Puisi Tengsoe Tjahjono

LUPA JALAN PULANG
 
Andai lupa jalan pulang
kepada siapa mesti bertanya
sebab waktu slalu membungkusnya
demi debu

Kalender lalu kehilangan angka
sejarah mencendawan di keranda musium kota

Atau kita kumpulkan kerikil
dari benih pejalan, menghitung jumlah tikungan,
persimpangan, tanda-tanda pohon, daunan,
etalase, baliho tepi jalan

Andai lupa jalan pulang
Berdoa?

12/06/ 2009 – 14:17 

ADA YANG KUCARI
 
Ada yang kucari, tapi siapa
tapak kaki menjulur
di rerimbun tak beralur

Mungkin damai
angin mengalir pagi hari
tapi tanpa cuaca
Adakah sajak mampu menulisnya

Ada yang kucari, tapi siapa
Ada suara menggumam tengah malam
membisikkan dingin penghujan

Mungkin belati
menusuk kening waktu
memuncratkan darah rindu!

 

12/06/ 2009 -15:17

 

 

 

SIAPA YANG MENUNGGU DI TIKUNGAN

entah, aku amat mengenal matanya
tapi jangan namanya
aku tak kuasa lagi mengeja

“Bersimpuhlah” getar bibirnya
dan langit pun merapuh
di ujung abu-abu sepatu

“Mana cintamu?” mengalir deras dari pohonan
siapa tak lagi bersimpuh
rebah dalam tubuh patah

entah, aku amat mengenal suaranya
tapi jangan namanya
catetanku terbakar peristiwa

 

13/06/ 2009-10:37

 

 

KAYUTANGAN KETIKA GERIMIS

dari jauh, lonceng gereja berdentang
dalam gerimis padat, jalanan cermin air
kita membaca bayang samar

ada suara membeku dalam hati
mengerucut dalam sudut dingin
menapaki trotoar

Bioskop Merdeka mengibarkan baliho-baliho usang
debu mengeras oleh cuaca
ada Jassin kaubaca

masih dengan gerimis yang sama
restoran Oen menepi
dalam gelinjang sangsi

sungguh, hanya satu kata
luput dari mulut
rebah hingga kini

kayutangan
seperempat abad lalu!

 

16/06/2009-11:40

CATETAN ORO-ORO DOWO

seribu jejak mengapung sepanjang Oro-oro Dowo
jam kota limbung melumut di ujung
ada waktu gontai menepi
berbincang sunyi

embun berguguran selalu bersama deru angkot
setumpuk sayuran dan sekeranjang keringat
menggumpal di jok penumpang

kau pun menggigil
di kenisahmu
mendaraskan doa
untuk hari tanpa catetan

pandanglah trotoar kiri-kanan
dari lubangnya kubaca kubangan air mata
tatkala hujan tak kunjung tiris

sepanjang jalan ini
siapa mengalir bersama pagi
: suaranya masih ranum
belum terkelupas waktu….

 

16/06/2009-06:29

 

 

TERZINA ALUN-ALUN KOTA

air mancur tengah alun-alun
teratai bunga merah muda
menatap angkasa

kecipak ikan
menyisakan kecil gelombang
di piring kolam

sepasang bocah
dengan balon pada genggaman
terbang di rumputan

kursi taman
setangkup kekasih
mendulang cerita

selepas kupu-kupu
sayapnya ungu
rebah di pangkuan

selembar diari
terbuka halamannya
semalaman

 

06/06/09-18:52

 

 

TERZINA PARADOKSAL

siapa di sudut membaca sepenggal sajak
sesulut rokok
mengerjap di gelap

kau jadi asing
merebah di ruang
penuh kata-kata

“ini diskusi”
manusia dilukis
pada dinding bambu

lampu sisakan bayang
pada sempit panggung
jajaran patung-patung

matamu menyempit
menyelinap pada ketiak
menguping penyair serak

di langit-langit
terbaca keletihan
narasi belalang

ya, di ruang hazim
kau kenal matahari
tak lazim

 

17/06/09-16:23

 

 

 

 

SIANG SEPANJANG JAGUNG SUPRAPTO

daun siapa berguguran saat angin berkibar
sepasang burung mengapung
lindap terkepung

trotoar tanpa jejak
ditapaki kosong hati
matahari condong menepi

gedung-gedung tua
jajaran batu bata merah jelaga
menderai, duhai, menderai

“untuk siapa keriuhan ini?”
sebutir kerikil
mengeja derap kaki

di rindang pohonan
kau berkaca
dalam bayang

 

18/06/09-09:05

 

 

IJEN BOULEVARD

di ujung Semeru, musium membius
lewat cerita perang. Bunga mengerjap sepanjang aorta
setumpuk buku siap dibaca

rumputan membiru oleh aura palem tua
daun-daun gugur
oleh cuaca

ada yang berlari, atau menghitung jumlah batang layu
yang mengeras tanpa jiwa
siap menepi ke got kanan-kiri

tak ada rumah kita sepanjang jalan ini
jendela-jendela terbuka begitu asingnya
dan mata mereka?

tak ada bilik kita sepanjang jalan ini
betapa kecilnya
tubuh meringkuk dalam rimbun udara

maka bersandarlah keletihan
di setiap gerbang
di setiap rahasia

19/06/09-12:05

 

 

ADA YANG DIAM

Ada yang diam. Tapi siapa
hanya angin tidak kirimkan gerak
kering daun tak gugur

gelombang tanpa alir
di dermaga
perahu menjingga

Camar di laut
bergantung pada awan
sayapnya lumer mentari

Di pasir ada lukisan tertunda
sebatang rumput laut
tertanam tanpa akar

Ada yang diam. Tapi siapa
Tuhan, dalam tubuh telanjang
hamba baca senyap senja

 

 

LANSKAP

Bromo terang benderang
laut pasir
cakrawala tanpa guyur air

Seekor kuda
menopang senyum
pada kekar gigir

Sebuah jantung
menggelepar
di selangkangan

koyak oleh gelisah
mencair oleh cuaca
mengalir tanpa muara

katakan siapa berani
menatap
cahaya bumi

 

 

20/06/09-13:24

 

SUARA JAUH

tak dalam hening, angin rambatkan kata-kata

dari tempat jauh, mungkin lembah, mungkin puncak bukit
irama nocturno mawar

tak dalam hening, pipit putih mengerjapkan mata
memilin awan jadi jendela, menemukan telaga
ketika dahaga

tak dalam hening, gerimis mengusung lirik untuk sonnet
bagi hari kemarin
yang debu

menyanyilah, katamu, tapi cuma siul
yang melenggang dari bibir
dalam nada perdu

tak dalam hening, notasi-notasi itu terus mengalir
jadilah sungai
untuk muara jauh

tak dalam hening, kusiapkan telinga
juga cakrawala
untuk pesanmu

 

21/06/09-10:07

 

BYPASS MOJOKERTO MALAM HARI

jalan ini gelap melata
lampu-lampu iklan menyalak di marka
ada sisa debu mengabur di udara
tertangkap gelisah

ini kota, kamu di mana
langit mengabu, udara menawarkan resah selalu
dan waktu bergegas
menghampiri pulang

rasanya kota makin jauh di belakang
di depan teve bercerita tentang hari
bersama anak-anak dan suami
semangkuk sup cinta dan secangkir kopi

ini kotamu
bypass menyungai nadi
mengalirkan darah
nuju semesta

lampu-lampu kota
kecil mengunang
sebelum lenyap
dilahap tikungan …

 

22/06/09-11:44

 

PANTAI PANCER PACITAN

dedaun kering merapat di pasir
gugur berhari-hari sudah
tak angin selembar
menerbangkan ke pangkuan

siapa selalu menunggu
kabar dari debur ombak
bendera merah
yang berkibar di pesisir

siapa selalu menanti
isyarat purba dari pelepah kelapa
yang mengiris cakrawala
dengan jeritan

tak ada tanda-tanda
gumpalan rindu
membentuk candi di pasir

hanya jari gemetar
saat dituliskan huruf
“inikah kekal?”

23/06/09-09:25

SEBELUM TENGGELAM

Ini bukan sungaimu, sebab pusaran begitu hebatnya
Jangan kau lempar batu, lalu terjun memungutnya
tak ada cahaya dari rimbun udara

Ini bukan sungaimu, kerna begitu rapuh kakimu
Sahabatmu bukan air, jendela dalam tirai jingga
Kenakan lagi sepatu
Berlarilah

Di air sempat ia berkaca
Wajah koran tak terbaca
Hanya lipatan-lipatan usia bagai jaring nelayan
Robek dan kusam

Di air sempat ia bercermin
Senyum legam
Kata-kata tak lagi ia punya

Ini bukan sungaimu, pulanglah-pulang
Ada rumah dan beranda
halaman dan kolam ikan
“Cobalah, tulislah puisi dari sana…”

 

26/06/09-10:33

 

KEMARAU ITU AKHIRNYA TIBA

serasa baru kemarin cuaca mengirimkan hujan
kaki-kaki gerimis selintas melecuti kulit ari
belum terasa benar gigil
kini terbakar

entah dari mana nyala tiba
matahari tenggelam pada rimbun jiwa
mungkin dari mimpi yang berlebihan
atau bius kata pada aorta

“Singgahlah. Kita minum kopi berdua.”
Perbincangan pun dimulai saat senja
saat burung pulang ke sarang
udara terpulas perak

kemarau tiba, kemarau tahun-tahun silam
selalu saja bagai jendela tanpa tirai
angin tak memuntahkan geletar

kemarau tiba, hujan sisakan basah

pada jalanan
Ada mata tergulir
pada cermin di rumputan!

 

30/06/09-11:41

 

 

MOJOKERTO REMBANG SENJA

gerimis gugur
awal kemarau
kau pun bertanya
: kembang kopi terbang ke mana?

satu ketukan
jendela terbuka
kaktus tua
tanpa warna

dari jauh gapura tiba
meremang dalam kabut
wajahmu pualam cina

gigil purba
meremas aorta
rebah cahaya
di alis mata

berkatalah, berkata
bibir  terkunci
berabad-abad lama

hanya telinga mendengar
degup jantung
ayunan lonceng
pada senja

 

15/07/09-10:33

 

 

 

 

 

KETIKA KEMBALI KE KOTA KENANGAN

Ketika kembali ke kota kenangan
Di mana catatan itu disimpan
Aku ingin membacanya berdua
seperti dulu saat angin berdesir di atas kepala
dan kita berdiri di tangga

Lapangan basket, hall tua, kantin tanpa meja
masih menyisakan jejak bahkan kata-kata
yang belum sempat dicatat
(Ya, tak ingin kehilangan walau sekalimat cuma)

Tarian kupu-kupu, adonan canda
terbayang di langit dan tembok biara
ingin menyisirnya
seperti dulu disisirnya waktu

Ketika kembali ke kota kenangan
Di mana disimpan prasasti itu
ingin menghapus debunya
dengan jemari layu

dan di pohon trembesi pinggir lapangan
masih ada goresan di kulit
“tak ada waktu untuk berhenti
walau langit tergulung tirai”

sepasang mawar hitam di jendela asrama
masih terus tumbuh
walau tak lagi berbunga
21/07/09-11:51

 

SELALU SAJA ADA YANG HILANG

Apa yang kamu cari di tiap kelok jalan,

sebaran biji-bijian
ludes dicucuk kepodang

Tak ada akar, apalagi batang
Langit pun dicacar berbilang tanda silang

“Kenapa tak kamu lukis graffiti di dinding kamar?”
Ranjang hanya menyisakan bau keringat
tanpa gelinjang
Langit-langit kelabu tanpa guratan

Apa yang kamu cari?
Matamu terpelanting berkeping
di lantai, menyelidik penjuru!

 

02/07/09-11:49

 

MALAM

sepenggal puisi menggigil di antara malam dan pepohonan.

Memadat di jalan tanjakan. akulah kelopak teka-teki itu, serunya
sambil dipejamkan matanya, di antara dada dan lengan

kokoh petualang yang juga menggigil oleh embun

pernahkah kamu berpikir tentang jalan berkelok

yang remang disinari cahya bulan. Tak cuma jalan berkelok,

perempatan dan persimpangan
ialah alur sejarah yang mesti didaki
tanpa henti. Hujan – terik matahari
bebukitan, sungai membelah rumputan

lalu kita berhadapan. Dalam kabut
ruang – ranjang. Mahkota bunga yang berguguran putiknya
cat-cat warna-warni di dinding. Lembah itu
menampakkan ngilunya

ah, percakapan ini. Kata-kata itu
mengasingkan sepi ke gairah hidup yang absurd
saat bulan di langit ditumbuhi ribuan cemara
lalu kita nyanyikan nina bobo untuk
hari yang menyakitkan

sepenggal puisi tiba-tiba jadi bermakna
meski ia merasa sampah atau pecundang atau

(bisa jadi pahlawan) mengurai rahasia menjadi

serpihan sejarah baru yang paragraf demi

paragraf cuma dapat dipahami berdua.
Tentang Penyair

Tengsoe Tjahjono, penyair terkemuka Indonesia

TENGSOE TJAHJONO dilahirkan di Jember pada 3 Oktober 1958. Tenaga akademis FBS Universitas Negeri Surabaya ini banyak menulis puisi, di samping novel, cerita pendek, naskah drama, dan esei atau kritik. Novelnya yang berjudul Di Simpang Jalan pernah dimuat secara bersambung oleh Harian Surya Surabaya. Naskah dramanya yang berjudul Jalan Pencuri dan Pohon dalam Piring Tanah pernah dipentaskan oleh Teater Institut Surabaya. Tulisan-tulisannya yang berupa puisi, cerpen, dan artikel dimuat di berbagai media: Harian Surya Surabaya, Jawa Pos, Surabaya Post, Republika, Kompas, Panyebar Semangat, Jaya Baya, Horison, dan sebagainya. Buku yang sudah ditulisnya ialah: Sastra Indonesia: Pengantar Teori dan Apresiasi Puisi, Menembus Kabut Puisi, dan lain-lain.

Beberapa kali menjuarai lomba cipta puisi, antara lain: 5 Besar Lomba Cipta Puisi Nasional (Universitas Sarjana Wiyata Yogyakarta, 1983), 10 Besar Lomba Cipta Puisi (Sanggar Minum Kopi Denpasar, 1992), 10 Besar Lomba Cipta Puisi (Yayasan Selakunda Tabanan Bali, 1998).

Puisi-puisinya dimuat di beberapa buku antologi bersama dan pribadi, antara lain: Pendapa Taman Siswa Sebuah Episode (Universtas Sarjana Wiyata Yogyakarta, 1983), Fenomena (Lembaga Kesenian Indrakila Malang, 1983), Hom Pim Pa (Temperamen Bengkel Muda Malang, 1984), Mata Kalian (Temperamen Bengkel Muda Malang, 1988), Gelombang (FASS-PPIA/ Surabaya Post, 1991), Temu Penyair Surabaya (Teater Puska FISIP Unair, 1991), Kul Kul (Sanggar Minum Kopi Denpasar, 1992), Semangat Tanjung Perak (1992), Belukar Baja (JPBSI IKIP Surabaya, 1992), Festival Puisi XIV (PPIA Surabaya, 1994), Langit Kota (JPBSI IKIP Surabaya, 1994), Dialog Warung Kaki Lima (Sanggar Kalimas Surabaya, 1994), Suluk Hitam Perjalanan Hitam Di Kota Hitam (Lingkar Sastra Tanah Kapur Ngawi, 1994), Drona Gugat (1995), Sajak-sajak  Refleksi Setengah Abad Indonesia Merdeka (Taman Budaya Surakarta, 1995), Bunga Rampai Bunga Pinggiran (Parade Seni WR Soepratman, 1995), Akulah Ranting (Penerbit Dioma Malang, 1996), Malsasa 96 (DKS, 1996), Meditasi Tunas (Jendela Kafe, 1997), Ning (Sanggar Kalimas, 1998), Luka Waktu (Taman Budaya Jawa Timur,1998), Terzina Penjarah (Sanggar Kalimas, 1998), Slonding (Yayasan Selakunda Tabanan, 1998), Omongo Apa Wae (Taman Budaya Jawa Timur, 2000), Memo Putih (Komite Sastra DKJT, 2000), Penunggang Lembu Yang Ganjil (DKS, 2000), Secangkir Kopi Buat Kota Ngawi (Jurnal Budaya Lontar, 2001), Kabar Saka Bendulmrisi (PPSJS, 2001), Pertanyaan Daun (Komunitas Kata Kerja Malang, 2003), Maha Duka Aceh (Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin Jakarta), Malsasa 2009 (2010), Pesta Penyair (DKJT, 2010), dan lain-lain.

TENGSOE TJAHJONO kokoh dalam prinsipnya bahwa puisi merupakan media komunikasi. Pembaca baginya merupakan bagian tak terpisahkan dari teks puisi itu sendiri. Dia amat percaya bahwa antara semesta (jagat besar), puisi (jagat kecil), penyair sebagai pribadi yang memberi tafsir terhadap semesta dan melahirkannya ke dalam jagat kecil yang bernama puisi, sangat memerlukan kehadiran pembaca karena pembaca merupakan teks lain pula yang akan memperkaya makna puisi.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *