Puisi puisi Dimas Arika Mihardja

DOA ADAM SAAT PENCIPTAAN ALAM SEMESTA MAKNA

ya, Allah hanya satu
yang kasih-Nya tak pilih kasih
yang sayang-Nya tidak terbilang

damba dan pintaku hanya satu, berilah dam
penampung air kehidupan, mengaliri sawah-sawah gelisah
pada musim kemarau panjang, saat jiwa kami menggelinjang
hendaklah kami jangan tersesat di hutan penuh binatang berbisa
atau makhluk bertanduk, tundukkanlah syahwat kami yang muncrat
jadikan segala isyarat di sepanjang perjalanan meraih kemanusiaan kami

limpahkanlah sedikit air saja, alir kesadaran
untuk selalu mengingat jalan pulang
lorong kehidupan menuju keabadian

Allah, ya Allah
lembah dan ngarai
laut dan sungai-sungai
padang pasir dan pantai-paantai landai
jadikan sajadah yang terbentang dari ayunan
hingga buaian, jadikan reranting dan pohon menjadi pena
dan air segala air menjadi tinta
akan kurisalahkan arah langkah menuju tujuan pasti:
mengetuk pintu waktu pada masa yang telah dijanjikan

bpsm, juni 2012

 

DI TEPI DANAU MENIKMATI BIANGLALA BERSAMA HERU EMKA

[Di Tepi Danau]

terasa benar kesejukan senyummu, emka

kau duduk di sebelahku mengelus kumis yang melebat

jadi hujan keharuan

sepasang angsa berenang di air yang tenang

menyisir alir yang meriak ke tepian danau

terasa kau dan aku sama merindu percik pesona

renjana jingga

bersama kita duduk

diaduk gelora mencinta:

[Menikmati Bianglala]

caakrawala langit terasa wingit

kita saling gamit, terkadang genit

menikmati bianglala di retina mata

dan terasa alangkah nikmatnya duduk bersama

diaduk dalam secangkir kopi atau teh hangat

merah kuning jinggalah warna cinta kita

berpendar di luas cakrawala, seperti teja berkilau

dalam pendar cahaya matahari senja

alangkah tambun tubuhmu, emka

serupa puisi yang padat isi

berloncatanlah imaji dan ilusi

mewarnai garis warna pelangi

[Bersamamu Heru Emka]

lahir puisi di antara intermezo

di dunia nyata dan alam maya

semoga kita tak hanya memperbanyak mayat

namun senantiasa melayat langit dengan doa

sepenuh cinta

bengkel puisi swadaya mandiri, 2011

 

MELEPAS JULI

sampai di dermaga, ikhlas kulepas engkau pergi
melayari lautan yang menggelorakan dada karang
aku masih berdiri di atas tebing berbatu padas
tak lelah membaui asin garam dan mengusap keringat
yang leleh bersama kecupan perlahan

dengan sampan daun hijau kau menjauh
di atas riak dan ombak cintaku, mengembun dan menimbun
lalu berubah menjadi jarumjarum alit, menusuki segenap pori
dan sendi: pergilah juli biarkan aku tetap berdiri di pinggir perigi
melepasmu pergi

aku akan kembali memasuki beranda rumah cinta
bersama yessika; dalam rengkuhan hangat keluarga
aku akan kembali menyusuri jalan sunyi
menulis puisi: abadi mendekap cinta ini

: selamat jalan juli, kembalilah pulang
dalam erang tertahan

bengkel puisi swadaya mandiri, 31 juli 2011

 

DI BUKU HARIAN

selalu saja kauselipkan pembatas halaman
setelah menuliskan bahasa airmata
mencaricari seteguk cuka
selalu saja kautandai sebagai alamat tamat
2011 

KAU MENCIUM

begitulah, tak pernah lelah
memasuki taman bunga
memilah kelopakkelopak
memilih warna mengorak
~ adakah aroma-Nya terkulum?

2011

NISAN

kutandai namaku pasti
di batu nisan ini
abadilah sebagai pualam

2011

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *