Puisi-Puisi M I Firdaus

APA SAJA!

Kita cuma sepasang sunyi,
yang memagut di hitam tanpa tepi.
Tapi, masih juga enggan mengerti.
Aku tanya berkali-kali:
Kau benarnya siapa jadi?

O, mungkin.
Apa saja!
selagi ada di setiap kata,
yang digumamkan sajak cinta.
Apa saja!
Walau bayang mengikat warna,
asal kau tetap ada.

Dunia berkata: mari menari dengan mentari.
Tanpa kau, aku tak sudi.
Kau,
punya mata yang bercahya senja.
Jangan redup, jangan mati.

Bogor, 30 Agustus 2017

ELEGI KEHIDUPAN

Apa yang kita pikirkan, terkadang dunia tak setuju.
Apa yang kita korbankan, mungkin dianggap sekejap dan terkadang saja.
Dan
Mungkin juga kita tak tahu
dunia ini terbakar api, yang berkobar di setiap mata.

Hidup ini cuma buat bertahan
dari kebinasaan yang dikekalkan.
Juga hidup cuma buat berelegi
dengan kenaifan yang mengabadi.
Kandil-kandil makin pudar saja
Sonder kehidupan mulai menahan lara.

Tapi cuma satu yang perlu diucapkan:
Inilah yang dilahirkan
dari rahim kehidupan kita perlahan.

Bogor, 27 September 2017

DUKA KITA

Sang surya terbit
Ubin-ubin bergetar
Mawar layu, enggan lagi mekar.
Terlihat bocah kehausan
menyedot embun fajar
dalam matanya terlihat samudera ketakutan,
ketiadaannya masa depan.
Lantas apa yang bisa ia bayangkan?

Bertanya pada kesedihan tanah air
mengapa dunia mengemut nisan?
Tetapi jawabannya terkubur dalam argumen orang pintar.
yang ada di atas mimbar
yang ada di meja bundar
yang ada di kamera tv orang kekar
yang ada di air comberan!
Di mana kita bisa tidur? Sedangkan kebohongan itu selalu ada: dimana-mana!

Di bawah atap-atap emas
Surat-surat keluhan dibaca sambil tertawa
sambil memakan daging-daging saudara.
Berduka kita kini di sini,
ketika bayangan mengikat kita di kelam sunyi
tanpa musik klasik dan sebuah dasi.
Berduka kita kini di sini,
saat lihat bocah compang-camping
main kejaran dengan trotoar.
Berduka kita kini di sini,
melihat politik-politik negeri dianggap remeh
bagai dongeng sebelum tidur orang-orang di kardus usang.

Dalam buku-buku pelajaran
terdengar sayup-sayup kata: Apa arti tut wuri handayani?
Jika guru hanya ingin menerima gaji
bukan mengabdi!
Di jalanan, orang miskin bergelantungan
di spanduk pemilu dan visi misi.
Berduka kita kini di sini,
dianggap ilegal di negeri sendiri.

Bogor, 24 Agustus 2017

IBU PERTIWI SUDAH JARANG MANDI

Bau badanmu menyebar di darat dan laut
Bibirmu juga kering, pada langit kau memagut
Hey ibu pertiwi!
Kau sudah jarang mandi
Sampai kau berkutu yang buat gatal negeri.
Kau berdaki yang buat dekil ini negeri.
Kau jarang mandi!
Sampai jadi bau menyengat ini negeri.
Air diteguk habis tuan-tuan yang numpang
Sabun habis, tinggal busa yang meletup tiap gelombang.
Hey ibu pertiwi!
Tanah menggoda ciut hidungnya
Air membasahi langsung hilang jernihnya.
Hey ibu!
Pertiwimu hilang diambil tuan penghisap sabu.
Ibu pertiwi, kau jarang mandi!
Bogor, 20 Mei 2017

BIODATA
Nama : Mohammad Ikhsan Firdaus
Tempat, Tanggal Lahir : Bogor, 30 Oktober 2002
Sekolah : SMAN 1 MEGAMENDUNG
Umur : 15 Tahun
Tempat Tinggal : Bogor
Karya : Puisi, Haiku, Anekdot

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *