIK MAWAR.
~oOo~

Lenyapnya dia dalam keremangan pintu. Aku didatangi burung-burung liar. Yang entah keluar dari sarangnya yang mana. Menawarkan sesuatu dengan bicaranya yang lemah lembut merayu. Tentu tawaran untuk gasak menggasak kebunnya dengan cangkul. Biar semangat dan terhempas lelah setelah selesai bekerja. Membuat aku semakin gelisah.
Perang tanding terjadi antara keinginan dan penahanan. Antara memuaskan nafsu dan menebalkan keimanan. Saling sikut menyiku, tombak-menombak, membuat lawannya saling cidera. Biar salah satunya jadi pemenang. Perang tetap berlangsung dengan serunya. Apalagi dikocok dengan helaian rambut-rambutnya serta kepakan sayap burung-burung liar sungguh menyilaukan dan memukaukan mata.
Subhanallah. Aku pejamkan mataku untuk tidak memandangnya. Selain itu perbuatan kulakukan untuk menetralisir kemauan dan menahan atau meredam gelombang nafsu, kian ganas menghempas dengan lirihan zikir bertubi-tubi.
“Murah saja Bang. Short time hanya Rp. 100.000,00.”
“Ayolah Bang, Jangan munafiklah!”
Pletak…
Bom atom ocehan itu menghantamku dengan telaknya, agar serpihan imanku kandas, untuk memenuhi ajakan nafsu setan. Makin rapat kututup telinga. Tidak aku pedulikan mereka. Tidak aku hiraukan mereka. Ujung-ujungnya burung-burung liar itu terbang jauh dengan kekesalannya membawa omelannya yang beraneka ragam.
Dia banci. Dia lelaki tidak punya nafsu. Dia lelaki impoten. Dia lelaki lemah syahwat.
Aku pun bisa bernapas lega. Aku pun membuka mataku. Aku pun menghirup udara yang segar. Sebentar saja menghirup udara kesegaran dari kesesakan pengapan udara yang ditebarkan burung-burung liar. Aku lihat Pradimi dibawa dua orang wanita dengan pakaiannya yang menggiurkan.
Yaa Allah, terlonjak lagi kata-kata itu dari mulutku.
Pradimi meracau. Dia bicara tak tentu juntrungan. Kata-kata absurd yang tidak punya makna. Hanya asbun. Dia mabuk. Pandanganku menoleh ke arah samping. Tidak berani memandang ke depan. Hingga tak terasa tangan-tangan halus dua wanita itu mengetuk ram mobil.
“Tolong buka pintunya, Bang. Bawa dia pulang. Dia sudah tidak sanggup lagi. Dia mabuk berat.”
Aku pun membuka pintu mobil. Dua wanita itu membaringkan Pradimi di sofa mobil.
“Terima kasih ya mbak, telah membantunya.”
“Tapi mengapa abang di sini? Tidak menemani gacoannya masuk ke dalam. Abis berantem ya? Tidak tegur-teguran ya? Oh ya Bang, kalau ada waktu temani kami ngobrol disana ya!” tunjuk dua wanita itu dengan lentiknya. Tidak lupa kedipan matanya menawan, juga dia pamerkan.
Masya Allah. Tidak jauh berbeda dengan burung-burung liar tadi. Pasti mengajak kencan. Pakai bahasa klise segala. Biar lebih disamarkan lagi. Mual aku mendengarnya.
Tak tunggu lama aku menjalankan mobil. Melepaskannya dari tempat yang membuat hatiku pengap. Kini aku sudah bisa berlega hati. Karena mobilku telah melintasi jalanan umum.
Alhamdulillah. Akhirnya mobil kujalankan dengan kecepatan standar jalan. Rupanya malam sudah begitu larutnya. Dengan hanya ada sesekali mobil yang melintasiku. Aku menaksirnya mungkin sekarang sudah pukul 03.30 WIB, sudah mendekati waktu subuh. Tidak lama lagi akan terdengar adzan subuh. Bersenandung. Menembangkan panggilannya yang merdu untuk menyadarkan insan agar segera menunjukkan bakti pada-Nya. Pradimi tertidur dengan pulasnya di sofa mobil. Racauannya sudah lama berhenti. Mungkin dia sudah letih atau kepenatan.
~oOo~

Aku lagi duduk santai di sebuah rumah makan emperan. Memenuhi ajakan sahabatku untuk makan bersama. Indah Melanie, sang perawat berjilbab putih. Aku datang keawalan lima menit. Hingga harus menunggu. Tapi tidak lama waktu sebegitu. Sebentar Indah Melanie menghampiriku. Dia datang sesuai dengan waktu yang dijanjikannya. Tepat waktu juga.
“Sudah lama menunggunya, Zahid?” ujarnya sekedar berbasa-basi seraya duduk di hadapanku.
“Tidak juga. Aku yang keawalan lima menit.”
”Maafkanku ya, Zahid?”
”Sudahlah In. Tak perlu minta maaf segala. Jadi tidak traktir makannya?”
”Jadilah. Tunggu sebentar. Aku panggilkan pelayannya.”
“Pelayan kesini!” Panggil Indah pada pelayan warung. Seorang gadis beranjak remaja sebagai pelayan warung mendatanginya.
“Ada apa Mbak, mau pesan apa?”
“Zahid, kamu mau pesan apa?” tanyanya padaku
“Terserah kamu saja deh, In. Aku sih menurut saja,” sahutku memberikan pendapat. Jawaban atas pertanyaannya.
“Okelah kalau begitu.”
”Dik, saya mau memesan dua porsi nasi rames dan daging ayam bakar dan minumnya sirup pepaya dan air putihnya.”
“Ada lagi Mbak.”
“Cukuplah.”
“Sebentar lagi akan diantarkan,” ujar pelayan warung berlalu pergi.
~oOo~

Menunggu hidangan yang akan disediakan. Kita mengobrol lepas.
“Bagaimana In dengan pekerjaanmu? Kamu menyenanginya?”
“Tentulah Zahid. Dari pekerjaan ini banyak pelajaran hidup aku peroleh. Membantu sesama manusia dalam kesusahan. Meringankan penderitaannya hingga mereka bisa tersenyum. Melatihku selalu menghargai waktu. Karena tiap kali mendapatkan tugas check in para pasien setiap saat. Melatih kesabaranku bila mendapatkan pasien yang cerewet, dan cara mengatasinya. Selebihnya aku sih enjoy saja menikmatinya bahwa inilah kehidupanku. Selagi hidup harus banyak berbuat kebaikan. Sedangkan kamu, kerja dimana Zahid?”
“Aku sih kerja di PT Makmur Industri sebagai manajer marketing.”
“Enak dong kalau begitu. Bisa makmur dong kamu.”
“Ah, same-same saja, In. Don’t far different in your jobs. Same-same enjoy saja menikmatinya. Terpentingkan kalau ada kenikmatan atau rezeki kita syukuri. Kalau ada kesedihan atau aral kita harus berlapang dada dan bersabar, tidak lupa tawakal. Karena Dialah segalanya.”
“Betul sekali Zahid.”
“Oh ya Zahid, silakan dicicipi makanannya. Nanti obrolannya dilanjutkan lagi,” tawarmu.
“Mari In kita cicipi sama-sama hidangan ini,” jawabku.
Kita pun makan nasi rames yang telah disediakan. Mengisi jatah perut yang sudah komprengan. Biar adanya kesegaran dan kekuatan di tubuh. Tidak loyo lagi. Abis energinya tidak ada penambahan.
Nasi rames dan ayam bakar memang makan kesukaan kita berdua. Dari dulu, waktu sama-sama di ORI. Kalau sudah lapar selesai pengkajian akidah atau debat masalah atau memecahkan hal-hal yang harus dilakukan dalam memantapkan Islam, pasti kita mampir di warung yang menyediakan ayam bakar dan nasi rames. Makanlah kita bersama memenuhi kekosongan kampung tengah yang sudah berkeriyukan seperti ayam, minta diisi. Kadangkala kalau duit lagi menyurut, kita patungan bayar makanannya. Seru juga ya. Rasa solidernya tinggi sekali.
Celeguk… Celeguk …
Air putih menjalari kerongkonganku. Meluruskan jalan makanan yang sudah dulu mengendap. Biar proses pencernaannya dapat berjalan dengan baik. Dengan adanya bantuan air putih.
“Zahid, siapa tuh temanmu yang menunggui kamu waktu di rumah sakit?” tanya Indah Melanie.
“Lho, kok bisa lupa, In. Kan kalian sudah saling kenalan. Ada apa sih menanyakan dia segala?”
“Ah, tidak apa-apa Zahid, *****a mau tau saja.”
“Begitu ya? Kan namanya Pradimi.”
“Ya…! Ya…! Aku ingat sekarang.”
“Belum tua saja sudah pelupa.”
“Ah, kamu bisa saja Zahid. Ia cantikkan Zahid?”
“Entahlah, In. Mana aku tau.”
“Orangnya sabar dan telaten lagi. Kalau aku perhatikan nampaknya kalian akraban. Boleh juga tuh Zahid untuk pendamping hidupmu?”
“Ah, kamu ada-ada saja, In.”
“Serius nih, Zahid.”
“Nantilah, aku pikirkan lagi….”
“Jangan lama-lama berpikirnya. Nanti keburuan dia kabur digaet orang. Tidak rugi ya? Punai di tangan dilepaskan!”
“Rugi apanya. Dia kan sudah punya pasangan,” kelakarku, lalu tersenyum.
“Ah….,” kejutmu.
“Tidak yakin ya?”
“Ya!”
“Kalau tidak yakin. Yakinkan saja sendiri!”
“Tapi Zahid, kata orang sebelum ada tanda pengikat, kita masih boleh mengejarnya dan menggaetnya.”
“Kamu nih ngelantur saja bicaranya, In. Itu namanya pemaksaan. Pemaksaan tidak boleh dilakukan, karena tidak berjalan apa adanya.”
“Bukan pemaksaan Zahid, tapi ini sih usaha. Aku sebagai temanmu hanya bisa berdoa moga saja kamu jadian sama dia.”
“Kok, kamu ngotot amat sih. Ada apa nih In dengan kamu?”
“Tidak apa-apa kok, Zahid. *****a aku ingin melihat kamu bahagia saja kok…”
“Oh begitu, kamu nih ada-ada saja. Oh ya In, nampaknya sudah lama kita berada di sini. Kita lanjutkan obrolan ini lagi di lain waktu ya? Abis aku tidak enak hati menganggu pekerjaanmu. Kan banyak pasien yang menungguimu.”
“Sekali-kali bolos tidak apa-apa kan demi teman lama.”
“Tidak boleh begitu In, menyalahi prosedur. Nanti selanjutnya mau bolos terus. Karena sudah terbiasa satu kali. Akhirnya kan rugi deh. Gara-gara mencoba bolos reputasi jadi meredup. Kasihankan?”
“Betul juga katamu, Zahid. Untung kamu mengingatkanku. Ya, sudahlah kalau begitu. Kita berpisah dulu. Nanti kita ketemu untuk ngobrol lagi. Abis banyak yang belum aku bicarakan. Sekedar berbagi pengalaman.”
“Aku juga sama In. Jumpanya di tempat ini saja.”
“Beres! Gampang diatur!”
“Siiiipppp deh kalau begitu.”
“Sampai ketemu lagi,” kata kita saling berpisah. Menuju tempat aktivitas masing-masing.
~oOo~

Tibanya di kantor. Pukul 13.30 WIB siang. Tepat jam kantor buka sehabis istirahat makan. Waktu mau masuk ke ruangan kerjaku. Staf penerima tamu di situ memberitahukanku bahwa ada seorang wanita ingin menjumpaiku. Katanya sangat penting. Dia sedang menunggu di ruang tamu. Aku lalu melangkah kesana.
Masya Allah, aku kaget dan bingung.
Mimpikah atau ini sebuah kenyataan?
“Assalamualaikum Bang Za?”
“Waalaikum salam Wr. Wb.,” sahutku dengan masih kebingungan.
“Kamu Dimkan?” tanyaku memastikan.
Aku bingung melihat penampilannya hari ini, begitu Islaminya. Dengan memakai baju kembang panjang dan celana panjang, pakaian muslimah. Ditambah lagi dengan jilbabannya yang berwarna kecoklatan. Sungguh apik tampilannya. Lebih cantik dari sebelumnya. Kecantikan alamiah.
“Ya, Bang Za. Akulah Dim. Inilah tampilan Dim yang seterusnya akan Bang Za lihat. Ini semuakan berkat saran dan petuah Bang Za juga. Yang aku rasakan benar adanya. Bang Za, alhamdulillah juga aku memenangkan lomba Kontes Model Berbusana Muslim. Semua itu saran dari Bang Za. Aku senang kali punya teman sebaik Bang Za. Terima kasih ya Bang atas semuanya! Dan maafkan atas kelakuan Dim sebelumnya yang sudah banyak merepotkan dan membuat Bang Za jengkel?”
“Tidak kok Dim. Aku malah senang melakukannya. Sungguh Dim. Malahan kesenanganku makin bertambah melihat kamu sudah sadar dan berpenampilan Islami seperti ini. Alhamdulillah. Rupanya Allah memberikan hidayah-Nya padamu,” sahutku dengan lemah lembut bergelombang syahdu.
Syahdu atas kebingunganku atas perubahanmu yang sungguh drastis. Berubah cepat sekali. Aku menilai perubahanmu mencapai 200 derajat celcius.
Matamu jadi berkaca-kaca. Bibirmu mengembangkan senyuman yang segar bugar. Raut mukamu menunjukkan keceriaan yang kental. Seceria bulan menaburkan sinarnya ke wajah bening kaca.
“Bang Za, abangkan pernah bilang bahwa kalau aku nantinya pakai jilbaban, aku akan terlihat tambah cantik dan cantik alamiah. Sekarang akukan sudah jilbaban. Apakah aku terlihat cantik atau jelekkah?” ujarmu meminta pendapatku. Meminta penilaian yang sebenarnya seperti dulu. Murni.
Aku tidak bisa berkata apa-apa. Tidak bisa berkomentar.
Hanya tergamam saja.
Hanya suara lirih di hati saja yang bergema.
Alhamdulillah. Segala puji bagi Allah……. !!!!!!!!!

Balai Berkuak, 17 Maret 2004
~~~&&&~~~


"




(Read More... Cerpen | Score: 0)
Download Terbanyak
There isn't content right now for this block.

Tajuk Serta Merta

Cerita Bersambung
[ Cerita Bersambung ]

·Kamarku Mati Lampu: Mahasiswa, Uang dan Politik Kampung (Bagian 7)
·Kamarku Mati Lampu: Transaksi Cinta (Bagian 1)
·Kamarku Mati Lampu: Mahasiswa, Uang dan Politik Kampung (Bagian 6)
·Kamarku Mati Lampu: Mahasiswa, Uang dan Politik Kampung (Bagian 5)
·Kamarku Mati Lampu: Mahasiswa, Uang dan Politik Kampung (Bagian 4)
·Kamarku Mati Lampu: Mahasiswa, Uang dan Politik Kampung (Bagian 3)
·Kamarku Mati Lampu: Mahasiswa, Uang dan Politik Kampung (Bagian 2)
·Kamarku Mati Lampu: Mahasiswa, Uang dan Politik Kampung
·Tangan Setan

Kategori Artikel
There isn't content right now for this block.

Login
Nickname

Password

Don't have an account yet? You can create one. As a registered user you have some advantages like theme manager, comments configuration and post comments with your name.

Artikel Terhangat
There isn't a Biggest Story for Today, yet.

Artikel Terdahulu
Monday, May 26
· Lentera Hitam
Sunday, March 30
· TUHAN MENCINTAI SUPRI
Thursday, March 27
· Hipotesis Sebuah Parfum
Tuesday, March 25
· Untuk Cinta
Monday, March 24
· Kliping atau Cinta
Thursday, March 06
· SENOPATI UTSS:SAYA INI JUALAN KAMBING
Monday, February 25
· Terjebak
Monday, February 18
· bayangan Lain
Wednesday, February 06
· Tak Hebat
Tuesday, February 05
· GATOTKACA MOGOK KERJA

Older Articles

Ensiklopedia
· Sastrawan Indonesia



Hak Cipta pada Penulis, jika anda akan mengutip silakan hubungi penulisnya dan menyebutkan sumber: fordisastra.com
PHP-Nuke Copyright © 2005 by Francisco Burzi. This is free software, and you may redistribute it under the GPL. PHP-Nuke comes with absolutely no warranty, for details, see the license.
Page Generation: 0.45 Seconds