TERSESAT DI “SISA CIUM DI ALUN-ALUN” (2016) WENI SURYANDARI

Seno Gumira Ajidarma (2005) dalam buku ‘Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra harus Bicara’ menjelaskan [Kebenaran] dalam kesusastraann adalah sebuah perlawanan bagi historisisme sejarah yang hanya diciptakan bagi pembenaran kekuasaan. Kebenaran di dalam kesusastraan sama sekali tidak tergantung pada tanah dan karas – keduanya alat tulis Jawa Kuno – maupun computer melainkan oleh visi dalam kepala yang dengan sendirinya anti-kompromi terhadap pemalsuan sejarah. Perangkat sastra seperti kertas dan disket bisa terpendam, dilupakan, dan dimusnahkan tapi kesusatraan akan tetap hadir sebagai kebenaran dari pojok bisu mana pun karena kehidupan sastra di dalam pikiran. (hal 8) Maka suasana alun-alun dengan segala pernak-pernik kearifan budaya lokal atau lokalitas akan mewarnai kepala seorang pemulung kata-kata dalam karyanya seperti juga ‘sisa cium’ Weni Suryadari yang tampak dalam potongan dua sajak :

Karapan lebaran ketupat membius luka batin
Isak membasah beban rindu tak pernah usai
Ingatan sisa cium di alun-alun kerap melambai
(Cium di Alun-alun, hal. 29)

Orang-orang belalu-lalang dalam keramaian pesta karapan
Kulihat cemara udang di tepi laut, membungkuk takjub
……
Petis dan singkong lumer oleh waktu,
Selain deru karapan dan asap tembakau
menguar di udara, bersama suara pecut,
(Sisa Kanak-kanak, hal. 32)

Kumpulan puisi yang dijaga penulis senior Joko Pinurbo dan Ahda Imran menggetarkan jemari dan mata batin makin jauh memudiki jalur jembatan Suramadu yang menghubungkan pulau Madura dan Jawa yang menguntungkan secara ekonomis tapi meluruhkan percikan-percikan kearifan budaya semacam karapan dan sikap carok yang memitoskan keberanian budaya suku Madura.

Kubuka mataku berlayarlah padaku
Saat angin dan ombak bermain di bawah bulan
dan pepohonan tinggal menunggu bayanng-bayanng
bibirku beku, sedang lauut mengalun tennang
(Laut Kematian ha 4)

Bulan tipis ombak berbaris ritmis
Ikan-ikan melompat di riak kenangan
Ada yang basah di mataku, bayangmu
bermain begitu manis
(Laut Kenangan hal 5) – seakan dendang lagu rakyat Leo Kristi!

Pada tepi laut ombak menerjang karang
batu-batu cadas, cahaya bulan pecah
Bintang surup ditelan sepi kian kuncup
Seperti dijerat musim kematian.
Ombak Sephia hal 15)

Kepada pantai kulepas kenang yang melambai
Pasir berderai, kaki melangkah dalam titian
Anngin bersajak tentang sunyi dan kabut kematian
Tanpa nyala warna lampu taman keramaian
(Kepada Pantai hal 25)

Terasa dekapan suasana laut angin pantai pasir dan cecap garam memulai helaha nafas kata penyair yang kumuh dengan alam yang memang sejak memandang hingga menjalani petualang angan selalu menjerat kembali ritual musik yang mengundang dan memanggil pulang ke debu karapan wangi garam udara pantai dan cuaca yang selalu berbeda dengan lanskap pandanngan cakrawala perjalanan. Walau ada juga beberapa puisinya yang terusik ke dalam yang sangat personal adalah sebuah refleksi yang sungguh hanya milik makna tunggal penyairnya seperti apa yang ditanda dengan ‘sisa cium’ atau sisa kenangan kanak-kanak.
Hal yang wajar timbunan kenangan masa kanak memang menggejolak saat kesepian yang menghandang di jalan menyodorkan cermin tipu daya yang merefleksikan seakan seluloid film yang terproyeksikan di dinding yang mengungkung dengan gempita sepi puncaknya. Boleh di lacak pada sajak “Perjalanan Rindu” halaman 7, “Senja di Guci” halaman 10, “Senja di Kaliurang” halaman 11, “Rindu Bertara” halaman 23, “Momiji di Kawaguchico” halaman 37 dan “Di Venesa” halaman 38.

Benarlah prolog Jokpin dan Epilog Ahda Imran jika saya tersesat ke labirin pulang ke dalam kenangan Weni Suryandari – Berpagar jarak aku sembunyi dari kecemasan/demi kecemasan perjalanan ke masa depan …… //Seketika bulan pergi menggenapi sepi,/Sedang saronen tetap melengking di kepala/Aku dan silsilah tetap berpulang pada amanat

Dan saya ngungunn bingung mencari (senarai kata-kata lokal yang tak terkenal) jalan pintas untuk keluar dari labirin ‘sisa cium’.

Bogor 2080 bertepatan dengan 21 Novianto 2017

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *