Puisi-Puisi Heri Rahman

Sajak Nelayan

Pagi ini laut menanam beliung
Layar-layar tertangkup urung
Saatnya kami berhitung doa
Meratap sengit tiada untung

Pagi ini laut menanam beliung
Agar kami sadar betapa doa

makin terkoyak!

Hari-klt

 

Yang Datang Dan Pergi Karena Hujan

Aku datang karena hujan
Aku pergi karena hujan

Aku tak bermula tanpanya
Aku tak berakhir tanpanya

Bukan hujan pula yang menamaiku

Aku cuma merindu bau besi karat
Setelah hujan reda, ingatkan aku
Pada masa tua yang terlalu renta.

Hari-Klt

Hujan Pada Bumi Yang Gagal

 

Mendung, malu-malu berkata pada sahaya

Sebentar lagi hujan, kawan

 

Tapi sahaya… tak mendengar

Masih terlalu sibuk api berkobar

 

Hingga bersandar tubuh ini

Pada ilalang, dan mulai rebah

 

Rata dengan tanah, hingga gerimis

Mengajak mata ini menangis

 

bumi gagal pada hari ketujuh, corong-corong asap

Keringat buruh dan doa petani… hambar tak bertuan

 

 

 

Hari-KLT

 

 

 

Langit Dan Matahari Sendiri

 

aku punya langit sendiri

kusam dan berlumut, sebab hujan tak pernah henti

 

aku punya matahari sendiri

selalu bersembunyi di semak dan belantara

 

hanya dalam puisi mereka hadir

sedetik atau sedenyut nadi

 

 

hari-klaten

 

 

 

 

Pesta Pora

 

Tengkulak berpesta pora

Cukong dan juragan riang ria

Pabrik-pabrik mereka bakar

 

Ribuan buruh dirumahkan

Lalu bicara tentang kebangkrutan…

 

Aih!

Mustahil neraka ada nantinya

Jika sekarang pindah di tiap kepala!

 

 

Hari-Klaten

 

 

 

Boneka Perang

 

Mereka adalah serdadu mati

Darah yang menempelkan tanah

Anyir sebersih anyelir

 

Korban kesia-siaan

Dengan peluru bersarang

Dada mereka bergetar

 

Sebelum nafas hilang

Berbisik pelan, pada angin

Kami bukan siapa-siapa

 

Hingga binasa kami

Tetap cuma

Boneka tanpa

 

nama.

 

 

Hari-Klaten

 

 

 

 

Tulang Rusuk Yang Terjual

 

Adam tak pernah mengira

Hawa jarang bicara

 

Turunan mereka kadang bicara

Pada dinding dan menara batu

Tulang rusuk hilang ntah

Kemana

 

Para orang tua menyembunyikan

Kecantikan putrinya, lalu menjualnya

Atas nama adat istiadat

 

Pada saudagar kaya raya

Menipu nenek moyang

Empunya Firdaus

 

Adam Hawa

Melenguh cewa

 

O

o

u

u

g

h

h

h

!

 

 

Hari-klaten

 

 

 

 

Ufuk Timur

 

Peluru dan pentung kayu

Jerit dan isak tangis

Disulap jadi nobel perdamian

sayap-sayap para ningrat

 

Dan rakyat biasa

Menulis nama di telaga

Sepi yang menggugat hebat

Jaman gelap, jaman berhala

 

Semoga ada nabi

Mengibas debu siang hari

Atau kita harus berharap lagi

Menjadi bayi atau menjadi tidak

 

Sama sekali ada

Di pengharapan ini

 

 

Hari-Klaten

 

 

 

Matahari jatuh ketika wanita itu menyantap habis tubuhku

 

Dan jiwaku melayang layang

terbakar matahari di depan kaca jendela

hingga aku sadar

airmata

sudah terlalu

tua

 

 

hari

 

 

 

 

Kekasihku Mimpi Panjang

 

Selama bintang dan galaksi

Aku menyentuh hatimu

Teramat pelan

Sepertinya

Mati

 

Selama itu aku melumut

Menunggui nafasmu

Teramat panjang

Selebihnya

Nafasku

Sendiri

 

Sayang, bangunlah

Dari mimpi

panjang

Ini

 

 

Hari-depok

 

 

 

 

Adam Hawa

 

Aku siapa. Dia siapa

 

Sekarang bertanya

Esok bertanya, kita ini

Siapa?

 

Selain tanah dan debu

Tulang rusuk yang hilang

Apa lagi?

 

Kata doa

Kita mahluk sempurna

Terbuang dari firdaus

 

Pemuja lapar

Dan haus

 

Hari-jogja

 

 

 

Topeng Kayu

 

Topeng kayu yang menangis

Pelan pelan mendekatiku

Menjilati wajahku

Berkata

 

Maukah

Menjadi

Tuanku

 

Aku hanya mendesah

teramat panjang

 

h

h

h

h

h

 

e

n

t

a

h

 

Hari-Depok

 

 

Cinta Adalah

 

Cinta adalah

Halte berikutnya

Menunggu pesan

 

Maut adalah

Halte terakhir

Membaca pesan

 

Cinta adalah

Maut nyata

Mematut

Cahaya

 

Di mata

kita

 

 

Hari-Klt

 

 

 

Sunyi

 

Satu mata

Kasta kuli

Cium dahi

Negri kuli

 

Kuli menggeret kereta

Mengelucak pori-pori

Sekian perih meniti

Dahaga makin meraja

 

Cahaya kemilau milik siapa

Pergi jauh keujung lautan

Tempat matahari dan bulan

Menyobek-nyobek peta doa

 

Satu mata lainya

Simpan airmata

Sunyinya

 

S u n y i.

 

 

Hari-Klt

 

 

 

 

Semisal

 

Semisal kita hanyalah sahaya

adakah gembira berpora-pora

gading gajah retak terbelah

mata gelap melepas serapah

 

Semisal kita cuma tembikar

adanya cuma di pasar-pasar

jika murah gampang pecah

jika mahal cuma pajangan

 

Semisal senasib

kata kata

pelupa

lupa

 

 

Hari-Klt

 

 

 

 

Ladang Tebu

 

Daun daun tebu, tajam dan rapi

petani dan belalang berkelahi

berebut makan cukup satu hari

 

satu kali

mati

 

Bocah bocah menjilat empedu

pejabat mengikat kaki sendiri

tak mau beranjak dari kursi

 

Panas membara

sulit mati

dalam

dada

 

 

Hari-Klt

 

 

 

 

Luka Laut

 

Aku hanya bertanya,

tapi jawab tak pernah ada.

bagai gurun menuai badai

 

Dan aku menjadi kupu kupu

di jalan besar, linglung dan tersipu

Hingga pisau yang membelah laut

mengajak aku pulang

 

biar karang berebut

camar dan ikan kalut

matahari tersudut

 

Ooii

bawa lukaku ke laut

 

 

Hari-Klt

 

 

 

 

Nyanyi Laut

 

Aku adalah laut

kau adalah ikan

 

kita harusnya satu

hingga nelayan tiba

 

dan kita terberai

ditukar hormat

harga diri

 

industri garam

airmataku

 

 

hari-Klt

 

 

 

Musim Tuai

 

Daun padi berjatuh-jatuh

Sakit dan terluka

Menatap pedih

Petani

Meratap perih

Pada Tuhan Pengasih

Gagal panen musim tuai

 

Hari

05-jun-2010

Jombang

 

 

 

 

Lentera

 

Kita orang cuma numpang

makan, minum, berak dan kencing

sementara lentera makin pelik

lambat-lambat padam dan bosan

 

terlalu lama menyala

tanpa tanya pada angkasa

tapi kitakan cuma minum dan makan

 

apa perlu lentera nyala

lenteranyala?

 

 

Hari-Klt

 

 

 

Rasa Sakit

 

Sungai-sungai kerontang

batu-batu berdentang

 

Tak menemu rasa sakit di sana

tuan kenang meneruskan jalan

gontai menanam luka di jalan kecil

gang-gang tempat kita sering tersadar

 

Sungai-sungai menelan bintang

batu-batu berjalan pelan dan lelah

tak menemu rasa sakit di sana

jadi dia teruskan berjalan

 

Dia membuntingi sungai sungai dan melahirkan rumah rumah lapak, memasang selang selang di bibir pantai menebar cacar pada ikan ikan.

 

 

Hari-Depok

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *