Puisi-puisi Asep Sambodja

Berhala Obama

 

jakarta membangun berhala obama

“obama kecil,” kata walikota, dan lucu

 

berhala ditaruh di tengah kota

“agar jadi inspirasi bagi anak-anak kita,” kata walikota

 

berhala itu berkata

“the future belongs to those who believe in the power of their dreams.”

 

dan ron muellers bilang,

“obama sering bermain di sini, dulu

dan sekarang dia jadi pemimpin dunia.”

orang-orang percaya

presiden amerika itu dibaptis jadi pemimpin dunia

seperti mereka percaya pada makanan siap saji

mereka menari dan menyanyi

di depan berhala kecil

semacam menyambut bintang film amerika

 

di oslo, berhala itu mendapat nobel

tapi oslo harus mengeluarkan 16 juta dolar

untuk mengamankan berhala itu

artinya lebih dari 10 kali lipat

nilai hadiah sebuah nobel perdamaian

keluar dari kocek panitia

 

mei-britt gundersen, warga oslo

merasa heran dan berpikir

“apakah sedang ada seorang teroris

sehingga perlu pengamanan seketat ini.”

 

sepulang membawa nobel

obama akan mengirim lebih dari 30.000 pasukan

ke afghanistan

 

untuk apa?

untuk membunuh manusia?

inikah arti pemimpin dunia?
inikah arti nobel perdamaian?

 

bencana apa yang kau ciptakan di timur tengah?

 

berhala obama kecil hanya nyengir di jakarta

 

Citayam, 13 Desember 2009

Asep Sambodja

 

 

 

Sepatu buat Bush

 

dua juta rakyat Irak yang mati

kini menjelma sepatu

yang ingin mencium mukamu, Bush

 

kau menolak ciuman itu

kau memalingkan wajahmu, Bush

karena yang ingin menciummu

hanyalah sepatu

hanya sepatu!

 

apa yang berharga pada wajahmu, Bush?

hingga sepatu demikian bernafsu

untuk menciummu

dan mungkin menidurkanmu

selama-lamanya

 

apa yang berharga dari kekuasaanmu, Bush?

kalau pada akhirnya

kado yang terbaik untukmu hanyalah sepatu

yang akan melekat di wajahmu

di wajahmu!

 

dua juta rakyat Irak yang mati

oleh pasukan yang kau kerahkan ke ladang minyak itu

kini menjelma sepatu

yang meruntuhkan harga dirimu

sebagai seorang laki-laki.

 

Citayam, 2009

Asep Sambodja

 

 

 

Misalkan Kita di Gaza

 

kematian adalah kawan yang paling menenangkan
di luar itu, wajah-wajah yang mirip drakula
ehud olmert
ehud barak
tzipi livni
bertaring dan beracun

27 desember 2008
satu demi satu bom mereka jatuhkan
satu demi satu orang palestina mati
1.203 orang palestina mati
5.200 orang palestina terluka
jutaan manusia tak sanggup lagi
menyaksikan perkosaan
yang dilakukan israel
terhadap palestina
di depan mata
secara nyata
dan membabi buta

menjelang pelantikan obama,
israel umumkan genjatan senjata
sementara resolusi pbb tak pernah dianggap
tak pernah dihirau

kembang api di malam hari
itu fosfor putih, sayang
yang membakar dan menguliti kulitmu
permainan ini terlalu serius
dan di luar batas kemanusiaan

misalkan kita di gaza
sulit bagiku makan di restoran amerika
yang tak menganggap orang-orang palestina
sebagai manusia

Citayam, 18 Januari 2009
Asep Sambodja

 

 

 

 

 

 

Pidato Rendra saat Menerima Achmad Bakrie Award 2006

 

“Manjing ing kahanan

nggayuh karsaning Hyang Widhi

masuk dalam kontekstualitas

meraih kehendak Allah”

 

dengan rasa hormat

dan perasaan yang tulus

saya ucapkan terima kasih

kepada Freedom Institute

dan Keluarga Bakrie

yang dengan khidmat

meneruskan cita-cita dan laku kebajikan

almarhum Achmad Bakrie

 

“masuk dalam kontekstualitas itu

bekalnya rewes, kepedulian

dan sih katresnan, cinta kasih”

 

saya juga ucapkan simpati yang dalam

kepada Keluarga Bakrie

yang terlanda musibah

terseret dalam kemelut

yang diciptakan PT Lapindo Brantas

yang telah melakukan kesalahan fatal

dalam eksplorasi yang mengakibatkan banjir lumpur

di Jawa Timur

 

“ananingsung marganira

ananira marganingsung

aku ada karena kamu

kamu ada karena aku”

 

tiga desa telah tenggelam

dan tak bisa dihuni lagi

lima belas pabrik yang mempekerjakan 1.736 karyawan

terpaksa tutup

dan menimbulkan masalah sosial ekonomi

delta Sungai Brantas yang subur

yang proses pembentukannya berabad-abad

melebihi usia peradaban manusia

hancur tertimbun lumpur

untuk selama-lamanya

 

saya yakin

Keluarga Bakrie tidak akan berpangku tangan

dan pasti akan mengerahkan

segenap usaha untuk bertanggung jawab

atas kecerobohan pekerja

dan orang-orang di PT Lapindo Brantas

 

 

Citayam, 26 Oktober 2009

Asep Sambodja

 

 

 

Setelah Lumpur Lapindo Menggenangi Semuanya

 

 

setelah lumpur lapindo menggenangi semuanya

aku mencari rumah lagi

seperti keong yang mencari rumah

 

setelah lumpur lapindo menggenangi semuanya

aku mencari kerja lagi

seperti semut yang mencari kerja

 

setelah lumpur lapindo menggenangi semuanya

aku mencari keadilan lagi

seperti merpati yang mencari keadilan

 

tapi penggede-penggede itu tetap berpesta

bermiliar-miliar rupiahnya

seperti cacing-cacing yang berpesta

di atas bangkai korban lumpur lapindo

 

 

Kebagusan City, 28 Mei 2010

Asep Sambodja

 

 

 

Apa yang Kau Lihat, Pak Gubernur?

 

 

ketika kau anugerahkan

zero accident award

pada PT Lapindo Brantas

apa yang kau lihat, Pak Gubernur?

 

karyawan lapindo yang selamat

atau rakyat sidoarjo yang sekarat?

 

atau uang?

 

 

Kebagusan City, 28 Mei 2010

Asep Sambodja

 

 

 

 

In Memoriam: Gus Dur

 

 

di ujung 2009

kau dijemputNya, Gus

hujan di luar gerimis

hujan di dalam menangis

mengiringi kepergianmu

 

semua tertunduk

dan berdoa untukmu, Gus

untuk tempat terbaik

dan mulia di sisiNya

 

rakyat sungguh mencintaimu

dan menyayangimu, Gus

kau telah memberi contoh terbaik

bagaimana selesaikan tragedi 65

bagaimana selesaikan konflik israel

 

“gitu aja kok repot.”

 

tapi di ujung 2009

kau pergi

ketika rakyat belum sempat melihat fajar

menyinari negeri ini

 

selamat jalan, Gus

doa kami selalu untukmu

 

 

Citayam, 30 Desember 2009

Asep Sambodja

 

 

 

Kepada Suwarimah Suhud

 

bu, kenapa ibu bunuh diri

di penjara lamongan?

 

aku hanya bisa membaca riwayat ibu

dari sebuah foto tua:

seorang perempuan tangguh

dan berhati baja

 

yang tak ingin disentuh

lelakilelaki begundal-amoral

saat interogasi dilakukan

dalam penjara orde baru

 

1967

kau pergi, ibu

saat aku turun ke bumi

 

semoga di surga

tak ada interogasi seperti itu lagi, bu

 

 

Citayam, 26 Desember 2009

Asep Sambodja

 

* Suwarimah Suhud adalah Ketua Gerakan Wanita Indonesia, Jawa Timur. Pada 1967 ia bunuh diri di Penjara Lamongan, Jawa Timur.

** Terinspirasi dari buku Perempuan, Kebenaran, dan Penjara: Kisah Nyata Wanita Dipenjara 20 Tahun karena Tuduhan Makar dan Subversi karya Sulami (1999). Sulami adalah Wakil Sekjen II DPP Gerakan Wanita Indonesia.

 

 

 

Sudjijem, 20/6/1965

 

di hutan situkup

desa dempes, kaliwiro, wonosobo

ditemukan sebuah nama: sudjijem

dan sebuah tanda

cincin kawin bertarikh 20 juni 1965

yang melingkar pada jari manis

seorang—ah, bukan, seonggok kerangka

tidak kurang sembilan bulan lamanya

sejak janur kuning melengkung

dengan tempurung kepala berlubang

bekas didor tentara

tepatnya diberondong pelor tentara

bersama kawan-kawannya

 

sejarah hendak dibenamkan

dalam kuburan massal

di hutan situkup

desa dempes, kaliwiro

wonosobo

 

penduduk desa yang mendengar

peluru-peluru yang dimuntahkan aparat

hanya mendapat sepotong informasi

khas orde baru

“tentara sedang menembaki monyet-monyet”

dan mereka sangat percaya dengan penuh ketakutan

 

mereka boleh saja berdusta

tapi selalu saja ada nama

dan tanda

yang membuka aib kebiadaban mereka

 

detik berjalan ke angka 2000

di hutan situkup

di bawah pohon kelapa

sebuah sejarah tengah dibongkar

 

aku sudjijem

kebiadabanmu terekam dengan baik

di batok kepala suamiku

yang bolong

oleh peluru sialmu

 

 

Ungaran, 28 November 2009

Asep Sambodja

 

*) terinspirasi dari film Mass Grave karya sutradara Lexy Junior Rambadetta.

 

 

 

 

 

Kepada Koin

 

menegakkan hukum

ternyata butuh biaya

beratus-ratus juta

 

mencari keadilan

ternyata melelahkan

dan perlu uang

beratus-ratus juta

 

tapi rakyat sudah melek hukum

tanpa ketukan palu hakim

mereka sudah tahu

siapa yang benar

siapa yang butuh uang

beratus-ratus juta

 

“okelah kalau begitu”

kata warteg boys

dan rakyat tahu

dewi keadilan sudah tak tahu malu

ia tak hanya menggenggam pedang

tapi sudah tahu uang

beratus-ratus juta

 

koin-koin dikumpulkan

uang recehan dihimpun

orang-orang kecil

yang sering ditelikung pengadilan korup

bah!

 

kini beratus-ratus juta

uang recehan itu siap dilemparkan

ke muka hakim

 

 

Argo Lawu, Yogya-Jakarta, 10 Desember 2009

Asep Sambodja

 

 

Kepada Kakao, Semangka, Jagung, dan Kapuk Randu

 

aku cuma seorang anjing

bukan hakim

dan hukum harus ditegakkan

 

kepada kakao, semangka, jagung, dan kapuk randu

kuvonis penjara

bagi yang iseng mengutil

meski sudah nenek-nenek

karena barangkali aku sekadar anjing

yang bukan hakim

yang ingin menegakkan hukum

seadil-adilnya

 

tapi karena aku hanyalah anjing

dan bukan hakim

aku tak bisa

memvonis para koruptor

karena koruptor-koruptor itu telah menyumpal

mulutku dengan uang

dan mereka pun merantai leherku

dengan uang

karena aku hanyalah anjing

yang keleleran

 

Argo Lawu, Yogya-Jakarta, 10 Desember 2009

Asep Sambodja

 

 

 

 

Hikayat Pentungan

 

“Ceritakan padaku apa arti duka wong cilik?” tanya Seno pada sang penyair.

 

Lalu penyair bercerita,

pada mulanya adalah pentungan

yang bergerak semena-mena

 

pentungan itu melayang sendiri

tanpa diketahui siapa yang menggerakkannya

pentungan itu memukuli kepala-kepala kami

memecahkan kaca jendela rumah idaman kami

merobohkan istana kami

–kalian menyebutnya gubuk–

 

pentungan itu mengangkut gerobak kami

yang sejatinya adalah nyawa kami

dan menendang-nendang dagangan kami

yang sejatinya adalah napas kami

 

kami tak takut pada pentungan itu

hingga pentungan menggelindingkan traktor

yang melindas dinding-dinding rumah kami

meratakan denyut napas kami, tempat tidur kami

 

pentungan itu tertawa sendiri

tertawa terbahak-bahak keras sekali

melotot kesana-kemari

memamerkan seragam beracun

 

sepertinya pentungan itu hanya berani pada wong cilik

tapi tak punya nyali pada para tikus

yang menggerogoti uang rakyat

tikus-tikus got yang menguasai kantor-kantor pemerintah

pentungan itu jayus pada tikus

 

pentungan itu

akhirnya kepentung

pentungannya sendiri

ketika orang-orang tertindas

tak ingin makam mbah priok dilindas pentungan

 

 

Citayam, 16 April 2010

Asep Sambodja

 

 

 

Puisi 24 Karat buat Yuni

 

 

selamat ulang tahun istriku

cinta tulusmu telah menghidupkanku kembali

dari kematian yang panjang

 

mungkin aku sudah bukan aku yang dulu

karena dalam diriku telah mengalir 14 kantung darah

dari 14 manusia mulia di muka bumi ini

kau bilang aku seperti drakula

dan ada 15 kepribadian dalam diriku

aku setuju

meski aku tetap cinta padamu

 

di kafe pinggir danau yang sepi

kau dengar apa yang kukatakan pada guru

yang sangat kucintai

bahwa aku serupa manusia multikultural

seperti yang sering ia ajarkan padaku

 

hari-hari dalam hidup baruku ini

kuingin selalu bersamamu

apakah arti kekuasaan

tanpa kau di sampingku

apakah arti kejayaan

tanpa kau di sampingku

 

hidupku yang paling berarti

adalah senyummu yang melekati hatiku

setiap saat

setiap tarikan napas

setiap kau menyanyi lagu cinta yang kau suka

 

selamat ulang tahun istriku…

 

Citayam, 16 April 2010

Asep Sambodja

 

 

 

 

 

Doa Kami buat Bunda

 

pada mulanya adalah waktu

jam dinding, penanggalan, dan ibu

yang terbujur kaku

 

masih kulihat senyum dan ikhlasmu

meninggalkan kami

 

tapi masih kurasai kasih

dan kesabaranmu

yang baluri jiwa-jiwa kami

 

saatnya kini kami hangati tidur panjangmu

dengan doa-doa dan ayat-ayat suci

agar kau tak merasa sepi sendiri

 

ibu, sudah banyak yang kau beri

dan kau tak harap kembali

ada satu waktu kita kan bertemu lagi

dan cukup bagiku pernah lahir dari rahimmu

dan senang bisa mencintaimu

 

ibu, aku ingin berdoa seperti yang pernah

kau ajarkan dulu:

“Tuhan, sayangilah ibu dan bapakku

sebagaimana mereka menyayangiku”

 

amin.

 

Ungaran, 7 Mei 2010

Asep Sambodja

 

 

 

 

Kepada Nari Asmiati

 

 

ingin kutulis sebuah surat

buat seorang malaikat

yang dengan sayapnya terbang kian kemari

melintasi pulau-pulau dan samudera

 

ingin kukatakan padanya

betapa aku bahagia

entah mengapa

yang pasti karena sayap malaikat

yang mendekap segala haru

 

ingin kuingat kata-kata sakti

seorang dewa yang baru turun ke bumi

indonesia

“nari, cintaku berdarah-darah padamu.”

 

 

Kebagusan City, 16 Mei 2010

Asep Sambodja

 

 

 

 

 

 

 

 

Ia Menulis Puisi Sedih

 

 

ia merasa sebagai laki-laki paling malang sedunia

ia menulis puisi cinta

antara ibunya dengan laki-laki entah siapa

 

ia merasa sangat peduli dengan adik-adiknya

yang tertidur dengan tenang

di bawah batu-batu nisan

di taman makam bukan pahlawan

 

hanya ibunya yang belum ia bunuh

meski ia tahu ibunya selingkuh

 

ia merasa sebagai laki-laki paling malang di dunia

ia menulis puisi cinta

dengan darah yang mengalir dari jari-jarinya

 

tapi puisi itu tak pernah selesai ditulisnya

tak kan pernah selesai

karena sang ibu menangis

di depan jasadnya

 

 

Citayam, 22 September 2009

Asep Sambodja

 

 

 

 

Kepada Medy Loekito

 

bahwa kita akan mati itu sudah pasti

tapi siapa bersamamu menjengukku?

menjenguk rangkaku?

 

aku tahu ada nonny, anggoro, tulus…

ada endo, badri, arumdono…

tapi siapa yang bersamamu?

penyairkah?

penyihir? semacam peri?

 

bahwa kematian itu kepastian dalam hidup

malaikat pun tahu

penyair tua pun tahu

tapi apa yang kau berikan padaku

lewat belaian jemarimu itu?

lentik jarimu itu?

apa yang kau ucapkan dalam diammu?

 

ada yang kau lekatkan di keningku

saat kau sedih katakan:

“mas asep sakit, bung saut sakit…”

 

hidup seperti sebuah puisi

yang harus segera diselesaikan

 

 

Citayam, 26 Oktober 2009

Asep Sambodja

 

 

 

 

Kepada Novi Diah

 

telah kuarungi filsafat pemberontakan

tentang hidup yang absurd

tentang cinta yang nonsens

dan yang ketemukan adalah empu gandring

yang mengelus-elus kerisnya

untuk menjemput maut dengan segala sumpah-serapah

yang tak menambah kesaktiannya

 

aku bertemu madame bovary

yang bimbang antara cinta dan birahi

ia menyesali perkawinannya dengan seorang dokter

yang tak bergairah di ranjang

dingin

dan ia lari pada pelukan tuan tanah la huchette

dan hanyut dalam pelukan seorang juru tulis rouen

ia mendapatkan hangatnya birahi

luapan nafsu yang memuncak dan tak tertahankan

tapi ia tak dapati cinta

hanya gairah

hanya birahi

yang tak habis-habis

hingga ia memilih menenggak arsenik bikinan homais

agar tak merepotkan suaminya yang baik hati

yang baik hati!

 

di sebuah kitab cinta kaum sufi

terpatri kata-kata suci

bahwa cinta yang kau berikan

adalah untukmu sendiri

cinta yang kau berikan padanya

adalah untukmu sendiri

meski ia tak acuhkan cintamu

ia tetap milikmu sendiri

tak ada yang kurang

tak ada yang hilang

 

 

Citayam, 21 Februari 2010

Asep Sambodja

 

 

 

 

Jangan Sakiti Luna

 

jangan sakiti luna

ia seperti prita

yang hanya mengkritik ketidakberesan

 

prita mengkritik rumah sakit

luna mengkritik infotainment

tapi rakyat menyayangi prita

rakyat mencintai luna

 

maka jangan sakiti luna

ia cukup menghibur rakyat kecil

walau hanya senyum di televisi

daripada menonton pejabat-pejabat korup

yang bicara berbusa-busa

menutupi kebohongan dengan kebohongan lain

 

lebih baik menonton luna

daripada menonton gosip

yang presenternya aduh lucu sekali

berkerudung di bulan suci

tapi di bulan tak suci

payudaranya senantiasa berjuang

demi kemerdekaan abadi

 

pring reketeg gunung gamping ambrol

susu menteg-menteg bokong gede megal-megol…

 

Citayam, Natal 25 Desember 2009

Asep Sambodja

 

 

 

Seandainya Saya Luna Maya

 

barangkali aku akan mati berdiri

kalau setiap hari

pertanyaan yang kudengar hanya ini:

kapan kawin?

 

ah, pertanyaan-pertanyaan yang itu-itu saja

tak pernah berkembang

tak pernah bermutu

dari dulu hingga nanti

pertanyaannya melulu kawin, kawin, kawin…

kalau sudah kawin:

selingkuhkah?

kapan cerai?

ah!

 

tak ada berita

 

dan aku hanya jadi barang dagangan

bagi gosipers dan paparazi

yang haus urusan orang lain

 

 

Citayam, 18 Desember 2009

Asep Sambodja

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *