Puisi-Puisi Dody Kristanto

Madara

sepotong mukim luka
lingkar cuaca mengertap
memendam nanar bulan
paling mawar
aku pandang wajahmu
sebalik kembang
sekilas tembang
sayap– sayup mengumandang
antara tawar dan tawan
ingatan : yang mengancam
di kitaran pertemuan kita

2009

 

Diam nan Bulan

 

aku jalani

perjalanan mawar

di ingatanmu

kotakota begitu jatuh

pada diam

paling bulan

aku sembunyikan

hujan

pertanda segenap kapal

menenggak perlambang

lalu tatapan

digemakan, perlahan

liukan gelap

menjelma

lagu bagi luka

segera,

kuhentikan detak jam

semua laju pecah

sayang,

terus terbakar

di lukisan tahun

yang belukar

sebab

mengutuki kesementaraan

tangantangan kenangan

kian gaung

di bawah bulan

 

2009

 

Menyangsikan Kota Utara

 

Tibatiba

bumi

jadi asing

hujan

menumbuhkan

nyeri yang dingin

serupa tangan

tangan mengambang

semua memandang

menjulur

ke luas lapang

cuaca

aku bangkitkan

dendam

bagi musim

nyanyian serangga

segala lagu

kian kering

sayang

dedaun jatuh

sungaisungai

memahat

kupu yang luruh

bagai kota

ingatan

terus runtuh

menjelma perusuh

pada getas

pohon

menjelang subuh

 

2009

 

Musim Kaguya

 

kelak kita bersama merangkum setubuh, musim keruh,

kotakota rawan nan tergelar di kesintalan tubuh para perusuh

 

dan kupukupu, tak harus kita artikan, selain dalamnya

kedalaman gelombang rambut – rambut para mambang

di mana kerap kita impikan, bagaimana sepasang lengan kita

berubah tualang, untuk kemulusan dan jejak nun panjang

 

melebihi patahan sayang, kita dendamkan hujan dari dendang

kaum pejalan paling bohemian

 

2009

 

Musim Hujan Tumbuh

musim hujan tumbuh
di atas kepalamu
bintangbintang hilang

dan luka

kehendak daun lanjut usia
gugur
jatuh pada kerekahan
tanah resah
segera, mimpi akan berakhir
bagai bulan sabit mengawang
sepanjang gigil musim
sungaisungai akan terbelah
melayari duka yang tumbuh
dari setiap ayunan gerimis
yang menisik helai rambutmu

2009

Puan Bintang

 

aih, lagu tak malam, kotakota pindah dalam kamar,

Puan, aku nyanyi ratusan rekuim pembebasan,

perlambang segenap hujan mengaliri sungai bimbang,

juga musim mulai rebah, jatuh untuk kebulatan dadamu

yang minta ngambang

 

2009

 

Sepasang Simponi Merah

 

-1

tiba-tiba kata rindu pada cemasnya, ia cari bimbangnya

perlambang rumah kita mulai dibakar. lalu bagai kaum kalah

kita dibaringkan. hingga kita rasakan seratus mayat burung

hilang, cemas, habis darah bagi tiap bulan paling tualang

 

-2

musim penghabisan sayang, beratus prosa penaklukan dilantunkan

bagi tatap yang mencipta luka, bukan dari malam,

maka ingatan tentang lagu pembantaian bersinyalang

menyesapi patahan bayang rembulan yang lesatkan arwah,

berlepasan

 

2009

 

Lalu di Kota Pesakitan

 

lalu di kota pesakitan

ingatan untuk nama hilang

tangantangan gaib mengawang

di udara

tapi derita siapa

menghitung perlahan jalanjalan

yang dibakar kemalangan

 

2009

 

Variasi atas Kota Imaji

 

menjelma sungai sayang, kotakota pahatan

memindah bulan ke dalam hujan

 

kembali kita memberati sunyi

malam benih, musim beralih, dingin kabur lagi

 

ingatan kita mendadak pucat, mengamini

burung buangan yang berakhir daun gamang

 

lalu bagai pesakitan, kita mengarak jalan

mengungsikan pikiran kita yang terperam

napas mawar

 

2009

 

Halusinasi Dheny

 

Dheny membangun rumah di bulan?

 

aku ingin sajak lepas dari rangkanya

berubah sekawanan kenang,

memindah kenang yang memucat di ketinggian

 

seupama sajakmu biru, aku memandang kotakota

pindah dan membayangkan kengeriannya

akuilah, kita sama terlepas dan cuaca

mau hujan atas diamnya

 

dedaun sama kesakitan, pohonpohon meragukan

sebagaian igauan, lalu serupa, kunangkunang hambar

dalam tatap kita urung mengimajikan seorang bocah :

bocah yang gagal kau tebang pada sebuah tembang

 

Dheny, malam ini rumah tengah menggantung bulannya!

 

2009

 

Trash *

  • Imajinasi untuk lagu Suede

 

dan lagi, kita kerkah pada dingin yang sementara

aku mengira, luka sudah membangun sendiri kotanya

bulan mengingkari hujan, lantas mimpi berubah panjang

rumahrumah nan diam, imaji untuk persetubuhan membuat angin

meraibkan napasnya, serupa kugambar lingkar putingmu,

tilas dan lepas

 

2009

 

Kami Dibangkitkan dari Cemas yang Sama

  • Ala Terrance Hayes

 

dengan waktu yang sekejap patah, mata kami mencipta

sendiri bangkainya. Penglihatan untuk musim senyap

memindah kampungkampung ke dalam kamar. Mulailah,

mulailah kami panggili tilas paling samar, ada camar mengambang

kehilangan mayatmayatnya, lalu palang jatuh, nan kabur. Tatapan

atas sebuah perkabungan membuat pucat dan dingin segenap jam.

Sebab bangkitlah, kami dibangkitkan dari cemas yang sama

 

2009

 

Gladak Grobogan

 

tidak ada pepohon beratus jam

tidak ada. kapalkapal harapan

telah dikaramkan,

kotakota kenang ingin disuramkan

seseram mimpi perempuan

minta penaklukan, begitu kudus

nan disakralkan

lalu bagai gelombang, selalu tanpa nama

gebalau segenap risau

membentangkan angin

keinginan kotakota direndam hujan,

selalu alpa rintihan. tapi kotakota bukan jam,

bukan kapal, bukan harapan, bukan gelombang

yang mengantar keisengan

kanak ke lembah pekuburan

 

2009

 

Rekuim Puan Kalap

 

Semula kita reka kotakota dari pengarak Puan. Para pengarak. Lalu seteguk kuak tuak nan sengak, nan sesak, pada setapak jalan, pada leher panjang nan gagal ditetak. Ditetak ribuan gagak puan, gagakgagak derita dengan tatapan melebihi bau pengarak. Dinding dalam kamar hilang. Bunyi jam paling ledak. Para pengarak hitam Puan, sekelompok pengidung yang tenggelam dalam gambar katedral. Katedral kematian para peminta hujan, di mana kotakota menghilangkan tubuhnya serupa gerimis, alpa dan gasal bagi segenap setubuhan Puan.

 

2010

 

Doa Orang yang Maut

 

Kiranya, kami tujah musim hati patah, bagi lilin atau tubuh tanah yang ditumbuhi segenap darah. Aih puan, segera kau bertelanjang, seperti nama mawar yang mau genang, mau terjang dari kami punya ingatan

 

2010

 

Syair yang Ditumpas Malam

  • merayakan Black Marianya Kevin Young

 

Sepanjang kegelapan rambutmu

kami tanami darah di dasar kabut.

 

Mimpi dan kematian paling dingin

melepas segala kereta

ke penjuru kedalaman.

 

Segeralah berlari sayangku. Kotakota konyol

dalam mimpi selalu minta hujannya.

 

Hanya lelaki, hanya lelaki yang kirim

kekelamannya bersegera : menudung tatapan

dan menggambar kotakota dalam teriakan.

 

Tapi kotakota hanyalah rembulan tidur

dan beratus spora mengirimkan pelamunnya.

 

Untuk ingatan hitam atau rumput

yang lebih kering dari luka.

 

2010

 

Gladak Kembar

 

Kota kematian, hujan melanturkan dirinya

entah akan ke mana. Para hantu jalan berjalan,

perlahan, menjelma kota baru bagi tubuhnya

 

: segera kami bertelanjang ke atas, ratusan bulan

di udara menandak puisi kelahirannya.

 

Kunang pucat pasi menggelar geram tarian

untuk kota baru-kotakota ingin bayang jasadnya

lepas dan telanjang

 

2010

 

Mula Sajak

–membaca Kriapur

 

Sungguh, aku mulakan pertobatan dari kepalamu, ketika aku hanya tatap bulan patah, bulan dan patahan. Sedang para patahan hanya tempat semenjana para pengarak menumbuhkan sajaksajak nan rusak tepi kota. Tapi sungguh, kau begitu terlalu, sementara rambut para kanak minta diberi warna, serupa kotakota dikepung para pengarak, para pengarak yang bangkit dari kematian sajaksajakmu.

 

2010

 

Syair Black Hole

 

Merih maut seribu cinta sayang. Kapalkapal berciutan di dadamu. Diam, diamdiamlah sayang. Ada bulan dibakar di bawah ranjang. Tatapan suram kanak meruntuhkan kebimbangan. Aku saksikan sekelumit pembaptis memindahkan kamar. Hanya sekelumit sayang, lantas katedral melahirkan tubuh ringkihnya di pinggir jalan. Kebangkitanku jelas magis. Mengunggahi sungai, menunggaki badai. Ratusan kematian ingin didiami, dirabai jantung sendiri. Sungguh, malam sudah unggah sebegundal hujan. Hanya mengunggah. Hanya mengunggah sebegundal sayang.

 

2010

 

Syair bagi Pelamun yang Ditalak Bulan

 

*

Sebab engkau pun tak setia, sungguh merayu yang tak ada. Lantas wajah engkau terungsi, sembunyi, lari di antara kenduri deduri. Oh, penggamit malammalam kami, penyumpah yang percaya maut sendiri, sudah kami kirim sekalian kabar, pada engkau, tualang nan sesat, nan bangsat, nan berkhidmat serupa sekalian kami yang simpan segala bulan dan laknat. Kami sungguh lenguhkan engkau dari adzan, sekelupas kulit hujan. Oh, hujan sekawanan mambang, hujan tua yang sebut nama kota dari mulut bajingan. Kiranya sungguh, sungguh segala duka juga renta kami panggungkan pada engkau punya gendam. Sebab sudah, kotakota di mulut kami terus jauh, terus saja melaju, melebihi engkau simpan semua kenang di pelataran palang. Sungguh, untuk sekalian kami seluruh perjalanan hanya sekarat, hanya mengulang nama kampung nan melarat.

 

**

Kami singgahi sebuah lambang, jalan sekarat, lamatlamat, lantas segala gerimis akan tercekat, tersekat. Dan malam kami ke sekian burat, melayari bukit tersayat. Wahai, engkaulah mata, segenap kota dan tubuh renta berlintasan, bergayutan, melebihi para pengkotbah, para perajah yang menunggu bulan tumbang di katedral. Segeralah pulang, wahai Puan. Kami lewati selintas luka, sejumput maut, di mana arwaharwah ingatan menembusi kami punya tembang.

 

***

Kesepian kami bercampur tanah, nanah, juga darah. Tempat keindahan engkau terpasung, tersabung : kengerian nan gagal merupa wajah kota. Serupa pula kami masuki sebuah tidur, tidur, dan hanya tidur. Sekumpulan sungai nun kabur, berserapah, segagah rupa kami renta. Oh, engkau, langit turun dalam darah, sudah kami lebamkan segala ingatan, segala tabrakan untuk tubuh yang kami maknai dari sekelumit sajak nan haram, nan najis, senajis sepasukan pagan mendugang sebilah pedang tajam. Sungguh, kami hanya kenangan, kenang untuk bulan yang senandung, yang jelma beburung. Kami dipaksa hidup bagi sebadik ombak, sebalik sajak. Engkau menukik, menanjak, segalak sebubungan gagak, tangan kami tunduk, untuk engkau, terkutuk. Sumpah, kami dikutuk serupa kanak dilarung. Mata kami tak lebih dari nanar kaum derita. Kaum penjarah.

 

2010

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *