Puisi-Puisi Dudu AR

Sajak Katarsis

Badai memang tak pernah bertamu
mengucap salam atau megetuk pintu
dengan angkuh, duduk seronok sambil komat-kamit
semburkan naluri penghadang yang radang

Begitu juga selibut, mengendap di setiap labirin
rongga yang himpit sebagai satu-satunya selasar sadar
yang tersisa sepetak galengan* sawah si tuan remah

Serasa waktu tinggal sejumput rindu, yang mungkin tersentuh
atau justeru melepuh di didih taman yang gersang kedamaian

Serupa serimpung redup disetiap lekuk kembara
melengkung jejakjejak pengembara
memilin sebotol nafas di lenjang paling tinggi
mengikat kuat sampai berkecipak dari buih telaga
ke ombak laut utara.

Tasikmalaya, 15 Juni 2010

Tidurlah!

Jangan salahkan namaku melayang-layang berupa kelangkang, ketika matamu susah mengatup di setiap malam. Jika itu membuatmu tidak tenang, basuhlah mukamu dengan mata air kenang, seperti saat menyusur taman harapan yang membuatmu masih terngiang tentang serambi langit di setiap senja, meskipun siluet itu merupa desir mimpi di engkau sekarang. Tidurlah!

2010

Aku Takut

Aku tidak meracau ketika engkau menyaksikan matahari merona di parasku. Aku tidak gila ketika engkau mengintip lejar tubuhku ke sambit bulan. Aku hanya menculik perhatianmu sedari malam. Sebab, setiap firasat melayat ke perangai yang tak biasa mengendap di gemulaimu, menjalar ke detakdetak buncah hingga merajam degup malam sunah. Aku takut engkau lenyap, bersama bayu yang menghempaskan desah cumbu di lenjang leherku.

2010

Maaf, Atas Nama Hari Ini

Sementara kejora bertamu ke rumah kudus
Semilir bayu melecut tubuh, melukis luka
disetiap relung sepi, hingga rintih menyelongsong
resah, menyelinap ke jiwa yang basah

Lalu, serunai isak menggema ke serambi shubuh
Persis mata menata kata rindu, selepas kurangkai
Mawar rampai di carik kertas sembilu

Aku tak pernah menyuruh malam, menyepimu
Aku tak pernah merenda malam, heningkanmu

Maaf, atas nama hari ini
Demaun melati yang kau harapkan menghilir
Ke muara harap, tak jua mewujud rupa yang kau rindu
Ini kesekian kali, aku lukis sepi di semburat malammu

Tasikmalaya, 14 Juni 2010

Sobat

Dari jauh kuterawang
engkau melepuh
sebab kerinduan
yang tak kunjung meneduh

Dari dekat kudekap engkau
selayak wanita idaman
yang selalu menjaga keperawanan
hati diantara ribuan lelaki

Meski pintal hati
merupa temali buluh nadi
tak melonggar hingga kita
menjadi utuh disetiap situasi

Kita berkeluh hingga peluh
Kita bercanda hingga riang

Aku dan engkau pun nyaman
ketika ranum mawar dunia
menjaga setiap lekuk kehidupan

Cinta, kasih sepanjang jalan
menelusur kembara disetiap angan
antara puncak dan samudera kegamangan
tak ‘kan menjadi buih atau serupa ranting kematian

Lanskap Angan, 12 Juni 2010

Serambi Sajak

Dan, hening menghidangkan parasmu di pinggan lamunan
Sambil memangu tiadamu di selasar iga, kupangku dagu
Selama engkau bersolek di cermin mata. Lalu, kau berdendang
Bersama ketukan jari di pinggir irisan, terlanjur rindu memecah
Gelisah, agar engkau keluar, mendekap gigil yang gemulaian

Semakin lejar riak gelombang awan, bergumulgumul mengulum
Luruh berkepanjangan. Biarkan kubelah batas diseling sungai
Menjadi laut kedamaian yang sempat rimbun di ranting kegetiran
Selalu saja blangsak, ketika sajak kujadikan tampan temaram

Tasikmalaya, 11 Juni 2010

”Negeriku Negeri Para Penipu”, Aku Bilang Tidak!

: Agustinus Abraham

Negeriku sedang layu
Tak ‘kan mekar jika kebenaran disimpan di kelopak mawar saja
Maka, lejarkan ke langit sampai mati

Jangan terlalu berharap kepada mereka
yang bermuka perompak hedonisimian
Jangan arusi kelakuan duniawi bersama mereka
yang menjadikan tulang keropos bumi pertiwi

Jadilah kita sebagai batang
Jadilah kita sebagai ranting
Jadilah kita sebagai dahan
Jadilah kita sebagai daun
: pohon negeri yang pertiwi

Mari satukan hati, untuk bangkit kembali
ketimbang menyanyikan lagu atau bersyair
lirih yang merembes ke palung hati
Mari satukan jiwa, yang telah tersirat
seperti semangat sumpah pemuda

Dari penyajak ataupun penyair
bertubi-tubi larungkan kata yang tak pernah berakhir
lalu, kobarkan api yang mulai ngungun
lalu, buihkan ludah yang sudah lelah

Berbuat sesuatu, seperti relawan Mavi Marmara
untuk negeri ini, bukan pemuda yang suka menghujat di kata
butuh pengembara surga seperti mereka
agar tanah yang hampir musnah
kemudian menjadi sewaan para pribumi
suatu hari, mungkin terjadi
tak ‘kan karam di lautan Cyprus atau arctic

Wahai pemuda-pemudi seperti Abraham
janganlah, lalu berhenti berperilaku dalam kata
kita memang hidup seperti David dan Goliath
berjuang lalu mati selayak leluhur proklamasi
Agar Indonesia tidak aus ataupun terkenal dengan nama “PENIPU” saja
: hati, jiwa, tenaga, kelun seperti awan penghuni surga
Karena, wajib hukumnya kepada siapapun

memantik kebenaran ke langit atau samudera
jika jiwanya seperti Soedirman atau Pahlawan Revolusi
jika jiwanya seperti Gajah Mada, yang untuk Nusantara
dan Indonesia Raya

Tasikmalaya, 13 Juni 2010

di Kantin Rosella
-buat AE dan AH

#1

Secawan sajak kita tenggak
hingga lejarkan jiwa ke langit jingga
kemudian kita kupas berbagai metodologi
dan strategi, tentang revolusi yang belum lama meretas.

Dari sebatas tegur sapa yang serupa bulir mimpi
semasa melancong di serambi fatamorgana
keringat kita mewujud sesuap nasi ataupun kontribusi
karena takdir memantik segala selibut yang mengendap
di relung pengembara dewantara, memuara di kota laut utara,
lalu merenda benang sutera yang masih berserakan di pinggan rencana.

–dan sebatang puisi kita bakar hingga mengelun
bergumulgumul lalu membentuk gelembung
keselarasan terawang yang rumpang di awan tujuan.

Buih lamunan sempat sedakkan cerita
karena jalan berbeda untuk mengggapai bulan
merupa gelak binar tidak serasi di sempurna malam
ah, tak usah sunyi, yang penting menabur mawar
atau melati disetiap lajur ruang yang masih mengawang.

#2

Di meja persegi empat
berjejer botol sisa keringat
mengembun di beling gelora
meneteskan harapan untuk dijadikan telaga.

Kita lukis lengkunglengkung pikiran ke langit kejora
agar muara masingmasing tidak terlalu asing
ketika saat di lain waktu, tetap membawa sampan
yang kita kayuh selama menghilir ke lautan biru,
menuju ke muara, kemudian bertemu dan bercanda
ke samudera Ki Hajar Dewantara.

#3

Sebagai janji pintal intuisi
diantara ruang yang banjir muntahan angan
tanpa batas, menjadi lawatan paling memabukkan
selama pengembaraan. Bagaimana tidak, setiap liuk
kegamangan yang terkadang meremahkan ketegaran
menggelitik sukma yang panas dingin seperti pergantian musim

Serupa itu, mengingatkan perhelatan perundingan linggar jati
mendaulatkan negeri ini, atas kerja keras leluhur kita yang tulus
bela negara demi cucu cicitnya sebagai penerus bangsa

kita menjadi damai karena mereka
kita mennjadi merdeka karena mereka

lalu, apakah perbuatan kita setimpal dengan jiwanya?

Tak ada waktu lagi untuk hidup nikmat
sebelum Tuhan menyatakan kiamat
karena sejumput kerelaan serimpung ribuan generasi
akan menjunjung segala keterpurukan, yang kini sedang melanda negeri.

# 4

Bersamaan abu dan bara bergumul di asbak meja
perundingan kesepahaman tentang pergulatan kembara
yang diakhiri kidung magrib seorang mahasiswa
kita kibarkan menjadi panji kebangkitan kembali sefalsafah
pencetus sumpah pemuda. Karena, jelmaan pejuang yang wafat
selama penjajahan ”mati satu tumbuh seribu” adalah kita.

Tasikmalaya, 18 Juni 2010

Carik-carik Kembara

Menggunting carik-carik tanya, lalu dijadikan sebuah peta untuk melucuti sebab engkau lenyap, semata-mata kugunakan sebagai petunjuk saja. Karena, jejak yang belum pernah kujamah di lanskap hatimu menjadikan kembara sebagai pilihan.
Sejenak ke ruang yang menaburkan kenangan, melepas rindu ke relung engkau. Semoga makna masih bersemayam, yang dulu sempat mengendap semasa kita sebagai malam dan bulan.
Jiwa lejar ke lengkung langit jelita seperti engkau. Sayang sekali, kelun siluet di rumpang malam indah adalah rupamu yang kurindu.
Terbiasa tumbuh-kembang di bumi sepi, menjadikan kembang seperti bunga gagap diantara rekah taman rindang. Lalu, senyap di antara langit dan tanah mayur, mendewasakan naluri selayak seniman sejati memagari hidup dengan intuisi. Sajaklah sejatinya!
Sementara, degung yang ditabuh para malaikatmalaikat kecil, menjadi suguhan pelataran keraton yang membawa rasa ke beberapa abad silam. Seperti di kerajaan, menjadi tamu istimewa yang sedianya menikmati hidangan bersahaja; larung di serambi penghibur kedamaian.
Tuhan, sebuah kepastian bahwa engkau mendengar rayuan hamba semacamku. Masa ini, Engkau beri teka-teki yang bisa dijawab dengan kesabaran. Aku hanya meminta, sebuah sampan yang menghilirkan tujuku ke muara pencarian. Itu saja.
Gigil mulai gerayangi mata, mengatup, lelah dan rebah. Bersamaan perangai malam yang terlalu indah, sejenak ke tebing tinggi, jatuhkan jiwa dari labirin goa raga ke arasy sebagai tempatnya.
Dan, masih di tempat yang sama, aku regangkan sisa sebotol nafas untuk kembali mengembara. Seperti biasa, menuju selasar keabadian yang masih kuraba.
Cirebon, 19 Juni 2010

SAJAK JURIT MALAM

Maqam 1

Lorong sempit, pekat, tubuh tak mampu berkelit
menelusup ke ruang pengap. Tenung hati telah membaca,
bahwa nisannisan adalah penghias mata
hanya tali rapia sebagai petunjuk kembara ke pucuk bukit Dewantara

Antara kaki dan hati tak pernah akur, hingga tujuan tak terukur
kepada arwaharwah di bawah, maaf, aku tak ingin sebenarnya
menginjak kuburkubur yang sudah jarang ditaburi melati adanya
malam ini, jiwa tembaga segera luruh diujung peluh kelana

Empat ranum wewangian kuendus, lalu kutebak rupa dirimu
di legam belantara jati menari bersama rinai sendu
bulu kuduk makin kejang, tat kala semerbak dupa bercampur melati
hampir menusuk sadar bersamaan detak jantung yang tak karuan

Maqam 2

Perjalanan tetap kutelusur, meski rapuh menggoda remah jiwa
ya, menyerah, tapi tak mungkin. Fase ini, yang paling membanting
melanting paruh waktu yang ditunggutunggu, sedari niat yang kadung kuat
terjal memang, hampir selalu mengalasi seluruh langkah, bukan karena itu
tapi, malam ini, jiwa tembaga segera luruh diujung peluh kelana

Gubuk kecil lementik di penjuru mata, diterangi setengah lilin memintal temaram
aku salami seisinya, lagi, hanya dupa bercampur sengat melati merembes
ke bulubulu hidungku yang hampir kumat. Wewangian yang biasa hadir di ritus
malam Jum’at kliwon adalah pengharum malam ini, sangat merajam di pucat paras jalan

Menatap keranda tergantung, dipilin tambang yang hampir lepas, aku tetap ke sana
mencoba salami ’entah’ gerangan siapa yang menjawab lugas. Gemuruh hati berkecamuk, ketika coretancoretan tapak jejak yang pernah lewat terlukis di tanah liat. Mata terbelalak, jiwa menyeruak betapa tidak, benturan keranda ke tanah berbatu adalah penjawab salam tadi.

Silir angin semakin semilir, rimbun daun semakin mengalun
Menyelaraskan degup yang bertempo pikuk.

Maqam 3

Serunai menyemai sawah yang lapang, menegaskan pemandangan sepanjang jalan
lalu berhenti, saat di semak terdapat isyarat, bahwa jejak ini baru menyiratkan
setengah pengembaraan. Sementara nafas yang tersisa sebotol oksigen, adalah bekal terakhir yang hampir migren. Sudahlah, gerundul hati yang sempat menyimpul keringat, tak usah diikat.

Menjelajah waktu terkadang merambah ulu untuk berhenti menggauli tujuh peluru
kesetiaan kepada ketenangan, tegaskan saja sebagai bekal yang tak pernah aus ditelan lupus, tak perlu gusar, tak ’kan pernah kesasar meskipun sejenak rebah di selasar bawah sadar. Ya, dimensi seperti ini terkadang membuat kesejatian hidup mendadak tak serasi, biarkan dilebur ilusi. Tak perlu dibawabawa ke nyata. Hidup hanya sekali, jadi jangan sekalikali terrayu silir bayu sesaat yang membawa ke buaian tak bertepi.

Maqam 4

Sebotol nafas tersisa, tak perlu dihabiskan di depan ukiran pintu terakota yang justeru bisa mengunci untuk keluar dari penjelajahan sekian lama. Sabarlah sedikit, agar langkah yang tertatih tidak merintih di puncak perjalanan. Duduk bersama biru lebam langit lebih baik, agar kawan malam yang setia, bila awan tidak menculik binar sempurna bulan, segera berteman.

Purnama datang ataupun tidak, jangan lekas lemas meremas akhir kembara
Manfaatkan sisa tenaga yang terbungkus rapi di palung jiwa. Di sini kita berakhir
Atau justeru kembali ke semula. Begitulah miniatur hidup dalam bukitbukit yang kubentuk sederhana di jendela yang menembus ke perjaka matahari menampakkan pijar di fajar.

Tasikmalaya, 10 MEI 2010

Lejar ke Telaga Gelisah

Di atas sampan yang tidak melaju sama sekali, kita menenggak secawan masa lalu, persis rinai langit berkecipak dengan sendu. Kemudian, kita mengayuh cerita, kadang berhenti di telaga, lalu labuhkan selibut hati ke limbung masing-masing, semata hanya untuk sepakati tanah pijakan terakhir kali adalah janji sehidup semati.
Sekali waktu aku berbincang denganmu di selasar redup. Engkau meracau seperti burung perkutut di pagi hari. Lalu, kau urai mata air sepi di setiap malam mencumbu temaram hingga remah. “Aku tak sanggup senyap di antara dinding basah, tanpamu”, kemudian kau lenyap tanpa jejak.
Entah sebuah isyarat atau serupa bunga mimpi, kau mendadak bercumbu dengan malaikat. Dengan mesra mengecup semburat yang kadangkadang menyilau hingga aku pun lejar ke selasar sadar.
Apakah engkau tak percaya? Apakah engkau ragu? Atas semua janjijanji yang kusiratkan merupa bintang dan sempurna bulan di setiap malam. Mungkin, kau pun tak pernah merasa damai, ketika pelukku hangat di setiap kejora meyalamimu.
Ah, aku semakin meracau, tak bisa kendalikan birahi tanya. Janganlah engkau pergi, sebelum Dia mengutus Izroil yang patuh. Sebab, matahari ataupun purnama akan redup di taman hati, ketika sisa kembara tanpa semerbak melati setiap pagi, tak menghiasi kabut jua embun yang perawan di tubuh gelisah ini.
Tasikmalaya, 09 Juni 2010

Malam Dua Puluh Tujuh

#1
Sekelebat semburat makna di ranting malam
menegaskan gumpalan putih-hitam merupa siluet awan
menghidangkan kenangan menunggangi renungan
hembusannya menampar paras kerut, menelusup ke jantung,
sejalan gurat kembara merupa terakota di ceruk jejak

Di lengkung langit, biru merayu kalbu, mengulur
langkah ke lanskap jiwa, memagut tenung
kepada Dia dan benih yang masih bersemayam
di kandung perempuan kota laut utara; cirebon.

Sejenak, bertanya kepada bumi yang hampir musnah
”Adakah taman untuk anakanakku nanti? Sebagai tempat bersenda ceria
Bersama keluarga kecil kami?” Dan matahari memancar ke perut tegun,
gerogoti otak, lalu vertigo, kadang schizophrenia
memintal teguh kepada pucuk kepasrahan semesta
: dunia bukan tempat damai lagi untuk disinggahi

Namun, jarum jam selaras degup jantung
meremas jiwa bila tak mampu menjelujur masa lalu
membentuk jaringjaring masa depan yang mapan
hingga sejahteralah pikir dari selibut kengerian zaman

#2
Getir yang sempat memunggungi temaram
tak lagi menampakkan buncah, acapkali mata rembulan mengerling
kepada selibut malam

Dia anugerahi diri, atas senyap nikmat dari bingar umpatan alam
Saban serpihan langit merinai di kerontang jiwa
mengajak merintih setiap lengkung menekuk
ke buihbuih kelenyapan dari rembulan ke matahari

#3
Pasti ada Tuhan dalam sajakku
penggenggam katakata rindu dan pilu
terukir disetiap semburat tinta
menciprat cerita romansa hingga binasa

Pasti ada Tuhan dalam sajakku
membawa diri ke lautan hindi
hingga bertepi di selasar relung
lalu, deburkan ombak renung kata
berbuih, merenyuh, mengkristal ke langit

Pasti ada Tuhan dalam sajakku
karena, semua siratan makna
kutemukan selepas nakhkodai bahtera
dari samudera jiwa

Pasti ada Tuhan dalam sajakku
Karena aku, lumbung renung

Tasikmalaya, 06 Juni 2010

Sajak Selibut

O, Langit menjadi malam, matari menjelma bulan, tipis. Di sini aku menggigil di tanduk lindai, karena matamu tak simpai menyimpul lepuh. Aku nganga menanah!
Menenun malam dengan menguras mata air pikir
bersama labirin shubuh, musnahkan segala peluh dan luruh. Semoga, ketika
fajar menukik ke lembayung, lalu malam mengecup kening yang
mulai ceruk, tak ‘kan menggubah setia menjadi kemelut khianat kepadaMu
: mulai memapah, melindai kembara.
Bagaimana tidak, tungku ubunubun mendidih disetiap bara membabi buta, membakar sepi menjadi rimbun kegalauan. Semakin tidak karuan, ketika menyisir taman gairah malam, hanya peran lukisan disemburat rayuan bulan.
Menari di laut keliru, di jalan lengang yang rindang
ombak mendebur tujuan di palung kegamangan
Berkecipak selayak ikanikan berpesta
bersama pendar bulan di kilau kelana
memapah lengang ke hamparan samudera

: carikcarik puisi damai sentosa, telah kutaburkan di ruang senyap
Lalu, setengah matari merenda mata
melukis lembayung yang paling relung
riak gemulai ombak semakin luruh
lagilagi ke palung rindu.
Sayang, sauh kalbu sejenak rebah di tengah sadrah
menamparnampar kembara meskipun tak pernah lara
terkadang gerogoti tubuh yang semakin lupus
kemudian larung, lenyap, lalu senyap
mengendap di segitiga bermuda, dan larunglah ke haribaan lillah
Ya, rupa yang terlukis di lazuardi, adalah engkau sedang bercipratan di kelun awan, selalu memintal ketegaran lalu mengkristal menjadi kirana pelangi menelungkup gelisah, dan benamkan resah ke perangai malam yang semakin tak indah
Aku ganti payau sepimu dengan sekuntum do’a, kulepaskan dari telapak rindu, kemudian kutengadahkan persis ke lembayung sembilu
aku eja ribuan mawar disetiap lamunan. Memagut langit yang hampir runtuh ketika kau kuantar menuju altar .
di kilau taman hijau, aku melayang ke lindap surau.

Sayang, aku memandangmu setengah purnama. Jangan kau marah, karena akan kuendapkan malam ke lengkung langit. Lalu kejora adalah batasnya.
meski malam ini adalah sunat, aku tetap larung ke palung hatimu yang kumat atas cumbu yang tidak pernah kiamat. Semoga kita sedekat bara dengan api, dan tak pernah saling mengibiri. Aku mensyukurimu sebagai pendamping selangit malam, meskipun engkau bukan kesempurnaan.

Masih tinggi, betah semedi sembari menerawang ke dinding kedamaian.
selendang putih yang memilin jenjang lehermu, memendam urat desah malam kelambu.
akhirnya persembahan putik puitik untuk separuh waktu, menjadi sambutan wangi atas ranum kelopak mata yang hampir mengatup
biarpun, kantung mata pagi ini, memendam sejumput mawar.
tak ‘kan pernah pudar untuk menebar semerbak perawan hari

Mencintaimu langit, berarti mengembara ke bayu sadrah. Terkadang gelisah memberi petuah untuk sejenak rebah di selasar gundah
kedua mata langit tampak tak berbinar, sesempurna celup mewarnai laut. sepertinya, kegelisahan adalah catatan perjalanan. Yang menyeruak sepanjang nafas hingga lebam, jangan sampai kau kantungi redup. Meraunglah sepuasnya, hingga ruang damai itu ada.

Akan kususur dengan meliukkan busur rindu, hingga membentuk motif menur yang sering membuatmu tafakur.
Setegar bumi yang kutapaki dan seluas langit yang kupandang tanpa ujung. Aku tetap menebar gelepar tikar jantungmu.
mungkin, kelun gigil bibirmu mampu memantik kenang yang meneduhkan. Semoga kau tenang, ketika di ujung kunjungan hanya mengerati pikiran yang sedang runyam.

Tasikmalaya, 02 Juni 2010

di Pucuk Kelengangan

Seruling mengalun ke relung
Melindapkan tafakur ke Hyang Agung
Syukur, di ombangambing hilir sungai kembara
Kau selalu ada
: aku bukan schizophrenia, kala Engkau menyiratkan fajar menawan
-sebagai kirana di setiap lekuk jalan yang gemulai

Lorong lengang , kususur tanpa lenggang
Meliukliuk seperti ular setan, aku tenang
Karena Engkau membawaku terbang
Menjulang ke tarian bayu yang menggebu
Selayak Aladin dengan permadaninya bercumbu

Lagi dan lagi, aku tembus ke palungMu yang dalam
Berkecipak seperti anakanak, jumpalitan ke dasar dan tenggelam

Hai, yang kurindukan disetiap peluh dan pilu
Aku tak ingin pulang seperti Nuh yang meninggalkan sandalnya
Meriakkan alasan agar menjadi penghuni, biarkanlah surgai aku!

Kesekian kali aku di pucukMu
Aku tak ingin jatuh ke ranting atau menggantung di dahan
Selamanya.

Tasikmalaya, 28 Mei 2010

Malam Iqomat

Belikat terikat kawat kejora
rampakkan urat yang sekarat
sesaat gairah menuju imsak
memantik diskusi ke arah kiblat
aku masih nikmat
bersenda petuah dengan sahabat
: merajut kata bersama malaikat.

Aku gantung shubuh di kantung labirin
melawan arus semilir batin, mengarat di pengap dinding
biarkan lelah memilin raga yang semakin remah
daripada meinggalkan resah di jiwa yang semakin merekah
:sementara sobat telah kiamat
bersamaan serunai iqomat Ahmat

Katup makin kalut merenda mata yang kian akut
aku gagap, namun tak ingin disendat
atas kesetiaan kepada malam yang mengantarkanku
ke selasar surau dengan alas pualam pukau

Bercumbu denganmu, mahal harganya
Betapa tidak, sedasawarsa aku berkhianat
kepadamu sang maklumat Tuhan

Menikmatimu laksana pembunuh nafsu
Mendekapmu merekat penopang rindu

Ajarkan aku setia, kepada bintang timur
agar keserakahanku kepada waktu
menjadi wewangian yang terpintal menur

: aku lebur di debur telagaMu.

Tasikmalaya, 28 Mei 2010

Perempuan Bromo 1

: Priska Pramudita

mengalir seperti sungai yang tak mengenal pasang-surut
menghilir tanpa sendat disetiap lekuk arah, hanya untuk sekedar
antarkan ranting, daun, ataupun secarik kertas ke muara selibut pada malam

deburan jantung mendadak riakkan dada karena lengkung sambit berpendar
di rinai langit, lalu berkecipak di linang mata, menyembur hingga berjatuhan
ke setiap gelimangan tanya

adalah pintal rayuan kepada Tuhan yang sama di surau yang berbeda
diantara lindai dan bibir pantai. Kemudian ramuan kata berhamburan
di biru langit, lalu melesat seperti pijar dan bersemayam seperti bintang
bergelayutan selayak anak-anak bahagia.

: berawal pesan kematian saudara, lalu menjalar seperti akar yang mengurat
pada tubuh kita, untuk merangkai mawar malam menjadi gantungan menur
disetiap sambit yang sempurna.

2010

Kepada Presiden 2026
: Maman Noer Zaman

Dengan gairah sunah Jum’at
Nafasmu sedingin bayu basah
Bergelora hingga ke pucuk shubuh
Serupa ombak pasang di musim malam

Degup tak biasa, berdentum selayak bom atom
di bawah langit Nagasaki dan Hiroshima
meletup-letup di kaldera yang baru meretas

Benar, racauan kepada bapak-bapak berperut buncit
tak ‘kan mampu meluluh lantahkan sasmita berkelit
lalu, engkau pun berikrar, kepada bumi yang mulai serupa dengan neraka

Aku adalah presiden negara

2010

Kepada Revolusioner
: Kusno Sosrodihardjo ( Ir. Soekarno)

Samudera damai dijelajahi dengan bahtera bahasa juga diskusi
Demi kedaulatan yang masih beterbangan di awang mimpi

Tak pernah menyesal apalagi remah, ketika jiwa-raga dibuang
Dari Papua Hingga ke palung benua, tetap memerah dan memutih
Seperti bendera bangsa – kibaran janji suci – damai sentosa

Atas nama ningrat, tidak menjadi jiwa kepalang khianat
Kepada rakyat serupa Marhaen kumuh ataupun semacam parlente angkuh — tetap merengkuh erat —
Nan menjabat tanpa jarak — mendekap selayak bapak dan anak – menjadi tonggak harapan
Ketika uluran serupa tangan malaikat

Seperti serigala di tebing purnama
memintal malam dengan kidung ksatria
memekik penjajah hingga sekarat
lucuti kedigjayaan yang sempat digenggam angkuh perampas
selama beberapa abad silam

Gaung menggema dari tebing rapuh ke dinding dunia
Berirama lantang, lalu retakkan niat jajah bangsa jemawa
Senandungkan keyakinan bara disetiap jelaga
Merupa celah binar hingga lindai ke selasar merdeka

Meski abdi-abdi garang di balik istana
Hidangkan kelun kebiadaban, tegar adalah senjata
Ketika nyawa menjadi peluru terakhir sebuah pengorbanan
Meski raga terkapar di balik hotel prodeo

: Ernesto Guevara Lynch de La Serna (Che Guevara)

Mata setajam tatapan elang dengan rumbai rmahkota dibalut baret perjuangan
Masih terpampang pada seragam pergerakan pemuda-pemudi pemberani,
tidak pernah mati apalagi musnah di luar-dalam — dada pecinta sejati — negeri

Jangan risau!
sisa darah segar perlawanan masih ditenggak para lelaki rimba
yang kini tersebar disetiap telikung labirin kembara
Memang hampir kiamat — pikiran generasi dicengkoki kapitalis jahat
— diracuni doktrin feodal – memagut diri dengan imperialis sejati

Seyogyanya setia memegang panji rakyat – tumbuh — mekar
— di rimbun jati sekitar telaga — kokoh sebagai sangga perisai revolusi

Tapi Che,
Maaf jika fahammu tentang revolusi adalah senjata
Bagiku adalah sajak. Karena saat ini, bulir mortir yang mampu
Menembus ke rusuk jiwa adalah peluru kata
Sulit? Ya, serumit kembaramu yang merimba.

Aku baca surat — sepeninggal nyawamu di pelatuk Jendral Bolivia — kepada adik-adik
mengajak setia kepada yang miskin
merenda nafas dengan benang akar belantara
berani ganas demi para buruh dan pengidap kusta
tanpa mengurangi hak yang sepantasnya digenggam tangan

Karena sesungguhnya gerak peradaban
ada di tangan lepuh mereka, bukan penguasa!

Dalam nasehat yang diulang-ulang setiap paragraf
Mewanti-wanti untuk bersahabat dengan alam
agar nurani sehat — tidak dijarah keserakahan – dari kekuasaan

tidak seperti penebar janji yang sering memperdaya
juga suka bermain retorika dalam pidato negara

persis terawangmu kepada negeri
setelah engkau mati, semua sektor hampir benar
seperti yang engkau tulis dalam wasiat — kekuasaan akan menjadi tuhan, sementara rakyat adalah hamba yang gampang diatur dengan serentetan aturan ngawur – tentang bobroknya moral kenegaraan – yang dibuat demi pribadi dan golongan

Kesetiaan tidak mengenal ruang berdinding mawar ataupun berlangit melati
Meskipun kematian di pintu penjara atau di ujung senjata, nyawa adalah taruhan terakhir
Demi kecintaan dan ketulusan kepada jelata sepanjang hayat di kandung badan

Cirebon, 09 Juli 2010

TUJUH BELAS MAWAR

persembahan pagi yang mengebiri sepi
menjadi senyuman patri mengawali bakti
kepada negeri yang sedang sekarat karena birahi

2010

Jembatan Air Mata

: Indonesia-Timor Leste

Dulu, darah yang mengalir dari leluhur
adalah sungai yang menghilir dari sabang sampai merauke

Kini, darah itu mengental serupa aspal, kemudian mengering menjadi batas
antara saudara dan tetangga, lalu bertegur rindu di jembatan sama
yang dipisahkan hegemoni

2010

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *